Poliginy in my eyes

Poligami? Polemik berkepanjangan yang senantiasa mewarnai lini masa di berbagai media sosial jika mulai dibahas kembali.

Let me start with a story of one of my friends. Saya mengenalnya (oke, inisialnya Z) sudah cukup lama dan memang mengetahui bahwa keluarganya menjalani poligami (poligini). Lahir dan besar di keluarga yang memiliki dua ibu dijalaninya dengan biasa saja (setidaknya begitu tampilan yang ia berikan pada saya).

Beberapa bulan lalu, saya mengunjungi kedua rumahnya untuk kali pertama. Kondisinya cukup berbeda, jika dilihat dari segi kerapihan dan kebersihan (saya tidak akan memberitahu which is which, let it be that way). Rumah kedua adalah rumah yang berisi ibu dan adik-adik kandungnya.

Ia bercerita, memang demikianlah keadaannya sejak dulu, ada perbedaan mencolok terkait kerapihan dan kebersihan. Yang menarik dari keluarga ini adalah setiap anak yang bersekolah tingkat SMP hingga SMA pasti akan tinggal di ibu yang kedua karena lokasi rumahnya yang berada di kota. Jadi, semuanya memang harus dapat berinteraksi dengan baik.

Tampaknya damai ya? Memang, karena semua memilih untuk berlaku seperti itu. Namun, dalamnya laut tidak ada yang mengetahui kecuali penghuni dasar laut, bukan?

Ketika saya menghabiskan malam dengan Z, saya merasa penasaran dengan kisahnya (terutama keluarganya). Apakah mereka terbebas dari pertengkaran dan rasa tidak nyaman? Jawabannya, sebagai seorang anak, adalah tentu saja tidak. Beberapa ketidaknyamanan di antara anak sering kali terjadi. Lalu, apa yang anak-anak ini lakukan? Menurut persepsi saya, setelah mendengar beberapa ceritanya, mereka cenderung menekannya sehingga “kedamaian” yang mereka pilih dapat tercipta. Bayangkan, berapa banyak masalah yang “ditekan” agar tidak muncul ke permukaan dan merusak kedamaian.

Pernah juga beberapa kali, orang yang bergelar “pemimpin agama” berusaha mendekati Z dan kemudian melamarnya. Apa yang aneh? Tidak ada, kecuali kenyataan bahwa mereka semua sudah beristri. Kaget? Saya yakin Anda tidak terlalu kaget membacanya karena sedari awal sudah saya paparkan tentang kehidupan keluarga Z. Mungkin para pria itu berpikir bahwa karena Z berada di dalam keluarga yang menjalani poligami maka dia sudah terbiasa dan dapat menerima poligami. Apakah lantas Z menerima atau bahkan mempertimbangkan khitbah tersebut? TIDAK. Dia menolaknya dengan sangat. Mengapa? Bukankah terlihat keluarganya baik-baik saja? Saya, lagi-lagi berasumsi bahwa sebenarnya kondisinya tidak senyaman dan sedamai itu.

Selama ini, yang menjadi perkara dalam pembahasan poligami hanya berkutan pada adilnya suami terhadap dua atau lebih istri. Kenyataannya? Akan ada lebih banyak yang terlibat. Apakah mereka terpikirkan tentang anak? Berapa anak yang akan hadir dalam keluarga yang berpoligami? Dapatkan bapak berbuat adil (bukan semata materi, tapi juga sisi psikologis [terpenuhinya peran bapak bagi setiap anak]) kepada semua? Apakah hal itu mudah dilakukan sehingga banyak pria yang memutuskan untuk berpoligami?

Hebat sekali yang sudah berpikir sepanjang itu dan memutuskan untuk tetap berpoligami. Adilnya sudah setara dengan Nabi. Semoga demikian adanya.

Wanita (An-Nisā’):3 – Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

Advertisements

Tentang Diri dan Tuhan

Tuhan memberi kita cobaan dalam bentuk yang berbeda. Beberapa hari lalu mendapatkan cerita dari seseorang tentang dua orang perempuan yang ia kenal dekat.

Sebut saja C dan D.

