On being minority

Suatu siang berada di sebuah toko yang pengunjungnya berpenampilan berbeda dengan saya. Pertama kali menginjakkan kaki di sana,  saya berpikir “wow, where am I?”. Hmm dengan tampilan fisik rada sipit dan berkulit rada kuning serta tanpa hijab, saya merasa berbeda dan beberapa orang memang memandang saya secara berbeda.

Tidak mengharapkan semua orang bersikap jahat maupun baik, saya hanya ingin mereka bersikap biasa saja. Toh kami sama, manusia. Namun, sewajarnya manusia yang memiliki otak yang berbeda, tentu sikap tiap orang terhadap saya akan berbeda. Ada yang bersikap kaku, ada yg ramah, ada yang merasa aneh, ada yang senyum2, dan ada juga yang tidak peduli.

Menjadi minoritas, saya menyadari bahwa (terlepas dr sikap org lain kepada saya) cara saya membawa diri harus selalu saya perhatikan. Sopan, ramah, senyum harus selalu saya pertahankan. Saya harus mengabaikan penolakan atau anggapan miring thdp saya, meski hal tsb cukup mengganggu saya.

Boleh juga sesekali saya merasakan menjadi minoritas karena saya harus terus belajar menjadi manusia yang memanusiakan manusia.

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s