Percakapan dengan Kartini (2)

Ni, semalam ada yang sedih karena baru mengetahui bahwa kau telah tiada. Anak keriting yang tidak berhenti membuatku terkagum-kagum ini kembali membuatku terhenyak. Sudah 3 hari belakangan ini dia menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini, aku cuma menganggapnya hal biasa karena memang setiap tahun hari lahirmu dirayakan dengan parade baju tradisional dan dandanan tebal di muka anak-anak piyik.

Tahukah kau, Ni, dugaanku salah. Anak keriting yang baru mulai lancar membaca itu ternyata juga sedang memahami makna tiap kata yang ia temukan. Aku memang pelupa, beberapa hari lalu ketika belajar membaca, ia sempat menanyakan arti dari kata yang ia baca. Ketika menyanyikan lagu tentangmu, rupa-rupanya ia juga menelaah tiap kata-katanya.

Malam tadi, seusai menyanyikan lagu tentangmu secara lengkap, ia mulai bertanya “Bu, Ibu Kartini itu sekarang ada di mana?”. Aku mendadak kaget, kemudian menjawab “Ibu Kartini sudah ndak ada, beliau sudah meninggal”. Raut muka anak itu berubah sedih, menautkan kedua alisnya, memonyongkan bibirnya, dan matanya mulai menyorotkan kesedihan karena ditinggal oleh orang yang dikenalnya.

Aku tercekat, Ni. Anak ini tampak ingin sekali menemuimu dan berbincang tentang banyak hal denganmu. Kiranya, hal tersebut menjadi dambaan setiap perempuan di negeri ini, aku juga! Namun, mungkin aku akan malu karena belum berbuat banyak bagi negeri.

Tidak mau kesedihan anak itu berlarut-larut, kujanjikan untuk bercerita tentangmu sebelum ia tidur. Biasanya selalu dongeng, tapi kali ini tentangmu, tentang perempuan hebat yang bersikeras memberikan pendidikan bagi kaumnya.

Ia menagihnya sesaat sebelum tidur, kukira ia lupa. Maka kuceritakan semua tentangmu, baiklah, tidak semua, sebagian saja dan menggunakan bahasa yang ia mengerti. Beberapa kata yang belum ia pahami turut kugunakan dan kujelaskan artinya. Ia mendengarkan secara khidmat, bertanya ketika ingin mengetahui lebih jauh dan mempertanyakan kondisi saat itu. Semoga saja ceritaku tertanam di ingatannya, semoga saja cita-citamu menancap erat di otaknya. Ia tampak termenung ketika aku selesai bercerita. Mungkin malam ini ia akan kembali bertanya tentangmu, Ni. Aku akan kembali bercerita, kapan pun ia mau.

Advertisements

Good Memories

Ceritanya pagi tadi nyelesain nonton film One Day, iya, film Korea.. Berawal dari meninggalnya seorang perempuan yang adalah istri dr tokoh utama (suaminya). Si suami ini ndak menghadiri acara pemakaman, beralasan sibuk. Padahal yang terjadi adalah dia belum bisa menerima kehilangan. Ketika berada di rumah pun, kamar tidur mereka ditutup rapat. Sebelumnya malah dia tidak bisa masuk ke rumahnya. Rasa kehilangan dan sedih yang teramat sangat membuatnya begitu ingin menghindari hal2 yang mengingatkannya akan sang istri. 

Lalu, ia bertemu dengan sesosok hantu wanita yang semasa hidupnya mengalami gangguan penglihatan. Setelah menjadi hantu, malah bisa melihat. Mereka akhirnya berteman dan pokoknya saling mengajarkan hal2 yang baik. Akhirnya tokoh utama dapat membuka kamar yang biasa ditempati bersama istrinya dan memahami bahwa mendiang istrinya tidak perlu dilupakan, berbagai kenangan manis dapat diingat kembali. 

Perjalanan proses berduka yang saya lewati, memang berakhir dengan keputusan bahwa saya hanya akan mengingat kenangan manis tentang mereka yang sudah lebih dulu meninggalkan dunia. Lumayan, saya jadi bisa mengenang sambil tersenyum atau kadang tertawa riang. 