Kisah C dimulai dari proses taaruf yang membawanya ke sebuah pernikahan yang harmonis dan memiliki suami yang sabar, penyayang, dan ngemong. Keduanya bisa dibilang pasangan yang serasi dan bahagia. Namun, setelah melewati 6 tahun pernikahan, mereka tidak kunjung diberi momongan. Tidak ada pertengkaran yang terjadi dan suaminya tetap bersamanya serta selalu memberi penguatan positif. Mereka tetap bersama dan harmonis.

Kisah D juga dimulai dengan proses taaruf yang membawanya ke sebuah pernikahan yang cukup jauh dari mimpinya. Ia menikah dengan seorang pria berstatus duda cerai dan berusia sekitar 16 tahun di atas usianya. Perbedaan usia yang cukup jauh membuat komunikasi dan hubungan keduanya sering kali mengalami masalah. Mereka sudah memiliki 1 anak. Fyi, D menikah dengan niat awal untuk terlepas dari keluarganya karena ada masalah yang tidak sanggup ia hadapi. Sering kali berniat untuk bercerai, tetapi D kasihan melihat anaknya jika tidak memiliki bapak.

Ketika mendengar kedua kisah tersebut, saya sempat bingung. Jika saya harus memilih untuk berada di posisi C atau D, yang mana yang sebaiknya saya pilih?

Pernikahan, meskipun masih belum terlalu memahami proses taaruf, saya tidak antipati terhadap proses ini. Mengapa? Karena memang acara “pacaran” yang sekarang menjadi lazim, dapat membawa pasangan menuju zina. Namun, proses taaruf yang tidak melibatkan pengenalan masing-masing calon pasangan, agak absurd bagi saya untuk meneruskan ke jenjang pernikahan.

Pernikahan, bagi saya, adalah satu proses yang dilalui untuk hidup bersama seseorang sepanjang hidup dan karenanya akan sangat penting untuk memiliki tujuan dan cara mencapai tujuan yang sama. Ketika sudah ada visi yang sama dan cara menujunya yang sejalan, barulah tantangan di depan dapat dihadapi dengan saling berpegangan tangan untuk saling menguatkan dan mengingatkan.

Keturunan adalah salah satu (bukan satu-satunya) tujuan dilakukannya pernikahan. Dalam hal ini, prioritasnya akan sangat beragam di antara semua pasangan. Jika terdapat kesepahaman dan pengertian, bukan mustahil untuk terus menjalani pernikahan tanpa keturunan (meski dalam prosesnya mungkin akan ada banyak air mata dan drama).

Tetap saya tidak dapat memilih. Saya hanya meyakini satu hal, yaitu Tuhan mencintai setiap makhluknya. Oleh sebab itu, Tuhan sering kali membuat hambanya menjadi kuat dengan memberikan berbagai cobaan. Bersyukurlah pada setiap hal yang kita miliki dan rasakan karena tidak setiap orang memiliki dan merasakannya.

Eid Mubarak!

Lebaran di rumah saya identik dengan nastar yang kami buat bersama-sama dan ketupat serta masakan yang dibuat oleh mama. Masakan yang selalu ada, selain nastar dan kacang bawang, adalah opor ayam, ketupat, semur daging, serta sambal kentang.

Lalu, ada juga kebiasaan mengantar makanan ke orang yang lebih tua dari orang tua kami, yaitu para paman dan bibi. Dahulu, makanan yang menjadi hantaran adalah masakan yang dibuat sendiri (ketupat dan teman-temannya) yang dimuat di dalam rantang. Di tengah jalan ketika akan mengantarkan makanan tersebut biasanya akan bertemu dengan para sepupu yang bertugas sama.

Namun, kini makanan hantaran sudah berubah menjadi biskuit dan minuman ringan atau sirup (minimal siy dua itu).

Terpikir oleh saya untuk kembali menghidupkan budaya makanan hantaran yang dibuat sendiri, karenanya tahun lalu saya membuat schotel dan cake pisang sebagai hantaran.

Rasa-rasanya ketika saya dan adik-adik sudah berkeluarga nanti, saya akan menghidupkan kembali budaya makanan hantaran buatan sendiri. Mengapa? Karena buat saya, makanan hasil olahan sendiri menjadi simbol rasa cinta dan kasih kepada saudara. Bayangkan saja, sebelum memasak saya pasti memikirkan makanan apa yang kira2 disukai oleh orang yang akan saya buatkan masakan. Setelah itu, mengingat kembali rasa apa yang mereka sukai. Sambil memasak, saya membayangkan mereka memakan masakan saya dan menyukainya.

