Perkara Mati

Siang lalu, di tengah percakapan yang biasa saja via media sosial, salah satu teman saya berkata “Rasanya aku ingin terus memejamkan mata. Selamanya.” Keinginan yang tersurat, begitu jelas dan singkat. Out of nowhere, for me.

Siang yang lain, pesan dari teman yang lain tiba, isinya “Aku merasa tdk berguna. Semua orang lebih hebat. Semua orang tdk punya masalah yg kupunya. Lebih baik mati aja kali ya.” Pernyataan itu muncul setelah ia bercerita cukup panjang terkait kehidupannya.

Siang yang lain lagi, dr teman yg berbeda pula.. “Rasa2nya, aku sudah cukup lelah utk hidup hari demi hari, bulan demi bulan. Menghadapi susah yang tak henti. Tidak ada yg mengerti. Kadang, ketika berada di jalan raya, aku berharap mengalami kecelakaan dan mati seketika. Terbebas dari dunia dan berbagai belenggunya.”

Saya hanya termenung dan kemudian meneteskan air mata. Bayangan kehilangan teman yang dekat dgn saya sudah mampu membendung simpanan air mata saya.

Saya hanya mampu mendengarkan dan membaca setiap cerita mereka. Sementara untuk menyalahkan atau membenarkan, rasa2nya tdk tepat karena saya tdk mengalami apa yg mereka alami. Memberi solusi pun rasanya tak tepat karena banyak hal yg blm dan tdk akan saya pahami. Masalah yg sama sering kali dipersepsikan secara berbeda oleh beberapa orang.

Berkata bijaklah, seperti “Kamu lebih beruntung dari si anu; seharusnya kamu lebih sering beribadah; kamu.. kamu..” kata beberapa org. Namun, apa iya kalimat tersebut berpengaruh thdp mereka2 yg berkeinginan untuk mati?

Setelah mendengarkan, biasanya secara spontan saya akan langsung bilang “Kamu jangan mati. Aku rasanya sdh tdk sanggup menghadapi kematian orang2 terdekat. Aku akan sangat kehilangan.” Entah didengar atau tidak. Saya memang egois, dalam kalimat itu pun tersurat.

Hiduplah.. Setidaknya buat saya, setidaknya untuk saat ini, setidaknya…

Advertisements