Me in a choir

Suatu hari, lama setelah konser berlangsung, salah seorang pelatih sekaligus senior sekaligus teman nyanyi saya mengirimkan pesan ini ke grup whatsapp paduan suara kami (Paduan Suara Alumni Unpad):

Teman temin temun temon yang cantik jelita tampan rupawan,

Sabtu kemaren saya ketemuan dengan temen dan ibunya yang nonton konser kita di Jakarta tempo hari.

Cukup mengharukan ibunya berterimakasih berulang-ulang sama saya karena dia merasa sangat terhibur batinnya. Berat ya terhibur batin. Lantaran keluarga mereka belum lama baru kehilangan suami/ayah mereka jadi masih dalam suasana kesripahan. Nah saat nonton konser itu si ibu sangat gembira dan – walaupun mungkin cuma sejenak – bisa lupa sedihnya. Kata anaknya ibunya masih ngomongin tentang konser kita sampai beberapa hari setelahnya. (Kalo sampe sekarang masih sebetulnya aneh)

Kata anaknya pula, ibunya biasanya sangat picky soal tontonan pertunjukan, tapi konser Mana Suaramu Lagi dia luar biasa seneng. Favoritnya tentu saya (karena kenal 😜😜), kemudian lagu Romo Ono Maling, trio, sama “sing nganggo wig kuwi lho, mas”, sama “cah lanang sing nyanyi karo main piano, suarane apik”. Hehehehe…

Secara khusus ibu Hadiono berterimakasih sama kita. “Nek konser meneh tante arep nonton meneh lho, mas.” Gitu katanya…

Seneng ya menularkan kebahagiaan…

Saya kebetulan adalah penyanyi yang sukanya melihat ke seluruh penonton ketika bernyanyi. Memandang semuanya sembari mengeluarkan ekspresi yang senada dengan lagu, inginnya siy seperti sedang berbicara kepada penonton melalui bernyanyi dan menyampaikan jiwa lagu dgn sepenuh hati.

Nah, kebetulan saya juga sempat bertukar pandang dengan ibu yang diceritakan oleh teman saya. Senyum beliau merekah dengan sorot mata yang berkilauan. Tampak sekali bahwa beliau menikmati penampilan kami.

Sebenarnya, bagi saya, momen yang dialami ibu tersebut adalah salah satu prestasi tertinggi bagi saya sebagai penyanyi. Menghilangkan duka meski sesaat, memberi ruang bagi senyum untuk kembali merekah, dan membuat penonton menikmati suguhan kami adalah kesenangan yang luar biasa bagi saya ketika bernyanyi.

Berbicara tentang dunia tarik suara, sebenarnya diawali sejak kecil. Dulu, saya suka sekali bernyanyi mengikuti lagu yang diputar di radio. Bahkan, saya membuat kliping lirik lagu yang biasa saya nyanyikan, sepertinya lagu2 almh. Nike Ardilla turut saya nyanyikan.

Terceburnya saya di wadah paduan suara dimulai ketika saya kuliah. Setahun setelah menjadi mahasiswa baru, saya mendaftarkan diri untuk ikut paduan suara di kampus. Paduan Suara Mahasiswa Unpad. Tidak langsung menikmati dan tidak langsung berambisi untuk menjadi salah satu penyanyi di acara konser tahunan. Setelah 1 tahun bergabung, saya baru mulai daftar tes penyanyi konser, syukurlah lolos. Lalu, vakum setahun, ikut tes penyanyi konser lagi. Kesempatan untuk dilatih privat oleh pelatih utama pun terlewatkan karena waktu kami selalu bertabrakan.

Saya bukanlah penyanyi yang effortless ketika mencapai nada tinggi, pun bukan penyanyi yang pandai merangkai nada ketika dihadapkan pada partitur. Namun, cinta yang sebegitu dalamnya terhadap paduan suara dan kerinduan untuk bernyanyi bersama membuat saya selalu antusias untuk mengikuti konser atau acara nyanyi bersama paduan suara.