Yak! Nanti saya maunya diantarkan makanan buatan sendiri yang diwadahi rantang saja lah!

Lika-liku Gojek part 2

Malam kemarin, saya kembali ke Bandung dan mengejar waktu agar tiba di travel tepat waktu. Jadi, saya memutuskan untuk menggunakan jasa Gojek.

Pada artikel saya terdahulu yang membahas tentang Gojek, sempat ada cerita tentang betapa sulitnya driver Gojek untuk menyembunyikan identitasnya agar tidak “dikerjain” oleh driver ojek pangkalan dan kekhawatiran driver Gojek tentang keharusan untuk menggunakan atribut Gojeknya.

Kali ini, driver Gojek sudah memakai jaket dan memberikan helm Gojek. Penasaran, saya bertanya kepada bapak Gojek tentang keamanan mereka ketika menggunakan atribut Gojek dalam memberi pelayanan.

Mengejutkan! Pada awal penggunaan atribut Gojek, salah satu driver Gojek yang pada saat itu sedang membawa pelanggannya, diserang oleh driver ojek pangkalan di depan sebuah supermarket di tengah jalan besar. Ia dikeroyok dan dipukul menggunakan kayu, pelanggannya pun tak luput menjadi sasaran serangan itu. Driver Gojek tersebut akhirnya mengalami gegar otak dan pelanggannya juga mengalami luka-luka.

Setelah kejadian tersebut, sebagian besar driver Gojek melakukan konvoi melintasi jalan yang menjadi tempat kejadian perkara. Bukan, konvoi tersebut bukan bermaksud untuk melakukan serangan balasan. Hanya untuk menunjukkan solidaritas di antara driver Gojek.

Beberapa saat setelah konvoi tersebut, diadakanlah pertemuan antara kepolisian, pihak Gojek, dan para driver ojek jalanan. Singkat cerita, dicapailah kesepakatan untuk tetap bersatu dan tidak saling bermusuhan karena semuanya sama-sama orang Bandung, orang Sunda. Pelaku pengeroyokan pun dipenjarakan.

Kini, driver Gojek dapat melayani pelanggan tanpa rasa cemas dan takut. Perdamaian memang selalu indah dan memenangkan semua.

Sharing the same path

Salah satu dukungan yang dapat diperoleh dari kelompok swabantu (self-help) adalah edukasi. Edukasi terdiri dari informasi praktis, teknik koping yang berhasil, dan “pengetahuan berdasarkan pengalaman” yang dikumpulkan ketika anggota sedang berbagi pengalaman (O’Brien et al., 2008; Psychiatric mental health nursing: an introduction to theory and practice).

Saya menyunting buku tersebut dan memang menggemari ilmu keperawatan jiwa. Namun, memang benar salah satu quote yang pernah saya baca yang mengatakan bahwa seseorang harus mengalami suatu kondisi untuk dapat memperoleh pelajaran dari kondisi tersebut.

Sore tadi, saya sempat berbincang dengan salah seorang rekan kerja di kantor. Guess what? Dia punya pengalaman hidup yang sama dengan saya, ditinggalkan oleh pasangan untuk selamanya (yup.. Meninggal).

Kami akhirnya berbincang mulai dari awal perkenalan dengan pasangan hingga penyebab mereka meninggal. Mulai dari proses berduka hingga akhirnya dapat menerima. Mulai dari kehilangan diri sendiri hingga menemukannya kembali. Mulai dari koping hingga kisah saat ini.

Dia lebih cepat menerima dan mengikhlaskan kepergian pasangannya dibanding saya. Persamaan kami adalah kami dapat bangkit kembali karena Tuhan mempertemukan kami dengan seseorang yang dapat menyadarkan kami untuk tidak lagi meratapi kepergian pasangan.

