Hujan..

Hari ini hujan. Serupa dengan hujan sebelumnya yang disertai angin kencang, badai cempaka kah?
Hujan lebat seperti hari ini mengingatkan saya pada waktu kecil dulu. Tidak seperti umumnya orang tua yang melarang anaknya bermain hujan, mama saya malah membiarkan dan sering kali ikut main hujan di bagian belakang rumah kami. Tidak ada orang lain yang melihat, karenanya kami bebas bermain hujan sesuka hati.

Turunnya hujan menjadi pertanda bahwa kami akan bersenang-senang dengan air, sesuka hati, hingga kulit keriput dan kami tersenyum sembari menggigil. Biasanya kami akan mulai main hujan ketika sudah deras, kami akan menuju talang air yang terletak di sudut atap dari rumah yang berbentuk huruf L. Tertawa bersama sambil menciprat-cipratkan air.

Seingat saya, papa yang tidak membolehkan kami main hujan. Namun, sejak mama memutuskan untuk berhenti bekerja, ia dapat mengajak kami bermain hujan sesukanya karena papa masih ada di kantor.

Air panas selalu sudah tersedia, jadi kami bisa langsung mandi segera setelah bermain hujan. Setelah mandi, kami akan melanjutkan kegiatan masing-masing. Ada yang menunggu matangnya ikan yang sedang digoreng (ikan hasil tangkapan baba tentu saja), ada yang minum susu, ada yang tertidur.

Kami semua mensyukuri hujan dengan cara menikmatinya ketika jatuh dari awan langsung ke kulit. Kami menyukai hujan karena ingatan kami dipenuhi dengan bermain dengan hujan, hujan identik dengan tawa gembira dan bermain bersama.

Kesibukan membuat kami lupa bermain dengan hujan. Hingga ketika SMP, saya dan teman2 beberapa kelas kompak untuk berjalan sampai rumah sambil hujan-hujanan. Entah siapa yang memulai, yang pasti kami berjalan bergerombol menikmati hujan.

Setelah itu, lamaa sekali saya tidak bermain hujan. Pada suatu ketika, sepulang kuliah, saya kembali bermain hujan. Kuliah di Jatinangor dan tinggal bersama Oma di Cimahi, jauh juga. Tiba-tiba, setelah saya memakai daster putih, saya ingin kembali bermain hujan. Tanpa ragu, saya langsung menuju lantai atas yang terbuka. Saya main hujan!! Oma hanya menggeleng-gelengkan kepalanya ketika saya bercerita bahwa saya telah main hujan di atap.

Jika saya punya anak, akan saya ajarkan untuk mencintai dan mensyukuri hujan. Melekatkan dalam ingatannya bahwa hujan adalah berkah dari Tuhan dan sudah sepatutnya diterima secara gembira. Saya akan mengajaknya bermain hujan, hingga hujan akan identik dengan tawa dan canda. Wah, mesti cari rumah di tempat yang tingkat polusinya tidak setinggi Jakarta ya kalo gitu, biar hujannya juga relatif aman ketika kontak dengan mata dan kulit. 

Advertisements