Percakapan dengan Kartini (1)

Dua sore lalu
Aku bertemu dengan dia yang harum namanya
Kartini
Begitu saja aku memanggilnya

Dia datang dengan senyum
Berkebaya lengkap dengan konde yang bersandar di batang lehernya
Jariknya tampak sederhana
Matanya masih sama
Jernih dan cerdas

Ni, begitu aku memanggilnya

Bagaimana kabarmu?
Tanyaku tanpa niat berbasa-basi
Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya
Bahkan, sebenarnya kami belum pernah bertemu

Baik
Ia tersenyum seraya menjawabku

B, bagaimana kehidupan perempuan Indonesia saat ini?
Ia bertanya tanpa pendahuluan lain

Ni, sekarang perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki
Mereka yang haus ilmu tidak lagi menahan dahaganya
Mereka pergi hingga ke mancanegara

Ni, semua orang memiliki hak yang sama utk memperoleh pendidikan
Tidak akan lagi kamu temukan anak yang dilarang bersekolah

(aku mengatur napas. Mulai mengingat kesedihan lain yg hadir di jaman ini)

B!
Saya bahagia mendengarnya
Tahukah kamu, pada jamanku dulu, perempuan diberi batasan
Pelayan atau rakyat pribumi biasa tidak berhak mengenyam pendidikan
Betapa susah saya mengumpulkan orang utk belajar

B,
Saya bersyukur akhirnya semua dapat mencicipi manis dan lezatnya ilmu
Saya bersyukur karena perempuan sudah tidak lagi dibatasi dalam memperoleh pendidikan
Jantung saya rasanya akan meledak karena terlalu bahagia!

(Saya memandang Kartini dengan tersenyum. Namun, akhir-akhir ini kemampuan saya utk berbohong menurun dgn sangat drastis. Saya menampakkan guratan kesedihan)

B,
Tapi mengapa mukamu menampakkan kesedihan?
Bukankah kamu sudah bebas dari belenggu?

Ni,
Saat ini bukan hanya perempuan yang memiliki keterbatasan
Bukan usia
Bukan jenis kelamin
Bukan pula strata sosial
Batas itu bernama kemiskinan dan kelaparan

Tahukah kau, Ni..
Berapa banyak anak yang tidak bersekolah
Bukan karena mereka perempuan
Bukan karena mereka pelayan
Bukan karena mereka tidak sepadan
Tapi karena mereka kelaparan

Kemiskinan telah membelenggu mereka
Bagi mereka, perut lebih utama
Tidak ada kata tidak ketika orangtua memaksa mereka bekerja
Sedari bayi, mereka sudah terbiasa dengan tebalnya asap dan debu, teriknya matahari, dan dinginnya ekspresi wajah

Ni,
Andai kau tahu
Betapa kemiskinan telah memupuskan cahaya asa
Betapa kemiskinan telah mengungkung mereka pada sedikitnya pilihan
Betapa kemiskinan telah menggerogoti kewarasan
Betapa kemiskinan melenyapkan mimpi mereka

Ni,
Dulu di jamanmu
Apakah kau temukan keluarga yang berada di satu tempat
Namun sebenarnya terpisah jauh?
Jaman sekarang, banyak yang begitu
Bapak, ibu, dan anak sudah berada di dunianya sendiri
Tidak ada lagi percakapan di meja makan

Ni,
Pernahkah kau alami,
Ketika kau merengek utk berpiknik dengan keluarga
Ketika tiba harinya, tak kau dapati siapa pun yg bernama keluarga?
Kamu hanya sendiri

Ni,
Saat ini anak-anak Indonesia menghadapi ujian yang nyata dlm hidup
Terabaikan dan dipaksa mandiri
Atau
Dikasihi dan dipaksa mencari nasi

B
Saya tidak mengerti dengan semua ini
Bagaimana bisa keluarga yang berada di rumah yg sama, tetapi saling berjauhan?
Bukankah tanah kita ini subur, mengapa anak2 itu dipaksa mencari makan sendiri?
Bagaimana bisa keluarga tidak lagi saling berbicara?

Ni,
Semuanya nyata terjadi
Saat ini

(kami menangis dalam diam. Sibuk dengan pikiran sendiri)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s