Hujan yang menyenangkan

Mengapa sebagian besar orang cenderung mengaitkan hujan dengan kesedihan?

Hujan membuat kita bisa bersama lebih lama, seperti sore ini. Kita membuat janji temu di sebuah tempat yang menyajikan beragam makanan kecil dan minuman. Tempat kecil yang cukup nyaman yang diisi tiga buah sofa besar beserta mejanya yang pendek dan empat buah meja yang masing-masing dikelilingi empat kursi kayu beraneka warna. Dindingnya dihiasi tempelan berupa beragam bahan makanan dan minuman yang disajikan.

Kita duduk di sebuah sofa yang cukup untuk dua orang yang berwarna cokelat, sofa yang cukup nyaman karena empuk. Kau sampai lebih dulu di tempat itu, sementara aku berlari kecil menuju pintu masuk karena melihatmu sudah menunggu di sofa itu. Kau sudah asyik dengan bukumu.

Hujan turun tepat ketika aku merebahkan diri di sofa, syukurlah. Sesaat kita saling memandang dan tersenyum, kemudian mulai asyik menikmati aroma hujan dan kesejukan yang dibawanya. Aku berharap hujan turun cukup lebat sore itu agar kita bisa bersama lebih lama.

Kau memesan lemon hangat dan fruit salad, sementara aku memesan chamomile tea dan sepotong red velvet cake. Lalu, setelah pelayan pergi, kau mulai menggodaku. Membahas tentang pesananku yang memiliki dampak yang berkebalikan. “Chamomile dapat menurunkan kadar gula darah, itu aku paham karena kamu sadar betul bahwa terdapat riwayat diabetes di keluargamu. Tapi, kenapa kamu juga memesan red velvet, mau kembali menaikkan kadar glukosa?” ujarmu. Ah, kamu selalu begitu, tapi aku juga punya jawaban sendiri, “Aku sedang kram perut, jadi boleh dong merelakskan otot-otot perutku.”

Selalu begitu, ada saja yang membuat kita melakukan perdebatan kecil. Namun, hal itulah yang aku rindukan jika tidak bertemu atau berbincang dengan kamu. Setelah perdebatan yang diakhiri dengan kamu memakan setengah red velvet yang aku pesan, kita mulai berbicara tentang hari-hari yang kita habiskan di tempat yang berbeda. Kamu bercerita tentang betapa ruwetnya berurusan dengan beberapa orang yang bekerja denganmu dan aku terus bercerita tentang tenggat waktu yang terlewat dan pekerjaan yang menanti setelah pekerjaan yang sekarang selesai. Aku yang bersemangat menceritakan tentang latihan bernyanyiku dan kamu yang bercerita tentang hobi yang baru saja mulai kamu sukai.

Setelah puas bercerita, kita terdiam dan sesekali saling menatap. Entah menatap seraya tersenyum atau mengerutkan dahi. Masing-masing sibuk dengan pikirnya sendiri, tetapi menikmati keheningan yang terjadi. Sesekali menyesap minuman dan saling menyuapi makanan yang dipesan. Hujan masih menyenandungkan irama yang indah dan menguarkan aroma yang khas.

Malam pun tiba, kita harus bergegas kembali ke nyata. Namun, tidak cemas karena kerinduan akan segera terbayar lunas esok hari ketika kita kembali berjumpa. Andai saja malam dapat kita lewati bersama. Kamu berada di sampingku, melewatkan tiap menit berdua. Mari kita kembali ke rumah masing-masing agar dapat mengistirahatkan raga yang lebih lelah dari jiwa.

referensi chamomile: http://www.carakhasiatmanfaat.com/artikel/khasiat-bunga-chamomile-bagi-kesehatan.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s