Hubungan dan harapan

“Pagi ini kau merebahkan kepalamu di pangkuanku, kemudian memintaku membacakan sebuah buku. Jadi, kutaruh buku yang sedang ku baca dan mulai membuka halaman buku yang kau berikan. Lalu, kau mulai memejamkan mata dan menikmati suaraku. Aku pun mulai masuk ke dalam buku itu. Sebuah buku yang tidak terlalu tebal, berhalaman depan tebal, dan mengisahkan tentang kehidupan.Tak berapa lama, kau tertidur. Dan, aku semakin serius membaca, hingga setengah jam kemudian menyadari kau telah pulas. Aku mulai mengelus kepalamu, menyusuri rambutmu dengan jariku. Kemudian mengingat kembali hal-hal kecil yang membuat kita dapat bersama hingga hari ini. Ingatkah kau saat pertama kali kita bertemu? Kegugupanmu bertemu dengan kecuekanku. Kali kedua kita bertemu, kau mulai merasa nyaman. Pertemuan-pertemuan berikutnya, kau sudah menjadi dirimu sendiri di depanku, sepertinya mulai mengikuti kecuekanku. Aku mulai mengikuti caramu menjalankan kewajiban kepada Tuhan dan menanamkan pentingnya untuk selalu mendahulukanNya. Mencari tempat ibadah yang dulu selalu terlewati begitu saja. Kita berlomba untuk menjalankan tambahan ibadah lain. Tidak ada yang lebih menenangkan dibanding menemukan seseorang yang membuatmu lebih dekat dengan Sang Pencipta. Saat ini, hidupku tenang dan damai. Melihatmu bergandengan tangan dengan anak kita menuju ke tempat ibadah. Mengajarkan beberapa hal tentang kehidupan kepada mereka dengan cara yang bersahabat. Dan kita mendiskusikan segalanya tentang mereka dan kita. Betapa bersyukurnya aku melihat kerutan-kerutan di wajah yang merupakan rekam jejak kehidupan kita, yang terbentuk akibat banyaknya tawa dan tangis bahagia. Dan, wajahmu kini menampakkan kedamaian yang semoga akan terus dapat aku tatap sampai akhir hayat. Di taman ini, kita bersama. Memandang langit yang sama. Lucu, tiap dua minggu sekali kita selalu melakukan ritual ini, piknik dan membaca buku bersama di taman. Sesuatu yang kita sepakati bersama untuk dilakukan. Anak-anak kita turut meramaikan suasana, berlarian di rumput dan saling berkejaran. Beristirahatlah sayang, akan tiba giliranmu nanti malam membacakan dongeng untuk mereka.”

Kemarin secara tidak sengaja, menemukan ini di lini masa media sosial saya. Berasal dari tahun 2015, sudah cukup lama. Indah memang beberapa tulisan saya tentang cinta, tetapi bukan tidak mungkin segala angan dan harapan berubah menjadi mimpi buruk di siang bolong.

Beragam hal dapat menjadi penyebab dari hal buruk yang terjadi dalam hubungan. Mulai dari lama waktu perkenalan, gagal mengenal pasangan, keluarga pasangan, sikap posesif, hingga ketidakcocokan dalam prinsip hidup. Semua hal yang dikira dapat dilalui bersama setelah mengesahkan hubungan, ternyata ketika dijalani malah membuat diri merasa tertekan.

Lantas, apa yang kemudian harus dilakukan setelah semuanya terlanjur dijalani? Saya rasa, pertama harus membenahi komunikasi. Ada hal yang sebelumnya tidak tersampaikan atau tersampaikan dengan cara yang tidak baik. Wajar adanya ketika emosi tidak lagi dapat dikendalikan kemudian diikuti oleh luapan secara verbal, banyak kata yang semestinya tidak terlontar dan berakhir dengan saling menyakiti. Belakangan, saya menyadari hal ini dan memilih untuk diam serta menjauh dari subjek kemarahan agar saya dapat meredakan emosi sembari berpikir secara lebih jernih.

Selanjutnya, bicarakan semuanya. Tanpa kepura-puraan, tanpa menyakiti, tanpa emosi. Diskusikan, apakah ada jalan yang baik bagi pihak yang terlibat. Ketika perjalanan yang dilalui bersama sudah sampai di titik ini, sepertinya kita sudah dapat mengenali pasangan kita secara lebih baik. Gunakanlah dalam berkomunikasi.

Jika memang tidak menemukan jawaban ketika berbicara berdua, mungkin dibutuhkan bantuan dari profesional. Konsultan perkawinan mungkin atau psikolog. Cari bantuan yang dibutuhkan, kunjungi, dan disiplin dalam menjalani terapi pasangan.

Segala cara sudah dicoba, lalu tetap tidak dapat melaluinya bersama? Mungkin, berpisah sementara dapat membantu. Jika kemudian berpisah selamanya menjadi jalan terbaik bagi semua pihak, ingat kembali masa bahagia yang pernah dijalani bersama.

Kita harus dapat mencintai diri sendiri agar dapat memilih mana yang terbaik bagi diri. Pikirkan kembali apa yang penting bagi diri. Setelah itu, buat keputusan! Jangan biarkan semua berlarut-larut tanpa kepastian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s