Percakapan dengan Kartini (2)

Ni, semalam ada yang sedih karena baru mengetahui bahwa kau telah tiada. Anak keriting yang tidak berhenti membuatku terkagum-kagum ini kembali membuatku terhenyak. Sudah 3 hari belakangan ini dia menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini, aku cuma menganggapnya hal biasa karena memang setiap tahun hari lahirmu dirayakan dengan parade baju tradisional dan dandanan tebal di muka anak-anak piyik.

Tahukah kau, Ni, dugaanku salah. Anak keriting yang baru mulai lancar membaca itu ternyata juga sedang memahami makna tiap kata yang ia temukan. Aku memang pelupa, beberapa hari lalu ketika belajar membaca, ia sempat menanyakan arti dari kata yang ia baca. Ketika menyanyikan lagu tentangmu, rupa-rupanya ia juga menelaah tiap kata-katanya.

Malam tadi, seusai menyanyikan lagu tentangmu secara lengkap, ia mulai bertanya “Bu, Ibu Kartini itu sekarang ada di mana?”. Aku mendadak kaget, kemudian menjawab “Ibu Kartini sudah ndak ada, beliau sudah meninggal”. Raut muka anak itu berubah sedih, menautkan kedua alisnya, memonyongkan bibirnya, dan matanya mulai menyorotkan kesedihan karena ditinggal oleh orang yang dikenalnya.

Aku tercekat, Ni. Anak ini tampak ingin sekali menemuimu dan berbincang tentang banyak hal denganmu. Kiranya, hal tersebut menjadi dambaan setiap perempuan di negeri ini, aku juga! Namun, mungkin aku akan malu karena belum berbuat banyak bagi negeri.

Tidak mau kesedihan anak itu berlarut-larut, kujanjikan untuk bercerita tentangmu sebelum ia tidur. Biasanya selalu dongeng, tapi kali ini tentangmu, tentang perempuan hebat yang bersikeras memberikan pendidikan bagi kaumnya.

Ia menagihnya sesaat sebelum tidur, kukira ia lupa. Maka kuceritakan semua tentangmu, baiklah, tidak semua, sebagian saja dan menggunakan bahasa yang ia mengerti. Beberapa kata yang belum ia pahami turut kugunakan dan kujelaskan artinya. Ia mendengarkan secara khidmat, bertanya ketika ingin mengetahui lebih jauh dan mempertanyakan kondisi saat itu. Semoga saja ceritaku tertanam di ingatannya, semoga saja cita-citamu menancap erat di otaknya. Ia tampak termenung ketika aku selesai bercerita. Mungkin malam ini ia akan kembali bertanya tentangmu, Ni. Aku akan kembali bercerita, kapan pun ia mau.

Advertisements