Cinta saya tumbuh secara perlahan dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Setelah cinta itu tumbuh, ia akan mengakar sangat dalam di diri saya. Begitulah proses saya ketika mencintai seseorang atau sesuatu.

Note: Saat ini sedang pdkt dgn yoga. Tidak terburu-buru memaksa diri agar jatuh cinta, saya hanya mendekati dan menikmatinya saat ini. Entah akankah ia mengakar nantinya.

Advertisements

Grandma in my heart

4 Februari 2014

My beloved grandma passed away.

Oma selalu meminta saya membereskan tempat tidur segera setelah bangun tidur. Hal yang tidak pernah diminta oleh orangtua saya di rumah, tetapi sering saya lakukan. Beliau mengajarkan saya untuk hidup rapih dan bersih. Hal ini juga yang selalu saya lakukan, baik di rumah maupun ketika menginap.

Sebelum sarapan, oma selalu menyuruh saya untuk membersihkan rumah dan halaman depan, kemudian membantunya dengan melakukan hal-hal kecil. Setelah semua selesai, saya baru boleh sarapan. Beliau bilang “Dalam hidup, kita harus bekerja dulu sebelum bisa makan” dan memang begitulah realita hidup yang dijalani manusia ketika mencapai masa dewasa.

Meskipun dapat meminta bantuan orang lain untuk mengurus kartu identitas, oma tetap bersikeras agar saya mengurusnya sendiri. Mulai dari tingkat RT hingga akhirnya kartu identitas tersebut diberikan kepada saya. Beliau mengajarkan saya untuk hidup secara lurus, mengetahui jalur birokrasi, memperlihatkan berbagai karakter orang, dan menolak untuk memberikan “pelicin” guna meminimalisir korupsi.

Mie instan sebenarnya adalah makanan yang mudah dan murah untuk disantap. Namun, mie instan menjadi barang mahal bagi saya ketika tinggal bersama oma. Beliau mengajarkan saya untuk makan makanan yang sehat, sebisa mungkin mempersiapkan makanan sendiri dengan bahan-bahan yang sehat.

Sebisa mungkin, oma selalu memasak pada hari-hari istimewa. Oma mempersiapkan masakan kesukaan bagi mereka yang akan berkunjung atau berulang tahun atau merayakan hari besar. Ketika saya dapat membuat kue, oma akan dengan sangat senang menyuruh saya membuatkannya untuk orang-orang terdekat. Beliau mengajarkan saya untuk memberikan cinta dan kasih sayang yang tulus dan berproses. Dalam mempersiakan makanan, kita akan menjalani beragam proses yang membutuhkan perhatian dan konsentrasi yang utuh, tidak terbagi. Cara terbaik untuk menyampaikan bahwa kita benar-benar menyayangi orang terdekat adalah dengan memasakkan makanan untuk mereka, dengan sepenuh hati.

Oma selalu menerima orang yang berkunjung ke rumah dengan tangan terbuka dan keramahan, meski beberapa orang yang datang tidak memiliki niat yang baik. Oma selalu meminta saya untuk menghormati orang yang lebih tua, memberi panggilan yang tepat (om, mas, tante, dst). Beliau mengajarkan saya untuk menghormati tamu dan orang yang lebih tua, apa pun adanya mereka. Namun, bukan berarti kemudian saya mudah dijahati, banyak kata-kata baik yang dapat kita keluarkan untuk menangani hal jahat sekalipun.

Oma mengajarkan saya untuk menyelesaikan masalah saya, sebisa mungkin, sendiri. Mengajarkan saya untuk berpikir jauh tentang berbagai kemungkinan ketika dihadapkan dengan berbagai pilihan. Beliau membuat saya menjadi pribadi mandiri dan bertanggung jawab terhadap pilihan yang saya buat. Ketika menghadapi pilihan, saya diajarkan untuk berpikir jauh ke depan sehingga dapat mengetahui apa yang mungkin saya hadapi dan bersiap untuk menjalaninya.

