Saya dan pengasuh transgender

Sore hari di depan rumah terlihat seorang pengasuh (berjenis kelamin Pria,tetapi bertingkah laku layaknya perempuan) dan seorang anak kecil, keduanya terlihat berbibir merah setelah memakai lipstik. Mas Manto dan saya yang waktu itu baru berusia tiga setengah tahun. Gambaran tersebut merupakan rutinitas sore kami. Duduk berdua di depan rumah dengan bibir bergincu dan kemudian bersiul tiap kali ada laki-laki yang lewat di jalanan depan rumah.

Mas Manto, seorang pria yang berasal dari Ngawi dan bertingkah laku seperti wanita. Tugasnya setiap hari adalah mengasuhku dan mengurus rumah serta memasak dan berbelanja. Ia pandai memasak, contohnya suatu ketika ia membeli seekor ayam, ia dapat menyuguhkan berbagai olahan ayam dari satu ekor ayam tersebut, jeroan ayam dipepes kemudian bagian ayam lainnya ada yang digoreng, disayur, dan dibalado atau semur. Selain itu, ia adalah orang yang hemat dan pandai mengatur uangnya. Mama sering kali diberikan uang hasil kembalian belanja harian, dikumpulkan selama seminggu kemudian diserahkan ke mama. Rumah selalu rapih dan bersih karena mas Manto sangat cekatan dan rajin.

Selama masa kecil saya, mas Manto adalah orang terdekat yang tanpa sadar telah memengaruhi kepribadian saya. Entah apa yang dulu ia tanamkan ke saya, tapi saya menjadi pribadi yang senang memasak, cukup pandai berhemat dan mengatur uang (dibanding keluarga saya), dan selalu suka kebersihan serta kerapihan. Terlebih lagi, dia merawat saya secara telaten dan menyayangi saya secara tulus. Jejak keberadaannya telah merasuk ke dalam keseharian dan pola pikir saya.

Mas Manto, mungkin jika saat ini ia masih bersama saya maka tidak akan lagi orang memandangnya aneh ketika sedang berjalan berdua dengan pacarnya yang juga seorang pria. Tidak semua orang (bahkan hingga saat ini) dapat menerima gay, tetapi pada saat itu mas Manto sudah berani untuk mengakui jati dirinya dan berpacaran dengan sesama jenis. Kadang, ia suka mengirim surat ke pacarnya yang tinggal tidak jauh dari rumah kami.

Mas Manto dan saya. Saya memandang mas Manto sebagai manusia yang baik, ramah, sopan, cekatan, rajin, pandai memasak, teman, dan guru. Entah karena waktu itu saya masih kecil sehingga belum dapat membedakan jenis kelamin atau karena saya hanya mengelompokkan manusia yg saya temui sebagai orang baik dan jahat atau orang lain dan orang terdekat, yang jelas saya menganggapnya sebagai orang baik yang mempesona karena memiliki berbagai keahlian yang menakjubkan. Saya hanya melihatnya sebagai mas Manto.

Perpisahan tak terelakkan karena pada satu ketika mas Manto diminta orang tuanya untuk pulang dan hidup di kampungnya lagi. Mas Manto berkata “saya sebenarnya belum mau pulang, bu. Saya sayaang sama Lina (nama kecil saya), tapi orang tua sudah menyuruh saya untuk pulang dan membuka usaha warung makan di sana.” Ia mengucapkannya sembari menangis ketika berpamitan kepada mama dan papa saya. Saya waktu itu belum mengerti bahwa setelah hari itu saya tidak akan bertemu lagi dengannya.

Bagi saya, manusia dipandang baik karena ia kerap menyebarkan kebaikan ke makhluk lain. Memiliki manfaat bagi orang lain, ketulusan ketika membantu orang lain, kejujuran ketika bekerja dan diberikan kepercayaan, dan rasa percaya diri untuk hidup sesuai dengan keyakinannya.

Transgender, gay, lesbian, selama saya hidup, saya pernah beberapa kali mengenal mereka. Tidak ada perbedaan dengan orang yang (dianggap) normal. Sama seperti semua manusia, tidak semuanya baik dan tidak semuanya jahat. Setiap kita memiliki pengalaman hidup yang berbeda yang membentuk diri kita saat ini. Jadi, kenalilah dulu orang lain sebelum lidah menusuk hati dan tatap menebar jijik atau benci.

Iqra, bacalah, mengertilah, pahamilah, analisislah.. Bukankah itu ayat yang pertama kali diturunkan bagi manusia?  Jangan dulu mengucap kata yang menyakitkan atau merendahkan transgender, gay, dan lesbian (atau kondisi lain yg dianggap tidak normal). Baca, mengerti, dan pahamilah mereka dahulu.

Mas Manto, saya kangen kamu. Terima kasih karena telah mengajarkan banyak hal dan membentuk saya sejak kecil. Semoga Tuhan membalas kebaikanmu berkali2 lipat. Aamiin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s