Grandma in my heart

4 Februari 2014

My beloved grandma passed away.

Oma selalu meminta saya membereskan tempat tidur segera setelah bangun tidur. Hal yang tidak pernah diminta oleh orangtua saya di rumah, tetapi sering saya lakukan. Beliau mengajarkan saya untuk hidup rapih dan bersih. Hal ini juga yang selalu saya lakukan, baik di rumah maupun ketika menginap.

Sebelum sarapan, oma selalu menyuruh saya untuk membersihkan rumah dan halaman depan, kemudian membantunya dengan melakukan hal-hal kecil. Setelah semua selesai, saya baru boleh sarapan. Beliau bilang “Dalam hidup, kita harus bekerja dulu sebelum bisa makan” dan memang begitulah realita hidup yang dijalani manusia ketika mencapai masa dewasa.

Meskipun dapat meminta bantuan orang lain untuk mengurus kartu identitas, oma tetap bersikeras agar saya mengurusnya sendiri. Mulai dari tingkat RT hingga akhirnya kartu identitas tersebut diberikan kepada saya. Beliau mengajarkan saya untuk hidup secara lurus, mengetahui jalur birokrasi, memperlihatkan berbagai karakter orang, dan menolak untuk memberikan “pelicin” guna meminimalisir korupsi.

Mie instan sebenarnya adalah makanan yang mudah dan murah untuk disantap. Namun, mie instan menjadi barang mahal bagi saya ketika tinggal bersama oma. Beliau mengajarkan saya untuk makan makanan yang sehat, sebisa mungkin mempersiapkan makanan sendiri dengan bahan-bahan yang sehat.

Sebisa mungkin, oma selalu memasak pada hari-hari istimewa. Oma mempersiapkan masakan kesukaan bagi mereka yang akan berkunjung atau berulang tahun atau merayakan hari besar. Ketika saya dapat membuat kue, oma akan dengan sangat senang menyuruh saya membuatkannya untuk orang-orang terdekat. Beliau mengajarkan saya untuk memberikan cinta dan kasih sayang yang tulus dan berproses. Dalam mempersiakan makanan, kita akan menjalani beragam proses yang membutuhkan perhatian dan konsentrasi yang utuh, tidak terbagi. Cara terbaik untuk menyampaikan bahwa kita benar-benar menyayangi orang terdekat adalah dengan memasakkan makanan untuk mereka, dengan sepenuh hati.

Oma selalu menerima orang yang berkunjung ke rumah dengan tangan terbuka dan keramahan, meski beberapa orang yang datang tidak memiliki niat yang baik. Oma selalu meminta saya untuk menghormati orang yang lebih tua, memberi panggilan yang tepat (om, mas, tante, dst). Beliau mengajarkan saya untuk menghormati tamu dan orang yang lebih tua, apa pun adanya mereka. Namun, bukan berarti kemudian saya mudah dijahati, banyak kata-kata baik yang dapat kita keluarkan untuk menangani hal jahat sekalipun.

Oma mengajarkan saya untuk menyelesaikan masalah saya, sebisa mungkin, sendiri. Mengajarkan saya untuk berpikir jauh tentang berbagai kemungkinan ketika dihadapkan dengan berbagai pilihan. Beliau membuat saya menjadi pribadi mandiri dan bertanggung jawab terhadap pilihan yang saya buat. Ketika menghadapi pilihan, saya diajarkan untuk berpikir jauh ke depan sehingga dapat mengetahui apa yang mungkin saya hadapi dan bersiap untuk menjalaninya.

Oma menjadi pembentuk kepribadian saya saat ini, sosok yang menyayangi saya dengan caranya sendiri. Beliau selalu senang melihat saya bernyanyi, satu ketika beliau menunggu say di satu saluran TV yang menayangkan saya ketika bernyanyi. Begitu senangnya dia, hingga senyumnya mengembang hingga saya tiba di rumah setelah acara tersebut selesai

Oma menjadi guru kehidupan yang selalu mengajarkan agar menjadi perempuan yang kuat dan tegar. Beliau menunjukkannya melalui kesehariannya, bukan hanya dengan menceramahi.

Saya akan selalu merindukannya.

Love you, always, oma.. 

image