Saya sibuk bercerita pada setiap sahabat yang saya temui setelah kepergian pasangan dan dia yang hanya berdiam diri dan mengendapkan pikiran dan perasaannya. Saya yang masih saja menganggap pasangan ada (bahkan “berbicara” dengan pasangan) ketika sidang skripsi dan dia yang juga kadang seakan sedang berbicara dengan pasangannya.

Kami mengalami hal yang sama, menghadapi kehilangan yang serupa. Meskipun begitu, saya tetap berpendapat bahwa luka yang sama tidak akan memberikan rasa sakit yang sama pada masing-masing individu. Jadi, tentu saja “rasa sakit” kami berbeda meski “lukanya” serupa.

Perbincangan saya sore tadi mengingatkan saya pada teori (di awal tulisan ini) di buku yang saya sunting. Saling berbagi pengalaman dengan seseorang yang memiliki pengalaman yang sama dengan kita dapat membantu meringankan dan mencari koping yang sesuai bagi diri.

Tanpa meniadakan atau tidak menghargai empati dari semua orang terdekat saya, saya bersyukur karena dapat berbagi dengan rekan kerja saya. Dia melalui tikungan hidup yang sama dengan saya sehingga rasanya dia sedikit banyak dapat mengerti apa yang saya alami.

Saat ini, kami sudah dapat melaluinya, tetapi cinta tersebut tetap ada di hati. Saat ini, kami sudah bertemu dengan orang lain yang dapat mengisi kembali hari-hari kami, teman berbagi, dan semoga menjadi mitra hidup kami (meski dalam kisah saya, kini orang itu tidak lagi bersama saya). Ya, saya bercerita tentang orang yang dapat memahami saya, kamu.

Percakapan dengan Kartini (1)

Dua sore lalu
Aku bertemu dengan dia yang harum namanya
Kartini
Begitu saja aku memanggilnya

Dia datang dengan senyum
Berkebaya lengkap dengan konde yang bersandar di batang lehernya
Jariknya tampak sederhana
Matanya masih sama
Jernih dan cerdas

Ni, begitu aku memanggilnya

Bagaimana kabarmu?
Tanyaku tanpa niat berbasa-basi
Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya
Bahkan, sebenarnya kami belum pernah bertemu

Baik
Ia tersenyum seraya menjawabku

B, bagaimana kehidupan perempuan Indonesia saat ini?
Ia bertanya tanpa pendahuluan lain

Ni, sekarang perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki
Mereka yang haus ilmu tidak lagi menahan dahaganya
Mereka pergi hingga ke mancanegara

Ni, semua orang memiliki hak yang sama utk memperoleh pendidikan
Tidak akan lagi kamu temukan anak yang dilarang bersekolah

(aku mengatur napas. Mulai mengingat kesedihan lain yg hadir di jaman ini)

B!
Saya bahagia mendengarnya
Tahukah kamu, pada jamanku dulu, perempuan diberi batasan
Pelayan atau rakyat pribumi biasa tidak berhak mengenyam pendidikan
Betapa susah saya mengumpulkan orang utk belajar

B,
Saya bersyukur akhirnya semua dapat mencicipi manis dan lezatnya ilmu
Saya bersyukur karena perempuan sudah tidak lagi dibatasi dalam memperoleh pendidikan
Jantung saya rasanya akan meledak karena terlalu bahagia!

(Saya memandang Kartini dengan tersenyum. Namun, akhir-akhir ini kemampuan saya utk berbohong menurun dgn sangat drastis. Saya menampakkan guratan kesedihan)

B,
Tapi mengapa mukamu menampakkan kesedihan?
Bukankah kamu sudah bebas dari belenggu?

Ni,
Saat ini bukan hanya perempuan yang memiliki keterbatasan
Bukan usia
Bukan jenis kelamin
Bukan pula strata sosial
Batas itu bernama kemiskinan dan kelaparan

Tahukah kau, Ni..
Berapa banyak anak yang tidak bersekolah
Bukan karena mereka perempuan
Bukan karena mereka pelayan
Bukan karena mereka tidak sepadan
Tapi karena mereka kelaparan

Kemiskinan telah membelenggu mereka
Bagi mereka, perut lebih utama
Tidak ada kata tidak ketika orangtua memaksa mereka bekerja
Sedari bayi, mereka sudah terbiasa dengan tebalnya asap dan debu, teriknya matahari, dan dinginnya ekspresi wajah

