Sepenggalan

Hepatic fracture, fraktur hepatika

Kadang, begitu cara kami menyebut istilah patah hati.  Entah terhadap siapa atau apa, entah patah sementara atau menetap, entah menjadi korban atau pelaku. Sebagian besar manusia pernah mengalaminya.

Tingkat keterikatan dan pengharapan berbanding lurus dengan derajat “patah”nya si hati. Menurut saya sih begitu. Semakin besar keterikatan dan harapan yang ditumpukan maka akan semakin besar pula derajat patah. 

Kebanyakan dari kita ketika telah menjatuhkan diri pada sesuatu atau seseorang, tidak menghitung derajat patah. Oleh sebab itu, tidak jarang kita terjerembab dalam kebutaan hitungan.  Bahaya, membutakan.

Ketika kita mulai jatuh, kemudian tersadar dan mulai menghitung derajat patah, tidak jarang akan menghentikan (atau mengurangi) tingkat keterikatan dan harapan. Akhirnya akan timbul upaya untuk melepaskan diri dari keterikatan atau berpikir ulang tentang segalanya terkait keterikatan dan harapan.

Perhitungan derajat patah ini amat penting demi sintasan hidup hati.  Mungkin, jika kita salah langkah, hati akan mati dan kebas.  Namun, bisa juga hati memperbarui diri dan bersiap lagi untuk melayang dan jatuh dengan perhitungan yang cermat.

Apa pun hasil akhirnya, yang terpenting adalah keterikatan dan harapan terhadap sesuatu bukanlah hal yang akan berjalan sesuai perhitungan maupun rencana kita. Di tengah jalan mungkin akan ada gelombang yang menghanyutkan atau karang yang indah yang tidak boleh terlewatkan.

Xoxo,
B

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s