Poliginy in my eyes

Poligami? Polemik berkepanjangan yang senantiasa mewarnai lini masa di berbagai media sosial jika mulai dibahas kembali.

Let me start with a story of one of my friends. Saya mengenalnya (oke, inisialnya Z) sudah cukup lama dan memang mengetahui bahwa keluarganya menjalani poligami (poligini). Lahir dan besar di keluarga yang memiliki dua ibu dijalaninya dengan biasa saja (setidaknya begitu tampilan yang ia berikan pada saya).

Beberapa bulan lalu, saya mengunjungi kedua rumahnya untuk kali pertama. Kondisinya cukup berbeda, jika dilihat dari segi kerapihan dan kebersihan (saya tidak akan memberitahu which is which, let it be that way). Rumah kedua adalah rumah yang berisi ibu dan adik-adik kandungnya.

Ia bercerita, memang demikianlah keadaannya sejak dulu, ada perbedaan mencolok terkait kerapihan dan kebersihan. Yang menarik dari keluarga ini adalah setiap anak yang bersekolah tingkat SMP hingga SMA pasti akan tinggal di ibu yang kedua karena lokasi rumahnya yang berada di kota. Jadi, semuanya memang harus dapat berinteraksi dengan baik.

Tampaknya damai ya? Memang, karena semua memilih untuk berlaku seperti itu. Namun, dalamnya laut tidak ada yang mengetahui kecuali penghuni dasar laut, bukan?

Ketika saya menghabiskan malam dengan Z, saya merasa penasaran dengan kisahnya (terutama keluarganya). Apakah mereka terbebas dari pertengkaran dan rasa tidak nyaman? Jawabannya, sebagai seorang anak, adalah tentu saja tidak. Beberapa ketidaknyamanan di antara anak sering kali terjadi. Lalu, apa yang anak-anak ini lakukan? Menurut persepsi saya, setelah mendengar beberapa ceritanya, mereka cenderung menekannya sehingga “kedamaian” yang mereka pilih dapat tercipta. Bayangkan, berapa banyak masalah yang “ditekan” agar tidak muncul ke permukaan dan merusak kedamaian.

Pernah juga beberapa kali, orang yang bergelar “pemimpin agama” berusaha mendekati Z dan kemudian melamarnya. Apa yang aneh? Tidak ada, kecuali kenyataan bahwa mereka semua sudah beristri. Kaget? Saya yakin Anda tidak terlalu kaget membacanya karena sedari awal sudah saya paparkan tentang kehidupan keluarga Z. Mungkin para pria itu berpikir bahwa karena Z berada di dalam keluarga yang menjalani poligami maka dia sudah terbiasa dan dapat menerima poligami. Apakah lantas Z menerima atau bahkan mempertimbangkan khitbah tersebut? TIDAK. Dia menolaknya dengan sangat. Mengapa? Bukankah terlihat keluarganya baik-baik saja? Saya, lagi-lagi berasumsi bahwa sebenarnya kondisinya tidak senyaman dan sedamai itu.

Selama ini, yang menjadi perkara dalam pembahasan poligami hanya berkutan pada adilnya suami terhadap dua atau lebih istri. Kenyataannya? Akan ada lebih banyak yang terlibat. Apakah mereka terpikirkan tentang anak? Berapa anak yang akan hadir dalam keluarga yang berpoligami? Dapatkan bapak berbuat adil (bukan semata materi, tapi juga sisi psikologis [terpenuhinya peran bapak bagi setiap anak]) kepada semua? Apakah hal itu mudah dilakukan sehingga banyak pria yang memutuskan untuk berpoligami?

Hebat sekali yang sudah berpikir sepanjang itu dan memutuskan untuk tetap berpoligami. Adilnya sudah setara dengan Nabi. Semoga demikian adanya.

Wanita (An-Nisā’):3 – Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

Advertisements

Tentang Diri dan Tuhan

Tuhan memberi kita cobaan dalam bentuk yang berbeda. Beberapa hari lalu mendapatkan cerita dari seseorang tentang dua orang perempuan yang ia kenal dekat.

Sebut saja C dan D.

Kisah C dimulai dari proses taaruf yang membawanya ke sebuah pernikahan yang harmonis dan memiliki suami yang sabar, penyayang, dan ngemong. Keduanya bisa dibilang pasangan yang serasi dan bahagia. Namun, setelah melewati 6 tahun pernikahan, mereka tidak kunjung diberi momongan. Tidak ada pertengkaran yang terjadi dan suaminya tetap bersamanya serta selalu memberi penguatan positif. Mereka tetap bersama dan harmonis.

Kisah D juga dimulai dengan proses taaruf yang membawanya ke sebuah pernikahan yang cukup jauh dari mimpinya. Ia menikah dengan seorang pria berstatus duda cerai dan berusia sekitar 16 tahun di atas usianya. Perbedaan usia yang cukup jauh membuat komunikasi dan hubungan keduanya sering kali mengalami masalah. Mereka sudah memiliki 1 anak. Fyi, D menikah dengan niat awal untuk terlepas dari keluarganya karena ada masalah yang tidak sanggup ia hadapi. Sering kali berniat untuk bercerai, tetapi D kasihan melihat anaknya jika tidak memiliki bapak.

Ketika mendengar kedua kisah tersebut, saya sempat bingung. Jika saya harus memilih untuk berada di posisi C atau D, yang mana yang sebaiknya saya pilih?

Pernikahan, meskipun masih belum terlalu memahami proses taaruf, saya tidak antipati terhadap proses ini. Mengapa? Karena memang acara “pacaran” yang sekarang menjadi lazim, dapat membawa pasangan menuju zina. Namun, proses taaruf yang tidak melibatkan pengenalan masing-masing calon pasangan, agak absurd bagi saya untuk meneruskan ke jenjang pernikahan.

Pernikahan, bagi saya, adalah satu proses yang dilalui untuk hidup bersama seseorang sepanjang hidup dan karenanya akan sangat penting untuk memiliki tujuan dan cara mencapai tujuan yang sama. Ketika sudah ada visi yang sama dan cara menujunya yang sejalan, barulah tantangan di depan dapat dihadapi dengan saling berpegangan tangan untuk saling menguatkan dan mengingatkan.

Keturunan adalah salah satu (bukan satu-satunya) tujuan dilakukannya pernikahan. Dalam hal ini, prioritasnya akan sangat beragam di antara semua pasangan. Jika terdapat kesepahaman dan pengertian, bukan mustahil untuk terus menjalani pernikahan tanpa keturunan (meski dalam prosesnya mungkin akan ada banyak air mata dan drama).

Tetap saya tidak dapat memilih. Saya hanya meyakini satu hal, yaitu Tuhan mencintai setiap makhluknya. Oleh sebab itu, Tuhan sering kali membuat hambanya menjadi kuat dengan memberikan berbagai cobaan. Bersyukurlah pada setiap hal yang kita miliki dan rasakan karena tidak setiap orang memiliki dan merasakannya.