Ni,
Andai kau tahu
Betapa kemiskinan telah memupuskan cahaya asa
Betapa kemiskinan telah mengungkung mereka pada sedikitnya pilihan
Betapa kemiskinan telah menggerogoti kewarasan
Betapa kemiskinan melenyapkan mimpi mereka

Ni,
Dulu di jamanmu
Apakah kau temukan keluarga yang berada di satu tempat
Namun sebenarnya terpisah jauh?
Jaman sekarang, banyak yang begitu
Bapak, ibu, dan anak sudah berada di dunianya sendiri
Tidak ada lagi percakapan di meja makan

Ni,
Pernahkah kau alami,
Ketika kau merengek utk berpiknik dengan keluarga
Ketika tiba harinya, tak kau dapati siapa pun yg bernama keluarga?
Kamu hanya sendiri

Ni,
Saat ini anak-anak Indonesia menghadapi ujian yang nyata dlm hidup
Terabaikan dan dipaksa mandiri
Atau
Dikasihi dan dipaksa mencari nasi

B
Saya tidak mengerti dengan semua ini
Bagaimana bisa keluarga yang berada di rumah yg sama, tetapi saling berjauhan?
Bukankah tanah kita ini subur, mengapa anak2 itu dipaksa mencari makan sendiri?
Bagaimana bisa keluarga tidak lagi saling berbicara?

Ni,
Semuanya nyata terjadi
Saat ini

(kami menangis dalam diam. Sibuk dengan pikiran sendiri)

My fear

Saya merasa takut pada diri saya sendiri

Pernah satu ketika
Di kala hari berganti senja
Ada kebaikan yang ingin dibuat nyata
Beberapa tanya telah lelah mendera

Lalu
Kembali saya berbalik pada diri

Saya memiliki kriteria sendiri tentang baik
Kriteria yang membuat saya harus mampu mengendalikan diri
Bagai mengekang diri pada tali yang tidak kasat mata

Kebaikan itu kemudian gagal dibuat nyata
Berbagai rasa berkecamuk di dada

The Scars

Hari ini adalah kali kedua saya melihat parut yang saya duga merupakan bekas luka sayatan dalam upaya mengakhiri hidup. Luka pertama terletak di pergelangan tangan, tepat di vena di bawah telapak tangan. Luka kedua terletak di leher, tepat di garis vena jugular.

Pada luka pertama, mata saya tak henti menatap luka dan mengamati si empunya luka. Menarik, karena saya melihat tanda-tanda kecemasan pada dirinya. Di awal perjumpaan, saya mengamati kuku-kuku jarinya yang terlihat sering digigiti atau dicungkili karena permukaan kukunya tidak rata, cenderung berantakan. Selain kuku, kulit di pinggir kuku juga tak luput dari sasaran, terlihat beberapa pinggirnya dipenuhi oleh kulit yang melenting ke atas, tanda seringnya dikelupas. Tidak berapa lama, perempuan itu mulai melakukan kebiasaannya, menggigiti kuku dan kulit sekitar kukunya. Dia tampak cemas dengan pandangan yang menerawang dan gerakan berulang yang menyakiti dirinya. Mungkin dia menemukan nyaman di sana. Saya sempat menangkap “rasa” yang berkecamuk di pikir perempuan itu. Cukup berat dan terasa menyesakkan rongga paru.

Luka kedua saya temukan pada seorang perempuan juga. Jaringan parut yang akhirnya menandai lehernya, tepat melintas vena jugular, membuat saya menduga dia pernah melakukan upaya bunuh diri. Namun, berbeda dengan yang pertama, saya justru tidak merasakan kuatnya dugaan tersebut. Entah mengapa, saya malah menduganya pernah mengalami tindak kriminal (entah dijambret kalungnya atau diancam menggunakan pisau) yang membuatnya memiliki jaringan parut tersebut.

Dan, lagi, pikiran saya menjurus pada “Mengapa luka tersebut saya lihat pada perempuan? Apa yang telah mereka lalui? Apakah sebegitu beratnya hidup yang mereka jalani?” Tergoda untuk menuliskan kisah mereka yang saya buat, tetapi tampaknya air mata saya akan mengalir deras di tengah proses penulisannya. Mungkin nanti.

