Eid Mubarak!

Lebaran di rumah saya identik dengan nastar yang kami buat bersama-sama dan ketupat serta masakan yang dibuat oleh mama. Masakan yang selalu ada, selain nastar dan kacang bawang, adalah opor ayam, ketupat, semur daging, serta sambal kentang.

Lalu, ada juga kebiasaan mengantar makanan ke orang yang lebih tua dari orang tua kami, yaitu para paman dan bibi. Dahulu, makanan yang menjadi hantaran adalah masakan yang dibuat sendiri (ketupat dan teman-temannya) yang dimuat di dalam rantang. Di tengah jalan ketika akan mengantarkan makanan tersebut biasanya akan bertemu dengan para sepupu yang bertugas sama.

Namun, kini makanan hantaran sudah berubah menjadi biskuit dan minuman ringan atau sirup (minimal siy dua itu).

Terpikir oleh saya untuk kembali menghidupkan budaya makanan hantaran yang dibuat sendiri, karenanya tahun lalu saya membuat schotel dan cake pisang sebagai hantaran.

Rasa-rasanya ketika saya dan adik-adik sudah berkeluarga nanti, saya akan menghidupkan kembali budaya makanan hantaran buatan sendiri. Mengapa? Karena buat saya, makanan hasil olahan sendiri menjadi simbol rasa cinta dan kasih kepada saudara. Bayangkan saja, sebelum memasak saya pasti memikirkan makanan apa yang kira2 disukai oleh orang yang akan saya buatkan masakan. Setelah itu, mengingat kembali rasa apa yang mereka sukai. Sambil memasak, saya membayangkan mereka memakan masakan saya dan menyukainya.

Yak! Nanti saya maunya diantarkan makanan buatan sendiri yang diwadahi rantang saja lah!