Bandung-Jatinangor

Memiliki kampus yang terbagi menjadi dua area yang saling berjauhan dan beda kasta, tampaknya menjadi cerita tersendiri bagi kami penikmat Bandung dan Jatinangor.

Jelas, Bandung adalah kota yang memiliki beragam pilihan kesenangan dan keriuhan, sementara Jatinangor adalah suatu daerah yang masuk kawasan Sumedang yang masih terasa aura desanya. Bayangkan saja, tiap sore ada ibu-ibu yang berjualan ubi cilembu, kacang, dan jagung rebus yang semuanya adalah hasil panennya sendiri. Masih terlihat juga sawah dan kerbau, udara di pagi hari juga tidak kalah segar dan dingin dibanding Lembang. Itu, Jatinangor di tahun 2002.

Namun, bagi mahasiswa yang berkuliah di Jatinangor, akan sangat menguntungkan jika mereka mengikuti unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang aktivitasnya terpusat di Bandung, setidaknya masih bisa mengikuti keriuhan kota.

Fakultas saya ditempatkan di Jatinangor, jadi mari membahas tentang area kecil yang tiba-tiba menjadi ramai akibat banyaknya mahasiswa yang berdiam di sana guna mengisi otaknya dengan ilmu yang (semoga) bermanfaat itu.

Jatinangor banyak menyisakan kenangan bagi mahasiswa yang sengaja berjalan melewati bagian dalam fakultas lain agar dapat bertemu gebetan yang didapat ketika menjalani kuliah kerja nyata (KKN), mahasiswa yang sering berpapasan dengan mahasiswa lain yang menarik hati ketika keluar dari kosannya dan kemudian ternyata langkah mereka searah, mahasiswa yang sering nongkrong di gerbang kampus dan ternyata sering makan makanan yang sama dengan mahasiswa lain yang kebetulan berwajah geulis ato kasep, mahasiswa yang memendam cintanya terlalu lama dan berakhir di friend zone saja, serta mahasiswa yang dekat dengan junior atau seniornya dan kemudian berakhir di pelaminan atau kesendirian.

Jatinangor menjadi tempat bertemunya sekumpulan mahasiswa yang akhirnya hingga detik ini menetapkan diri sebagai sahabat. Jatinangor memiliki beragam varian jajanan yang tentunya harganya tidak sampai menghabiskan persediaan uang bulanan yang kadang dikirim terlambat oleh orang tua. Komik dan film dapat disewa guna menghilangkan kebosanan, lumayan lah.

Kami memiliki jembatan cincin dan tanjakan cinta (entah mengapa disematkan cinta di sana. Mungkin ada yang menemukan cintanya ketika berjuang mendaki tanjakan tersebut). Jembatan cicin pada siang hari tampak memiliki nilai sejarah tersendiri serta memunculkan rasa sejuk di hati, malamnya? banyak-banyak berdoa saja jika harus banget melewatinya.

Awal bulan adalah saatnya makan di A3, tempat makan yang hanya menjual soto ayam sebagai main course, dilengkapi dengan es mangga (gelas besar yang diisi potongan mangga kotak2, air gula, dan es yang entah mengapa selalu dirindu serta dinantikan kehadirannya). Ada juga ayam bakar Ciseke yang hanya menjual ayam bakar dan tempe serta tahu, tetapi selalu diserbu. Belum lagi jajanan yang selalu saya rindukan es bubur sumsum yang porsinya bisa buat makan siang tanpa main course dan lumpiah basah AA Puloh (siapa sebenarnya AA Puloh ini? Apakah masih AA2 atau sudah Om2 atau bahkan Aki2? Masih menjadi misteri tersendiri bagi saya).

Sambil membayangkan nongkrong di gerbang kampus, menikmati memori di kampus, dan ngacai membayangkan jajanan Jatinangor, saya sudahi dulu sampai di sini.

B

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s