Romansa bule

Tertarik utk membahas ttg dunia romansa dengan bule karena membaca salah satu artikel terkait hal tsb.

Banyak sekali orang Indonesia yang menikahi bule dgn alasan yang cukup aneh, menikah dgn bule adalah hal yg keren. Sering ketemu dgn kumpulan istri2 bule yang penampilannya, maaf sekali, terlalu ingin kebulean. Pakaian yang terbuka, tetapi di tempat yang tdk tepat. Ya, mungkin gak risih ya diliatin abang2 pas lewat. Belum lagi membahas ttg pilihan model, warna, dan kesesuaian dgn btk tubuh serta warna kulit. Hhh, bikin pusing. Anyway, cara mereka membawa diri dan ekspresi wajah ketika menggandeng suami bulenya itu tampak sombong dan bangga. Well, for me, he’s just a human.

Alangkah sayang jika banyak orang berpikir bahwa bule adalah makhluk superior dan kemudian mendewakan mereka, toh mereka hanya manusia yang berbeda warna kulit, bahasa, dan kultur dgn kita. Betapa sempit pemikiran tsb, sepertinya mndapat pengaruh dr tingkat pendidikan dan lingkungannya juga.

Namun, tidak jarang juga yg memiliki hubungan dengan bule karena memang benar cinta dan menemukan sosok yang dicarinya yg selama ini tdk ditemukan pada laki2 Indonesia. Tentunya, latar budaya dan lingkungan yg berbeda membuat para bule ini berbeda dlm memperlakukan wanita dan perilaku.

Seiring perkembangan, banyak wanita yang mencari pasangan yg suportif, inspiratif, dan lembut hatinya plus menghargai wanita sebagai manusia yang memiliki hak, mimpi, keinginan utk maju dlm karier serta kehidupan, dan ingin dipahami. Sayangnya, masih banyak pria Indonesia yang belum dapat memahami dan menghargai semua itu. Kadang paham, tetapi tdk mau mendukung.

Salah satu teman dekat saya beberapa waktu lalu juga bule. Dia adalah orang yg mengajarkan saya utk selalu bertanya dan mencari. Menginspirasi saya utk memahami bahwa bukanlah hal yg mustahil utk menciptakan sesuatu yg besar meski kita mengalami pergolakan hebat dlm diri. Selalu mengingatkan saya bahwa saya adalah wanita yg memiliki kebebasan berkehendak, mampu memimpin, dan cantik. Dia membuat saya merasa penting karena selalu mendiskusikan setiap tindakan sblm ia memutuskannya.  Mampu berempati ketika saya mengalami kram haid dan membutuhkan kenyamanan serta perhatian. Dia tdk banyak mengatur saya, tetapi mengingatkan dgn cara mendiskusikan pilihan yg saya buat. Dia membebaskan saya utk bertemu atau makan malam dengan siapa pun, tetapi tetap mengirimkan pesan singkat utk mengetahui apa saja tang sedang saya lakukan tanpa sedikit pun membuat saya tdk nyaman karena merasa diinterogasi. Dia tidak banyak menuntut, tetapi banyak bertanya ttg apa yg saya mau dr seorang pria. Dia selalu ada tiap kali saya berbicara, tidak membagi perhatiannya dgn hal lain. Semua itu, tidak saya temukan secara komplit pada laki2 Indonesia yg pernah atau mencoba dekat dgn saya.

Namun, beberapa kebiasaan hidup yg bebas sempat membuat khawatir, saya pernah cemas apakah dia menemukan wanita lain di sana krn sptnya mudah saja utk berkenalan kemudian ya gitu deh. Tapi, sepertinya dia memahami kecemasan saya, jadi sebisa mungkin dia selalu memberitahu apa yg akan dikerjakan, dengan siapa saja, dan kemudian mengirimkan foto ketika sedang berkegiatan.

Sepertinya masalahnya bukan karena ras, warna kulit, warna mata, bahasa, dan tempat asal seseorang, tetapi lebih ke kepribadian dan cara berinteraksi dgn orang lain yang akan memengaruhi orang utk memilih pasangannya.

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s