Gemar Film Pendek #11

Jangan bilang aku gila!

Film pendek pertama yang mengawali rangkaian “Gemar Film Pendek #11” hari Minggu lalu. Film ini terlewatkan, karena saya terlambat datang. Sekilas, dari diskusi yang dilakukan di akhir sesi, saya mengetahui bahwa film ini merupakan film dokumenter berlatar sebuah pesantren untuk orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Di tempat tersebut, ODGJ yang sudah melewati masa amuk (melakukan kekerasan), dipersilakan untuk berinteraksi secara bebas di lingkungan sekitar pesantren. Salah satu ODGJ bahkan mencari jalan pulang sendiri, tetapi tidak bisa dan akhirnya kembali lagi. Pak Ghofur menjadi pembimbing di tempat itu.

Kulihat Tamanku.

Berdurasi sangat singkat dengan satu pemeran utama yang sedang berbicara dengan “tokoh lain” yang ditampilkan dalam bentuk tulisan pada layar tanpa suara. Bagi saya, film ini melukiskan betapa riuhnya obrolan di dalam pikir ODGJ dengan halusinasi dengar yang dialaminya. Sebegitu ramai taman pikirnya, tetapi tampak sunyi bagi kita sebagai orang lain yang menyaksikannya.

Wabah.

Film ketiga ini diawali dengan seorang perempuan yang dititipi kucing oleh pacarnya. Kemudian, cerita bergulir ke teman kerja si perempuan yang kehilangan saudaranya yang kemudian dibiarkan saja karena sudah menemukan jalan buntu. Pada suatu ketika kucing sakit parah sehingga harus dirawat, dengan biaya yang sepertinya tidak sanggup ditanggung oleh si perempuan. “Katanya lo tau tempat membuang kucing yang bikin dia gak bisa kembali lagi. Gw mau ngebuang kucing ini, nyusahin soalnya.” ujar si perempuan ketika minta diantarkan oleh teman kerjanya.

Jika ditilik, pembuangan kucing karena menyusahkan ini mungkin merupakan analogi dari pembuangan ODGJ yang kerap terjadi karena dirasa menyusahkan atau merepotkan orang yang mengurusnya (caregiver).

Lonely Planet.

Mengisahkan tentang seorang siswi SMA yang memiliki sedikit pengikut di Twitter. Hidupnya terasa begitu sepi karena setiap hari Twitternya sepi pengunjung. Langkah awal dimulai, ia mulai googling tentang akun perempuan mana saja yang banyak diikuti dan disukai netizen. Tara!! Ketemu deh akun2 perempuan yang berbahasa vulgar dan banyak membahas tentang hubungan seksual. Ambil foto orang lain yang dirasa cukup seksi, ditirulah beragam kata vulgar nan erotis sehingga akhirnya akun Twitter barunya diikuti dan disukai oleh banyak orang. Konten dan beragam balasan dibuat setelah beribadah, sambil makan, sambil menonton televisi, seolah hal tersebut lumrah saja terjadi. Tercapai sudah keinginannya!

Rundung.

Seorang pria berprofesi desainer grafis menjadi tokoh utama. Keluhan klien yang terus-menerus merongrong, teman sekamar yang terus menghina desainnya, pacar yang tiba-tiba menikah karena dihamili orang lain, rasa penat dan stres yang tak kunjung reda, dan postingan serta komentar orang lain di media sosial yang selalu negatif terhadap dirinya; semuanya dialami setiap hari oleh tokoh utama. Sampai akhirnya ide bunuh diri menghampiri. Sialnya, ia mengutarakan keinginan bunuh diri pada orang yang salah, teman sekamar yang selalu melakukan kekerasan verbal dan psikis kepadanya. “Hah? Bunuh diri? Bunuh kecoa aja lo ga sanggup!” ujar teman sekamarnya ketika si tokoh utama mengutarakan keinginannya untuk bunuh diri.

.

.

Semua hal yang dianggap kecil atau biasa, seperti candaan kasar, merupakan hal yang besar bagi mereka yang mengalami gangguan jiwa. Berhati-hatilah dalam berkata-dan dan bertindak. Setiap orang mengalami beragam tantangan setiap harinya, yang kemudian membedakan adalah cara dan keberhasilan menghadapi tantangan tersebut.

Apakah gangguan jiwa selalu berupa Skizofrenia atau tingkah laku yang dianggap aneh (seperti berbicara sendiri, amuk)? Tidak. Stres yang dialami oleh sebagian besar manusia pun dapat disebut sebagai gangguan jiwa. Stres yang kemudian menumpuk dan tidak terselesaikan dapat berkembang menjadi gangguan jiwa yang lebih serius.

Komunikasi menjadi salah satu cara untuk membantu kita dalam mengatasi stres. Bertemu secara langsung kemudian mengobrol, bagi sebagian orang dapat melepaskan beban pikirannya. Sementara beberapa yang lain mungkin lebih memilih untuk menuangkan beban pikirannya pada tulisan, lagu, atau lukisan. Pilihlah cara yang cocok untuk diri, luangkan waktu untuk melakukannya.

Profesional gangguan jiwa atau layanan kesehatan terdekat yang dilengkapi oleh psikolog atau psikiater dapat menjadi tempat untuk memperoleh bantuan.