Oma menjadi pembentuk kepribadian saya saat ini, sosok yang menyayangi saya dengan caranya sendiri. Beliau selalu senang melihat saya bernyanyi, satu ketika beliau menunggu say di satu saluran TV yang menayangkan saya ketika bernyanyi. Begitu senangnya dia, hingga senyumnya mengembang hingga saya tiba di rumah setelah acara tersebut selesai

Oma menjadi guru kehidupan yang selalu mengajarkan agar menjadi perempuan yang kuat dan tegar. Beliau menunjukkannya melalui kesehariannya, bukan hanya dengan menceramahi.

Saya akan selalu merindukannya.

Love you, always, oma.. 

image

Sharing the same path

Salah satu dukungan yang dapat diperoleh dari kelompok swabantu (self-help) adalah edukasi. Edukasi terdiri dari informasi praktis, teknik koping yang berhasil, dan “pengetahuan berdasarkan pengalaman” yang dikumpulkan ketika anggota sedang berbagi pengalaman (O’Brien et al., 2008; Psychiatric mental health nursing: an introduction to theory and practice).

Saya menyunting buku tersebut dan memang menggemari ilmu keperawatan jiwa. Namun, memang benar salah satu quote yang pernah saya baca yang mengatakan bahwa seseorang harus mengalami suatu kondisi untuk dapat memperoleh pelajaran dari kondisi tersebut.

Sore tadi, saya sempat berbincang dengan salah seorang rekan kerja di kantor. Guess what? Dia punya pengalaman hidup yang sama dengan saya, ditinggalkan oleh pasangan untuk selamanya (yup.. Meninggal).

Kami akhirnya berbincang mulai dari awal perkenalan dengan pasangan hingga penyebab mereka meninggal. Mulai dari proses berduka hingga akhirnya dapat menerima. Mulai dari kehilangan diri sendiri hingga menemukannya kembali. Mulai dari koping hingga kisah saat ini.

Dia lebih cepat menerima dan mengikhlaskan kepergian pasangannya dibanding saya. Persamaan kami adalah kami dapat bangkit kembali karena Tuhan mempertemukan kami dengan seseorang yang dapat menyadarkan kami untuk tidak lagi meratapi kepergian pasangan.

Saya sibuk bercerita pada setiap sahabat yang saya temui setelah kepergian pasangan dan dia yang hanya berdiam diri dan mengendapkan pikiran dan perasaannya. Saya yang masih saja menganggap pasangan ada (bahkan “berbicara” dengan pasangan) ketika sidang skripsi dan dia yang juga kadang seakan sedang berbicara dengan pasangannya.

Kami mengalami hal yang sama, menghadapi kehilangan yang serupa. Meskipun begitu, saya tetap berpendapat bahwa luka yang sama tidak akan memberikan rasa sakit yang sama pada masing-masing individu. Jadi, tentu saja “rasa sakit” kami berbeda meski “lukanya” serupa.

Perbincangan saya sore tadi mengingatkan saya pada teori (di awal tulisan ini) di buku yang saya sunting. Saling berbagi pengalaman dengan seseorang yang memiliki pengalaman yang sama dengan kita dapat membantu meringankan dan mencari koping yang sesuai bagi diri.

Tanpa meniadakan atau tidak menghargai empati dari semua orang terdekat saya, saya bersyukur karena dapat berbagi dengan rekan kerja saya. Dia melalui tikungan hidup yang sama dengan saya sehingga rasanya dia sedikit banyak dapat mengerti apa yang saya alami.

Saat ini, kami sudah dapat melaluinya, tetapi cinta tersebut tetap ada di hati. Saat ini, kami sudah bertemu dengan orang lain yang dapat mengisi kembali hari-hari kami, teman berbagi, dan semoga menjadi mitra hidup kami (meski dalam kisah saya, kini orang itu tidak lagi bersama saya). Ya, saya bercerita tentang orang yang dapat memahami saya, kamu.

