Me in a choir

Suatu hari, lama setelah konser berlangsung, salah seorang pelatih sekaligus senior sekaligus teman nyanyi saya mengirimkan pesan ini ke grup whatsapp paduan suara kami (Paduan Suara Alumni Unpad):

Teman temin temun temon yang cantik jelita tampan rupawan,

Sabtu kemaren saya ketemuan dengan temen dan ibunya yang nonton konser kita di Jakarta tempo hari.

Cukup mengharukan ibunya berterimakasih berulang-ulang sama saya karena dia merasa sangat terhibur batinnya. Berat ya terhibur batin. Lantaran keluarga mereka belum lama baru kehilangan suami/ayah mereka jadi masih dalam suasana kesripahan. Nah saat nonton konser itu si ibu sangat gembira dan – walaupun mungkin cuma sejenak – bisa lupa sedihnya. Kata anaknya ibunya masih ngomongin tentang konser kita sampai beberapa hari setelahnya. (Kalo sampe sekarang masih sebetulnya aneh)

Kata anaknya pula, ibunya biasanya sangat picky soal tontonan pertunjukan, tapi konser Mana Suaramu Lagi dia luar biasa seneng. Favoritnya tentu saya (karena kenal 😜😜), kemudian lagu Romo Ono Maling, trio, sama “sing nganggo wig kuwi lho, mas”, sama “cah lanang sing nyanyi karo main piano, suarane apik”. Hehehehe…

Secara khusus ibu Hadiono berterimakasih sama kita. “Nek konser meneh tante arep nonton meneh lho, mas.” Gitu katanya…

Seneng ya menularkan kebahagiaan…

Saya kebetulan adalah penyanyi yang sukanya melihat ke seluruh penonton ketika bernyanyi. Memandang semuanya sembari mengeluarkan ekspresi yang senada dengan lagu, inginnya siy seperti sedang berbicara kepada penonton melalui bernyanyi dan menyampaikan jiwa lagu dgn sepenuh hati.

Nah, kebetulan saya juga sempat bertukar pandang dengan ibu yang diceritakan oleh teman saya. Senyum beliau merekah dengan sorot mata yang berkilauan. Tampak sekali bahwa beliau menikmati penampilan kami.

Sebenarnya, bagi saya, momen yang dialami ibu tersebut adalah salah satu prestasi tertinggi bagi saya sebagai penyanyi. Menghilangkan duka meski sesaat, memberi ruang bagi senyum untuk kembali merekah, dan membuat penonton menikmati suguhan kami adalah kesenangan yang luar biasa bagi saya ketika bernyanyi.

Berbicara tentang dunia tarik suara, sebenarnya diawali sejak kecil. Dulu, saya suka sekali bernyanyi mengikuti lagu yang diputar di radio. Bahkan, saya membuat kliping lirik lagu yang biasa saya nyanyikan, sepertinya lagu2 almh. Nike Ardilla turut saya nyanyikan.

Terceburnya saya di wadah paduan suara dimulai ketika saya kuliah. Setahun setelah menjadi mahasiswa baru, saya mendaftarkan diri untuk ikut paduan suara di kampus. Paduan Suara Mahasiswa Unpad. Tidak langsung menikmati dan tidak langsung berambisi untuk menjadi salah satu penyanyi di acara konser tahunan. Setelah 1 tahun bergabung, saya baru mulai daftar tes penyanyi konser, syukurlah lolos. Lalu, vakum setahun, ikut tes penyanyi konser lagi. Kesempatan untuk dilatih privat oleh pelatih utama pun terlewatkan karena waktu kami selalu bertabrakan.

Saya bukanlah penyanyi yang effortless ketika mencapai nada tinggi, pun bukan penyanyi yang pandai merangkai nada ketika dihadapkan pada partitur. Namun, cinta yang sebegitu dalamnya terhadap paduan suara dan kerinduan untuk bernyanyi bersama membuat saya selalu antusias untuk mengikuti konser atau acara nyanyi bersama paduan suara.

Cinta saya tumbuh secara perlahan dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Setelah cinta itu tumbuh, ia akan mengakar sangat dalam di diri saya. Begitulah proses saya ketika mencintai seseorang atau sesuatu.

Note: Saat ini sedang pdkt dgn yoga. Tidak terburu-buru memaksa diri agar jatuh cinta, saya hanya mendekati dan menikmatinya saat ini. Entah akankah ia mengakar nantinya.

Hari Nyepi dan hari nyepi saya

Satu hari yang sepi, terlepas dari segala urusan keduniawian, satu hari yang sepi ketika mengawali tahun yang baru. Nyepi.

Sekilas saya membaca tentang Hari Nyepi, awalnya karena ingin memberikan ucapan yang pas kepada teman yang menjalankan ibadah ini. Setelah membacanya, kok ya ternyata saya juga memiliki satu hari yang serupa dengan Nyepi.

Hari itu adalah hari yang menandai hari pertama saya menghirup udara secara mandiri, hari kelahiran saya. Beberapa tahun terakhir, saya memutuskan untuk mengambil cuti dan mematikan semua gawai, memutuskan hubungan dengan dunia maya dan komunikasi. Saya hanya dikelilingi oleh orang-orang terdekat saya, keluarga.

Pada hari Nyepi, umat Hindu melaksanakan “Catur Brata Penyepian” yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Saya ya tidak melakukan kesemua hal tersebut di hari nyepi (ultah) saya. Namun, saya juga tidak bepergian dan bekerja.

Tidak seperti Hari Nyepi bagi umat Hindu yang memiliki tujuan utama untuk memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuana Agung/macrocosmos (alam semesta), nyepi versi saya bertujuan untuk menikmati menjadi diri sendiri, mencapai kedamaian dengan diri sendiri, mendekatkan diri dengan Tuhan dan orang-orang yang dekat dengan saya secara nyata, dan menikmati hari ini. Semua tujuan lebih berfokus kepada saya sebagai manusia.

Bagi saya, hari menyepi di hari kelagiran memiliki makna dan manfaat yang sangat besar bagi diri sendiri. Satu hari yang terbebas dari hiruk pikuk sosial media yang sering kali tidak penting bagi hidup saya dan sering kali memicu emosi yang menguras energi yang lagi2 tdk penting bagi diri. Di hari nyepi saya, ada kedamaian dan kenyamanan tersendiri tatkala jauh dari keramaian yang tdk penting dan dekat dengan orang-orang yang berarti dalam hidup saya. Hari yang membebaskan.

Tentunya, Hari Nyepi bagi Umat Hindu memiliki arti yang lebih dalam dan berisi doa bagi semesta. Jauh lebih sakral dibanding hari nyepi saya.

Selamat menjalankan Catur Brata Penyepian, semoga Tuhan memberkati semesta di tahun yang baru dan semoga kedamaian senantiasa menyelimuti hari kita bersama.

Ps: Sebelum hari nyepi saya, tentu saja tidak ada pawai ogoh2 di hari sebelumnya. Sangat menarik sepertinya jika ada pawai ogoh2..

image