Advertisements

Hubungan dan harapan

“Pagi ini kau merebahkan kepalamu di pangkuanku, kemudian memintaku membacakan sebuah buku. Jadi, kutaruh buku yang sedang ku baca dan mulai membuka halaman buku yang kau berikan. Lalu, kau mulai memejamkan mata dan menikmati suaraku. Aku pun mulai masuk ke dalam buku itu. Sebuah buku yang tidak terlalu tebal, berhalaman depan tebal, dan mengisahkan tentang kehidupan.Tak berapa lama, kau tertidur. Dan, aku semakin serius membaca, hingga setengah jam kemudian menyadari kau telah pulas. Aku mulai mengelus kepalamu, menyusuri rambutmu dengan jariku. Kemudian mengingat kembali hal-hal kecil yang membuat kita dapat bersama hingga hari ini. Ingatkah kau saat pertama kali kita bertemu? Kegugupanmu bertemu dengan kecuekanku. Kali kedua kita bertemu, kau mulai merasa nyaman. Pertemuan-pertemuan berikutnya, kau sudah menjadi dirimu sendiri di depanku, sepertinya mulai mengikuti kecuekanku. Aku mulai mengikuti caramu menjalankan kewajiban kepada Tuhan dan menanamkan pentingnya untuk selalu mendahulukanNya. Mencari tempat ibadah yang dulu selalu terlewati begitu saja. Kita berlomba untuk menjalankan tambahan ibadah lain. Tidak ada yang lebih menenangkan dibanding menemukan seseorang yang membuatmu lebih dekat dengan Sang Pencipta. Saat ini, hidupku tenang dan damai. Melihatmu bergandengan tangan dengan anak kita menuju ke tempat ibadah. Mengajarkan beberapa hal tentang kehidupan kepada mereka dengan cara yang bersahabat. Dan kita mendiskusikan segalanya tentang mereka dan kita. Betapa bersyukurnya aku melihat kerutan-kerutan di wajah yang merupakan rekam jejak kehidupan kita, yang terbentuk akibat banyaknya tawa dan tangis bahagia. Dan, wajahmu kini menampakkan kedamaian yang semoga akan terus dapat aku tatap sampai akhir hayat. Di taman ini, kita bersama. Memandang langit yang sama. Lucu, tiap dua minggu sekali kita selalu melakukan ritual ini, piknik dan membaca buku bersama di taman. Sesuatu yang kita sepakati bersama untuk dilakukan. Anak-anak kita turut meramaikan suasana, berlarian di rumput dan saling berkejaran. Beristirahatlah sayang, akan tiba giliranmu nanti malam membacakan dongeng untuk mereka.”

Kemarin secara tidak sengaja, menemukan ini di lini masa media sosial saya. Berasal dari tahun 2015, sudah cukup lama. Indah memang beberapa tulisan saya tentang cinta, tetapi bukan tidak mungkin segala angan dan harapan berubah menjadi mimpi buruk di siang bolong.

Beragam hal dapat menjadi penyebab dari hal buruk yang terjadi dalam hubungan. Mulai dari lama waktu perkenalan, gagal mengenal pasangan, keluarga pasangan, sikap posesif, hingga ketidakcocokan dalam prinsip hidup. Semua hal yang dikira dapat dilalui bersama setelah mengesahkan hubungan, ternyata ketika dijalani malah membuat diri merasa tertekan.

Lantas, apa yang kemudian harus dilakukan setelah semuanya terlanjur dijalani? Saya rasa, pertama harus membenahi komunikasi. Ada hal yang sebelumnya tidak tersampaikan atau tersampaikan dengan cara yang tidak baik. Wajar adanya ketika emosi tidak lagi dapat dikendalikan kemudian diikuti oleh luapan secara verbal, banyak kata yang semestinya tidak terlontar dan berakhir dengan saling menyakiti. Belakangan, saya menyadari hal ini dan memilih untuk diam serta menjauh dari subjek kemarahan agar saya dapat meredakan emosi sembari berpikir secara lebih jernih.

Selanjutnya, bicarakan semuanya. Tanpa kepura-puraan, tanpa menyakiti, tanpa emosi. Diskusikan, apakah ada jalan yang baik bagi pihak yang terlibat. Ketika perjalanan yang dilalui bersama sudah sampai di titik ini, sepertinya kita sudah dapat mengenali pasangan kita secara lebih baik. Gunakanlah dalam berkomunikasi.

Jika memang tidak menemukan jawaban ketika berbicara berdua, mungkin dibutuhkan bantuan dari profesional. Konsultan perkawinan mungkin atau psikolog. Cari bantuan yang dibutuhkan, kunjungi, dan disiplin dalam menjalani terapi pasangan.

Segala cara sudah dicoba, lalu tetap tidak dapat melaluinya bersama? Mungkin, berpisah sementara dapat membantu. Jika kemudian berpisah selamanya menjadi jalan terbaik bagi semua pihak, ingat kembali masa bahagia yang pernah dijalani bersama.

Kita harus dapat mencintai diri sendiri agar dapat memilih mana yang terbaik bagi diri. Pikirkan kembali apa yang penting bagi diri. Setelah itu, buat keputusan! Jangan biarkan semua berlarut-larut tanpa kepastian.