Valentine’s Day Morning

Haduh, rasanya seperti abg saja ketika membahas hari kasih sayang ini.

Tidak pernah sebelumnya menganggap hari ini adalah hari yang istimewa dan berbeda dari hari biasanya. Namun, dua tahun lalu, saya merasakan perbedaan. Bukan karena kiriman bunga, cokelat, atau janji makan malam bersama. Bukan juga karena pesan tulisan atau suara yang bernadakan cinta.

Hari ini, dua tahun lalu, seseorang mengirimkan foto dirinya dalam posisi merentangkan tangannya ke samping, pose bersiap untuk memeluk disertai senyum untuk saya. Kemudian, sebuah pesan mengikutinya, “Happy valentine’s day, I love you”. Begitu saja, sederhana, tanpa sesuatu yang mencengangkan.

Dan, hari itu berjalan seperti biasa, kami tetap berbincang dan merindu, hari yang normal. Tidak setiap hari, tetapi sering kali kami saling mengucapkan “I love you.”

Sering kali, kesederhanaan dapat menyentuh hati saya lebih dalam. Tentunya karena berasal dari orang yang saya anggap istimewa. Sebenarnya, cinta adalah bentuk rasa dasar yang dibutuhkan manusia yang bersifat sederhana.

Tidak perlu dirayakan sebenarnya karena setiap hari selalu ada cinta. Dan, mengapa perlu dibesar2kan dengan perayaan yang tidak berarti? Jika setiap hari saja cinta sudah dinyatakan dan ditunjukkan, tidak perlu lah itu valentine’s day.

With love,
B

The evergreen topic, yes, I am talking about love

Di benak, pernah terlintas “Apakah tidak ada orang yang menyukai saya? Apakah saya tidak pantas untuk dicintai?”

Bagaimana kalau pertanyaan tersebut dibalik? Maka kita akan bertanya “Siapa yang mau saya sukai? Orang seperti apa yang pantas saya cintai?”

Mulailah dengan menyingkirkan rasa mengasihani dan menyalahkan diri sendiri. Meski kalimat ini klise, saya akan mengulangnya “tidak ada orang yang sempurna”. Kita tidak sempurna dan orang lain pun begitu. Jadi, ketika kita mempertanyakan kepantasan diri kita, ingatlah bahwa orang lain pun sama tidak sempurnanya seperti kita.

Kemudian, pikirkan dan buatlah daftar realistis terkait orang yang rencananya akan kita cintai. Karakteristik kepantasan yang realistis. Namun, harus diingat pula bahwa kita pun harus memiliki karakteristik tersebut.

Cinta dapat datang semaunya tanpa memedulikan keinginan kita. Ia dapat datang di waktu yang tidak tepat. Ia dapat mempertemukan kita dengan orang yang sama sekali tidak memenuhi kriteria kita. Cinta membuat banyak pengecualian terhadap ketidaksesuaian yang dihadapkan di muka kita.

Selamat berburu dan diburu,
B

Hujan yang menyenangkan

Mengapa sebagian besar orang cenderung mengaitkan hujan dengan kesedihan?

Hujan membuat kita bisa bersama lebih lama, seperti sore ini. Kita membuat janji temu di sebuah tempat yang menyajikan beragam makanan kecil dan minuman. Tempat kecil yang cukup nyaman yang diisi tiga buah sofa besar beserta mejanya yang pendek dan empat buah meja yang masing-masing dikelilingi empat kursi kayu beraneka warna. Dindingnya dihiasi tempelan berupa beragam bahan makanan dan minuman yang disajikan.

Kita duduk di sebuah sofa yang cukup untuk dua orang yang berwarna cokelat, sofa yang cukup nyaman karena empuk. Kau sampai lebih dulu di tempat itu, sementara aku berlari kecil menuju pintu masuk karena melihatmu sudah menunggu di sofa itu. Kau sudah asyik dengan bukumu.

