Another point of view

Heum, abis baca tulisan ini https://mynameispuu.wordpress.com/2015/09/26/kapan-nyusul/ tadi..  Gaya bahasanya lucu dan kental sekali menyuratkan kejombloan beserta segala kisah pilu nan menerbitkan sunggingan cengiran.

Menyoal tentang kejombloan, sepertinya masih musim untuk merasa galau saat ini. Apa sebab? Karena banyaknya undangan pernikahan yang diterima benerapa bulan belakangan. Apakah fenomena pernikahan ini berkaitan dengan akan datangnya musim hujan?  Ah, lupakan saja teori ngawur saya tersebut.

Penulis blog tersebut, yang adalah teman saya, mengungkapkan kenelangsaannya ketika mendapat berbagai pertanyaan terkait jodoh. Mungkin dia juga sudah terpikir untuk menjalin hubungan serius untuk kemudian menikah.

Saya juga masih single, but I’m not alone. Ada keluarga, sahabat, dan  beberapa teman yang dapat mengakomodir keinginan saya untuk bercerita dan menggila. Jadi, gini, most of them who called themselves as jomblo sering merasa sedih dan iri ketika melihat pasangan yang sedang jalan bareng, atau ketika temannya bercerita tentang apa saja terkait pasangannya. Dan saya bingung, kenapa mesti sedih atau iri melihat orang lain bahagia?

Selama ini saya selalu memiliki teman untuk sekadar nonton atau nongkrong, bahkan bercerita tentang apa pun yang melintas di kepala saya. Dan saya sangat bersyukur karena Tuhan memberi saya orang2 terdekat yang saya cintai, sahabat2 saya (adik saya juga adalah sahabat saya). Saya nyaman dengan keberadaan mereka.
Mengapa harus merasa sedih? Bukankah Tuhan yang Maha Baik telah menjanjikan kita akan mendapatkan pasangan yang sesuai dengan kebutuhan kita? Masa gak percaya Tuhan siy? Namun, memang kita juga mesti berupaya sembari menanti. Bergerak karena dengan diam tidak akan ada pergerakan.

A little romance won’t hurt, jadi jangan takut juga untuk memulai kisah baru karena masih trauma dengan pengalaman yang lalu. Kita gak akan pernah tau ke mana kita akan dibawa oleh takdir.

Bertemulah dengan orang2 baru, dengan tujuan menambah teman dan wawasan. Jangan terlalu terbebani dengan pikiran untuk segera mendapat pasangan.

Sementara itu, mari menikmati hidup dan kesendirian. Toh, sebenarnya kita tidak pernah benar2 sendirian, kecuali kalo kamu anak kos yang setiap malam yo mesti sendirian di kasur yang selalu setia menanti itu. Well, setidaknya ada kasur dan bantal yang menemani.

Sekian lintasan percakapan monolog di kepala saya. Semoga kereta ini segera sampai di tempat tujuan sehingga saya bisa segera bertemu denganmu, pecel. 

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s