Be strong, ladies. Don’t let anything defeats you.

With love,
B

A newly wed couple

Siang ini, well lebih tepatnya seharian ini, seorang teman membicarakan tentang keinginannya untuk memiliki anak. Fyi, dia menikah Desember lalu, jadi ya belum lama juga ya.

Dua senior-senior nikah di kantor mencekokinya dengan pelajaran berhubungan intim (disertai posisi-posisinya). Teman saya siy tidak secara gamblang memberi tahu tentang keinginannya untuk segera memiliki anak atau bertanya tentang teknik berhubungan intim, tetapi senior-senior nikah itu sudah kadung bercerita panjang lebar meski teman saya tidak ingin mendengarnya.

Namun, pada akhirnya, teman saya memang bertanya tentang teknik berhubungan intim ke teman kami yang lain. Lucunya, saya berada di antara mereka dan mereka merasa kasihan atau lucu atau merasa saya belum pantas untuk mendengarkan tentang hal tersebut. Padahal, sejak mereka belum menikah pun saya sudah dimintai konsultasi tentang hubungan intim. Ya, meski memang (seperti yang salah satu teman saya bilang) saya memang belum ahli dalam pengaplikasian topik tersebut. Ya, saya belum menikah dan memutuskan untuk tidak berhubungan intim sebelum menikah.

Saya hanya berkata kepada teman saya untuk rajin mengonsumsi asupan kaya vitamin B. Selain itu, saya menganjurkan pasangan ini untuk menjadi pasangan sehat. Menurut saya, jalan pagi di sebuah taman sambil berpegangan tangan, mengobrol, dan sesekali saling bertatapan dapat memberi banyak keuntungan. Mereka dapat menjadi sehat dan makin memahami satu sama lain. Selain itu, berjalan pagi bersama di taman dapat menjadi salah satu cara untuk memupuk dan mempertahankan keromantisan.

Berbicara tentang apa pun karena di hari kerja, waktu untuk bertemu dan berbincang lebih sedikit dibanding di akhir pekan. Menjadi sehat bersama adalah salah satu harapan saya jika saya memiliki pasangan, saling menjaga dan mengingatkan.

Pikiran yang tenang dan rileks akan membuat tubuh menjadi lebih sehat, bukan tidak mungkin bahwa cara ini dapat membuat mereka segera memiliki keturunan.

Saya jadi membayangkan savasana di taman yang dipenuhi oleh pepohonan. Tenang dan damai rasanya. Hmmm…

With love,
B

Flu Singapur atau penyakit kaki, tangan, dan mulut (KTM)

Bulan ini, kira-kira sudah ada dua teman yang anaknya menderita flu singapur. Sementara, saya masih belum familiar dengan penyakit ini sehingga timbul rasa ingin tahu yang besar. Well, karena salah satu kasusnya terjadi tidak begitu jauh dari lingkungan rumah, tidak salah kan kalau saya merasa perlu mewaspadainya.

Inilah hasil belajar saya malam ini.

Flu Singapur
Flu singapur adalah nama lain dari hand, foot, and mouth disease (penyakit kaki, tangan, dan mulut, KTM), yaitu penyakit akibat virus yang umum yang biasanya dialami oleh bayi dan anak yang berusia kurang dari 5 tahun. Namun, kadang dapat dialami oleh orang dewasa.

Penyakit ini biasanya diawali dengan demam, berkurangnya nafsu makan, radang tenggorok, dan perasaan tidak enak badan (malaise). Satu atau 2 hari setelah demam mulai terjadi, seriawan yang terasa nyeri mulai muncul di mulut (herpangina). Seriawan ini dimulai, sering kali dari bagian belakang mulut, dalam bentuk lepuhan titik kemerahan dan dapat menjadi seperti bisul. Ruam kulit berupa bercak kemerahan, dan kadang disertai lepuhan, dapat terjadi juga selama satu atau dua hari pada telapak tangan dan kaki; dapat terjadi juga di lutut, siku, bokong, atau area genital.

image

Beberapa individu, khususnya anak kecil, dapat mengalami dehidrasi jika mereka tidak mampu menelan cairan secara adekuat akibat seriawan yang terasa amat nyeri.