Hujan turun tepat ketika aku merebahkan diri di sofa, syukurlah. Sesaat kita saling memandang dan tersenyum, kemudian mulai asyik menikmati aroma hujan dan kesejukan yang dibawanya. Aku berharap hujan turun cukup lebat sore itu agar kita bisa bersama lebih lama.

Kau memesan lemon hangat dan fruit salad, sementara aku memesan chamomile tea dan sepotong red velvet cake. Lalu, setelah pelayan pergi, kau mulai menggodaku. Membahas tentang pesananku yang memiliki dampak yang berkebalikan. “Chamomile dapat menurunkan kadar gula darah, itu aku paham karena kamu sadar betul bahwa terdapat riwayat diabetes di keluargamu. Tapi, kenapa kamu juga memesan red velvet, mau kembali menaikkan kadar glukosa?” ujarmu. Ah, kamu selalu begitu, tapi aku juga punya jawaban sendiri, “Aku sedang kram perut, jadi boleh dong merelakskan otot-otot perutku.”

Selalu begitu, ada saja yang membuat kita melakukan perdebatan kecil. Namun, hal itulah yang aku rindukan jika tidak bertemu atau berbincang dengan kamu. Setelah perdebatan yang diakhiri dengan kamu memakan setengah red velvet yang aku pesan, kita mulai berbicara tentang hari-hari yang kita habiskan di tempat yang berbeda. Kamu bercerita tentang betapa ruwetnya berurusan dengan beberapa orang yang bekerja denganmu dan aku terus bercerita tentang tenggat waktu yang terlewat dan pekerjaan yang menanti setelah pekerjaan yang sekarang selesai. Aku yang bersemangat menceritakan tentang latihan bernyanyiku dan kamu yang bercerita tentang hobi yang baru saja mulai kamu sukai.

Setelah puas bercerita, kita terdiam dan sesekali saling menatap. Entah menatap seraya tersenyum atau mengerutkan dahi. Masing-masing sibuk dengan pikirnya sendiri, tetapi menikmati keheningan yang terjadi. Sesekali menyesap minuman dan saling menyuapi makanan yang dipesan. Hujan masih menyenandungkan irama yang indah dan menguarkan aroma yang khas.

Malam pun tiba, kita harus bergegas kembali ke nyata. Namun, tidak cemas karena kerinduan akan segera terbayar lunas esok hari ketika kita kembali berjumpa. Andai saja malam dapat kita lewati bersama. Kamu berada di sampingku, melewatkan tiap menit berdua. Mari kita kembali ke rumah masing-masing agar dapat mengistirahatkan raga yang lebih lelah dari jiwa.

referensi chamomile: http://www.carakhasiatmanfaat.com/artikel/khasiat-bunga-chamomile-bagi-kesehatan.html

A cold day

Saya menyadari betul betapa dulu cinta itu pernah ada.  Menghantui siang dan malam bagai udara yang selalu mengisi paru.

Saya memahami betul mengapa saya takut dengan cinta, tidak, yang benar adalah betapa saya takut mencintai orang. “Mengapa?” katamu. Tidakkah kau tahu bahwa cinta bersifat konstan, tidak berubah, sementara orang akan selalu berubah.

Saya percaya betul bahwa pada satu ketika orang akan meninggalkan saya. Sendiri, sedih, dan sepi. Lalu, kau hanya tertawa sambil berjanji bahwa semua itu tidak akan terjadi.

Ah, ingin betul saya mempercayai kata-katamu. Bahwa tidak akan tiba satu hari tanpamu. Tidak akan ada masa saya bersedih berteman sepi.