Mereka yang ada di hati tidak akan pernah kehilangan tempatnya, banyak hal yang telah kami lalui bersama dan tidak sepatutnya kenangan tersebut hilang tanpa jejak layaknya butiran hujan yang hilang menguap. 

Seseorang pernah mengingatkan saya dengan berkata “Saya rasa, dia akan lebih senang ketika melihatmu tertawa atau tersenyum ketika mengingatnya, dibanding kamu yang selalu menangis ketika terkenang akan dia.” I guess he’s right. 

May you all rest in peace, dear loved ones.. 

Hujan..

Hari ini hujan. Serupa dengan hujan sebelumnya yang disertai angin kencang, badai cempaka kah?
Hujan lebat seperti hari ini mengingatkan saya pada waktu kecil dulu. Tidak seperti umumnya orang tua yang melarang anaknya bermain hujan, mama saya malah membiarkan dan sering kali ikut main hujan di bagian belakang rumah kami. Tidak ada orang lain yang melihat, karenanya kami bebas bermain hujan sesuka hati.

Turunnya hujan menjadi pertanda bahwa kami akan bersenang-senang dengan air, sesuka hati, hingga kulit keriput dan kami tersenyum sembari menggigil. Biasanya kami akan mulai main hujan ketika sudah deras, kami akan menuju talang air yang terletak di sudut atap dari rumah yang berbentuk huruf L. Tertawa bersama sambil menciprat-cipratkan air.

Seingat saya, papa yang tidak membolehkan kami main hujan. Namun, sejak mama memutuskan untuk berhenti bekerja, ia dapat mengajak kami bermain hujan sesukanya karena papa masih ada di kantor.

Air panas selalu sudah tersedia, jadi kami bisa langsung mandi segera setelah bermain hujan. Setelah mandi, kami akan melanjutkan kegiatan masing-masing. Ada yang menunggu matangnya ikan yang sedang digoreng (ikan hasil tangkapan baba tentu saja), ada yang minum susu, ada yang tertidur.

Kami semua mensyukuri hujan dengan cara menikmatinya ketika jatuh dari awan langsung ke kulit. Kami menyukai hujan karena ingatan kami dipenuhi dengan bermain dengan hujan, hujan identik dengan tawa gembira dan bermain bersama.

Kesibukan membuat kami lupa bermain dengan hujan. Hingga ketika SMP, saya dan teman2 beberapa kelas kompak untuk berjalan sampai rumah sambil hujan-hujanan. Entah siapa yang memulai, yang pasti kami berjalan bergerombol menikmati hujan.

Setelah itu, lamaa sekali saya tidak bermain hujan. Pada suatu ketika, sepulang kuliah, saya kembali bermain hujan. Kuliah di Jatinangor dan tinggal bersama Oma di Cimahi, jauh juga. Tiba-tiba, setelah saya memakai daster putih, saya ingin kembali bermain hujan. Tanpa ragu, saya langsung menuju lantai atas yang terbuka. Saya main hujan!! Oma hanya menggeleng-gelengkan kepalanya ketika saya bercerita bahwa saya telah main hujan di atap.

Jika saya punya anak, akan saya ajarkan untuk mencintai dan mensyukuri hujan. Melekatkan dalam ingatannya bahwa hujan adalah berkah dari Tuhan dan sudah sepatutnya diterima secara gembira. Saya akan mengajaknya bermain hujan, hingga hujan akan identik dengan tawa dan canda. Wah, mesti cari rumah di tempat yang tingkat polusinya tidak setinggi Jakarta ya kalo gitu, biar hujannya juga relatif aman ketika kontak dengan mata dan kulit. 

Me in a choir

Suatu hari, lama setelah konser berlangsung, salah seorang pelatih sekaligus senior sekaligus teman nyanyi saya mengirimkan pesan ini ke grup whatsapp paduan suara kami (Paduan Suara Alumni Unpad):

Teman temin temun temon yang cantik jelita tampan rupawan,

Sabtu kemaren saya ketemuan dengan temen dan ibunya yang nonton konser kita di Jakarta tempo hari.