Tidak semua individu akan mengalami gejala tersebut. Beberapa orang, khususnya orang dewasa, dapat tidak menunjukkan gejala apa pun, tetapi mereka tetap dapat menyebarkan virus ke orang lain.

Bila ada muntahdiare atau dehidrasi dan lemah atau komplikasi lain maka penderita tersebut harus dirawat.

Jenis virus tertentu gejalanya dapat lebih parah yaitu :

Demam tinggi lebih dari 38 C selama 2 hari.Ada gejala flu, sesak napas, kejang-kejang, ulkus, seriawan pada rongga mulut, lidah, dan kerongkongan.

Jika timbul gejala seperti ini harap sesegera mungkin dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan intensif karena dapat menyebabkan kematian. Tempo pengasingan yang disarankan adalah hingga lepuh kering.

Penyebab

Penyakit ini disebabkan oleh kelompok virus genus Enterovirus, mencakup  poliovirus, coxsackieviruses, echoviruses, and enterovirus.

Penyebaran

Virus yang menyebabkan penyakit ini dapat ditemukan pada:

> Sekresi (keluaran) hidung dan tenggorok (seperti saliva (ludah), sputum (dahak), atau cairan hidung), cairan yang keluar dari lepuhan di kulit, dan feses.

Individu yang terinfeksi dapat menularkannya ke orang lain melalui:

> Kontak dekat secara pribadi, udara (ketika batuk atau bersin), kontak dengan feses, kontak dengan benda atau permukaan yang terkontaminasi.

Secara umum, penyakit ini sangat menular pada minggu pertama terjadinya penyakit. Terkadang, orang dapat menulari orang lain pada beberapa hari atau minggu setelah gejala teratasi. Namun, penularan ini dapat diminimalisir dengan mempertahankan higiene yang baik (mis., dengan mencuci tangan).

Individu yang mengalami penyakit ini harus tetap berada di dalam rumah. Konsultasikan dengan dokter tentang waktu memulai kembali aktivitasnya. Penyakit ini tidak ditularkan ke atau melalui hewan

Pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui adanya virus dapat diperiksa dari sampel yang diambil dari tenggorok atau feses.

Belum tersedia vaksin untuk penyakit ini. Namun, risiko infeksi dapat diminimalisir dengan cara:
sering mencuci tangan menggunakan sabun dan air, terutama setelah mengganti popok dan menggunakan toilet.

Membersihkan dan mendesinfeksi permukaan dan mainan yang sering disentuh.

Menghindari kontak dekat, seperti mencium, memeluk, atau menggunakan alat makan atau minum secara bersama dengan individu yang menderita penyakit ini.

Terapi
Harus ditekankan pentingnya asupan cairan yang adekuat, adanya seriawan yang terasa nyeri mungkin akan menghambat pemenuhan kebutuhan cairan karena rasa nyeri ketika menelan. Jika kebutuhan cairan tidak dapat terpenuhi akibat susah menelan, pasien akan memerlukan infus intravena.

Tidak ada terapi spesifik untuk penyakit ini. Namun, dapat dilakukan beberapa cara untuk meringankan gejala, antara lain meminum obat bebas untuk meredakan nyeri dan demam, menggunakan obat kumur untuk mengurangi nyeri mulut.

Referensi:
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Flu_Singapura
http://www.cdc.gov/hand-foot-mouth/about/index.html

Jadi, kalo menurut saya siyh, flu singapur ini cara menanganinya sama dengan flu biasa, yaitu dgn meningkatkan daya tahan tubuh. Biasanya kalo saya akan menambah asupan makanan (dengan gizi seimbang, memperbanyak sayur dan buah) dan minuman, mengonsumsi suplemen vitamin C (atau B kompleks bagi penderita gastritis [orang awam menyebutnya sakit maagh]), dan banyak istirahat. Oh, dan juga berjemur saat pagi hari.

Yang berbeda pada flu singapur adalah adanya seriawan yang mengganggu asupan makanan dan minuman sehingga dpt memperparah kondisi saat ini. Pada anak akan sangat sulit untuk menerapkan cara saya tadi, tetapi kesabaran dan kegigihan orangtua akan berperan penting dlm penyembuhan.