Tentang Diri dan Tuhan

Tuhan memberi kita cobaan dalam bentuk yang berbeda. Beberapa hari lalu mendapatkan cerita dari seseorang tentang dua orang perempuan yang ia kenal dekat.

Sebut saja C dan D.

Kisah C dimulai dari proses taaruf yang membawanya ke sebuah pernikahan yang harmonis dan memiliki suami yang sabar, penyayang, dan ngemong. Keduanya bisa dibilang pasangan yang serasi dan bahagia. Namun, setelah melewati 6 tahun pernikahan, mereka tidak kunjung diberi momongan. Tidak ada pertengkaran yang terjadi dan suaminya tetap bersamanya serta selalu memberi penguatan positif. Mereka tetap bersama dan harmonis.

Kisah D juga dimulai dengan proses taaruf yang membawanya ke sebuah pernikahan yang cukup jauh dari mimpinya. Ia menikah dengan seorang pria berstatus duda cerai dan berusia sekitar 16 tahun di atas usianya. Perbedaan usia yang cukup jauh membuat komunikasi dan hubungan keduanya sering kali mengalami masalah. Mereka sudah memiliki 1 anak. Fyi, D menikah dengan niat awal untuk terlepas dari keluarganya karena ada masalah yang tidak sanggup ia hadapi. Sering kali berniat untuk bercerai, tetapi D kasihan melihat anaknya jika tidak memiliki bapak.

Ketika mendengar kedua kisah tersebut, saya sempat bingung. Jika saya harus memilih untuk berada di posisi C atau D, yang mana yang sebaiknya saya pilih?

Pernikahan, meskipun masih belum terlalu memahami proses taaruf, saya tidak antipati terhadap proses ini. Mengapa? Karena memang acara “pacaran” yang sekarang menjadi lazim, dapat membawa pasangan menuju zina. Namun, proses taaruf yang tidak melibatkan pengenalan masing-masing calon pasangan, agak absurd bagi saya untuk meneruskan ke jenjang pernikahan.

Pernikahan, bagi saya, adalah satu proses yang dilalui untuk hidup bersama seseorang sepanjang hidup dan karenanya akan sangat penting untuk memiliki tujuan dan cara mencapai tujuan yang sama. Ketika sudah ada visi yang sama dan cara menujunya yang sejalan, barulah tantangan di depan dapat dihadapi dengan saling berpegangan tangan untuk saling menguatkan dan mengingatkan.

Keturunan adalah salah satu (bukan satu-satunya) tujuan dilakukannya pernikahan. Dalam hal ini, prioritasnya akan sangat beragam di antara semua pasangan. Jika terdapat kesepahaman dan pengertian, bukan mustahil untuk terus menjalani pernikahan tanpa keturunan (meski dalam prosesnya mungkin akan ada banyak air mata dan drama).

Tetap saya tidak dapat memilih. Saya hanya meyakini satu hal, yaitu Tuhan mencintai setiap makhluknya. Oleh sebab itu, Tuhan sering kali membuat hambanya menjadi kuat dengan memberikan berbagai cobaan. Bersyukurlah pada setiap hal yang kita miliki dan rasakan karena tidak setiap orang memiliki dan merasakannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s