Dan, hari ini terasa dingin. Saya sendiri. Sejauh apa pun langkah kaki saya berusaha mencari, kamu tidak ada di mana pun. Kamu pergi dari hidup saya. Dan dingin ini begitu menusuk hingga tiap sel saya terasa beku. Tangis tak lagi dapat saya lakukan karena saya membeku, terdiam, tertampar nyata bahwa kamu tidak lagi ada.

Betapa banyak pun kepingan yang hancur setelah kamu meninggalkan saya, satu hari ketika kamu kembali, saya yakin akan dapat mengumpulkan setiap kepingan dan serpihan hati dan memberikannya kembali ke tanganmu.

Betapa saya ingin betul mengulang semua yang terjadi. Saya akan tetap memilih untuk bertemu denganmu. Tetap akan memilih jalan yang bersimpangan dengan jalanmu. Tetap memilih mata dan senyum itu, tetap memilih untuk memegang erat janji dan tanganmu, tetap memilih untuk mendengarkan suaramu.

Hari ini begitu dingin, tulangku terasa ngilu. Pedih berkepanjangan. Bukankah sudah saya bilang bahwa orang akan berubah bentuk dan sifat, maka harusnya saat ini saya tenang karena sudah mengetahui bahwa kepergianmu akan terjadi. Namun, cinta itu sifatnya  konstan sehingga akan tetap ada. Saya mencintaimu, terus.

Saya akan berteman dengan dingin.

Xoxo,
B

Posted from WordPress for Android

You, my friend, deserve happiness as we all do

Di tengah musim nikah seperti sekarang ini, akan ada banyak orang yg masih sendiri yg memimpikan pernikahannya. Kegamangan berbalut kenangan akan orang terkasih yg dulu mewarnai hari akan serta merta merajai hari.  Kekasih yg saat ini menempati ruang hati akan menjadi pelengkap mimpi pernikahan. Berbagai asa dan hampa beterbangan bebas di pikir.

Pun siang ini, seorang teman mengirimkan gambar pernikahan yg sepertinya ia impikan..

image

Pernikahan PM Luxemburg.

Teman itu sedang menjalin hubungan dengan seseorang yg sangat baik dan kali ini sangat pas utk teman saya. Saya cukup tahu perjalanan asmara yg sebelumnya sehingga saya bersyukur dan senang ketika ia akhirnya menemukan org yg amat sesuai dengannya.

Melihat foto tersebut dan maraknya acara pernikahan menjelang puasa, teman saya dan pasangannya pun memiliki keinginan utk bersatu dlm pernikahan. Namun, semuanya terasa mustahil. Ah, betapa berat beban yg mereka pikul saat ini.

Namun, di negara ini, mereka tdk dapat disatukan dalam tali pernikahan. Mereka hanya dapat menikmati dan menghargai saat ini, ketika kebersamaan masih dapat direguk. Tidak ada pihak yg dirugikan jika mereka terus bersama, karena keduanya tdk memiliki ikatan lain. Mereka saling melengkapi dan menemani.

Saya tidak heran jika ada di antara pembaca yg mengerutkan dahi, berdecak jijik atau marah, bahkan menghujat teman saya dan pasangannya itu.  Namun, sebagai manusia yg pernah mengenal cinta, Anda pasti sangat paham dengan kondisi mereka saat ini kan?

Kenalilah mereka, pahami ttg riwayat mereka, dan lihatlah mereka sebagai manusia. Kita tdk bisa mewakili Tuhan utk menghakimi siapa atau apa pun. Biarlah urusan akhirat menjadi urusan mereka dan Tuhan, toh pd hari akhir kita semua bertanggung jawab atas diri kita sendiri kan. 

Tapi, terserah lah.

Xoxo,
B

Posted from WordPress for Android

Segitiga

Apa yg terbayang ketika menemukan kata “segitiga”?

Segitiga sama sisi
Segitiga sama kaki
Segitiga tak beraturan

Hidup saya memang penuh drama, kali ini cerita segitiga kembali berulang.

Bisa dibayangkan kan bagaimana rasanya menjadi perempuan yang disukai oleh lelaki yang disukai teman kita sendiri?

Sebentar, ada yg harus saya informasikan sebelum pembaca tulisan ini berimajinasi bahwa saya adalah perempuan cantik, berbadan proporsional, kaya, murah senyum, dan segala hal yg disukai lelaki. Hentikan imajinasi itu karena saya tidak seperti itu, jauh dari situ. Saya hanya perempuan biasa yg berwajah biasa, sering terlihat judes, jarang senyum, dan badan saya bisa dibilang agak besar. Namun, kalau kalian lbh memilih imajinasi kalian, silahkan saja.

Mari kita lanjutkan. Sejak awal, saya tahu bahwa lelaki itu menyukai saya. Nah, karena itu saya menjauhinya, jarang menanggapi obrolan atau senyumnya, hanya berbicara seperlunya, dan sebisa mungkin tdk  dekat2 dgn dia. Alasannya jelas, pertama krn teman saya menyukai lelaki itu dan kedua karena saya memang tdk tertarik padanya.

Lelaki itu sepertinya menyadari bahwa saya menjauhinya. Akhirnya, dia jarang mendekati dan berbicara pada saya. Teman saya mengetahuinya dan memilih utk menutup mata dan terus menyukai lelaki itu.

Kejadian seperti ini bukan kali pertama saya alami. Sebelumnya, malah bukan lagi segitiga, tetapi segi mmm sebentar saya hitung dulu, OH segilima. Tiga lelaki dan dua perempuan. Lagi2 saya dan perempuan itu berteman, dia menyukai lelaki yang menyukai saya. Dua lelaki menyukai saya, satu lelaki menyukai dia, kami berlima ada dalam pusaran rasa suka yang bersudut. Anehnya, saya tidak menyukai siapa pun di antara kedua lelaki tersebut.

Posisi saya menjadi serba salah. Saya tidak bisa menyuruh org lain utk menyukai org yg tdk disukainya. Saya tdk bisa menolak ketika teman perempuan saya ingin curhat. Tidak ada yg bisa saya ubah, kecuali diri saya.

Kisah segilima berakhir dengan teman perempuan saya pacaran dgn lelaki yg menyukainya. Dua lelaki yg menyukai saya tetap menyukai dan dekat dgn saya, kami bersahabat, eh saya bersahabat dgn mereka tetapi mereka tdk saling bersahabat.

Masalah rasa dan cinta adalah masalah yg dihadapi setiap orang. Entah mengapa kadang benangnya terlalu kusut dan rumit. Kadang, benang yg saling menyambung, terputus di tengah jalan. Kadang, dua benang menyatu kemudian terputus dan pada satu ketika bersambungan kembali.

Sementara saya terperangkap di antara hamparan benang yang ujungnya sulit untuk dirunut.

Cinta, entah apa.. Rumit.. Tak masuk akal.. Indah.. Menyenangkan.. Memicu tangis berkepanjangan.. Penyebab lara.. Penghapus dahaga.. Penenang..

Sampai di sini, saya masih bertanya tentang apa, mengapa, bagaimana, kapan, siapa..

Posted from WordPress for Android

Jejak

Entah kapan mulai berpijak
Pada satu kelak
Memberanikan rasa
Masuk ke jiwa

Entah siapa yang memulai
Dalam suatu ketika
Pada hamparan benang terurai
Ketika benak menjejak

Embun penyejuk dahaga
Penuntas ragu
Penyelaras ketidakwarasan
Pembuka pikir

Penguntai senyum
Penyabar
Lawan diskusi
Penenun cinta

Jika
Pengejawantahan asa
Pengandaian ketika
Perupaan harap

Hilanglah hujan
Ketika langit puas menangis
Hilanglah siang
Ketika seisi dunia lelah menjalaninya

Tinggallah
Tanah yang lembap
Malam
Jejak

Posted from WordPress for Android