Cukup mengharukan ibunya berterimakasih berulang-ulang sama saya karena dia merasa sangat terhibur batinnya. Berat ya terhibur batin. Lantaran keluarga mereka belum lama baru kehilangan suami/ayah mereka jadi masih dalam suasana kesripahan. Nah saat nonton konser itu si ibu sangat gembira dan – walaupun mungkin cuma sejenak – bisa lupa sedihnya. Kata anaknya ibunya masih ngomongin tentang konser kita sampai beberapa hari setelahnya. (Kalo sampe sekarang masih sebetulnya aneh)

Kata anaknya pula, ibunya biasanya sangat picky soal tontonan pertunjukan, tapi konser Mana Suaramu Lagi dia luar biasa seneng. Favoritnya tentu saya (karena kenal 😜😜), kemudian lagu Romo Ono Maling, trio, sama “sing nganggo wig kuwi lho, mas”, sama “cah lanang sing nyanyi karo main piano, suarane apik”. Hehehehe…

Secara khusus ibu Hadiono berterimakasih sama kita. “Nek konser meneh tante arep nonton meneh lho, mas.” Gitu katanya…

Seneng ya menularkan kebahagiaan…

Saya kebetulan adalah penyanyi yang sukanya melihat ke seluruh penonton ketika bernyanyi. Memandang semuanya sembari mengeluarkan ekspresi yang senada dengan lagu, inginnya siy seperti sedang berbicara kepada penonton melalui bernyanyi dan menyampaikan jiwa lagu dgn sepenuh hati.

Nah, kebetulan saya juga sempat bertukar pandang dengan ibu yang diceritakan oleh teman saya. Senyum beliau merekah dengan sorot mata yang berkilauan. Tampak sekali bahwa beliau menikmati penampilan kami.

Sebenarnya, bagi saya, momen yang dialami ibu tersebut adalah salah satu prestasi tertinggi bagi saya sebagai penyanyi. Menghilangkan duka meski sesaat, memberi ruang bagi senyum untuk kembali merekah, dan membuat penonton menikmati suguhan kami adalah kesenangan yang luar biasa bagi saya ketika bernyanyi.

Berbicara tentang dunia tarik suara, sebenarnya diawali sejak kecil. Dulu, saya suka sekali bernyanyi mengikuti lagu yang diputar di radio. Bahkan, saya membuat kliping lirik lagu yang biasa saya nyanyikan, sepertinya lagu2 almh. Nike Ardilla turut saya nyanyikan.

Terceburnya saya di wadah paduan suara dimulai ketika saya kuliah. Setahun setelah menjadi mahasiswa baru, saya mendaftarkan diri untuk ikut paduan suara di kampus. Paduan Suara Mahasiswa Unpad. Tidak langsung menikmati dan tidak langsung berambisi untuk menjadi salah satu penyanyi di acara konser tahunan. Setelah 1 tahun bergabung, saya baru mulai daftar tes penyanyi konser, syukurlah lolos. Lalu, vakum setahun, ikut tes penyanyi konser lagi. Kesempatan untuk dilatih privat oleh pelatih utama pun terlewatkan karena waktu kami selalu bertabrakan.

Saya bukanlah penyanyi yang effortless ketika mencapai nada tinggi, pun bukan penyanyi yang pandai merangkai nada ketika dihadapkan pada partitur. Namun, cinta yang sebegitu dalamnya terhadap paduan suara dan kerinduan untuk bernyanyi bersama membuat saya selalu antusias untuk mengikuti konser atau acara nyanyi bersama paduan suara.

Cinta saya tumbuh secara perlahan dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Setelah cinta itu tumbuh, ia akan mengakar sangat dalam di diri saya. Begitulah proses saya ketika mencintai seseorang atau sesuatu.

Note: Saat ini sedang pdkt dgn yoga. Tidak terburu-buru memaksa diri agar jatuh cinta, saya hanya mendekati dan menikmatinya saat ini. Entah akankah ia mengakar nantinya.

Hari Nyepi dan hari nyepi saya

Satu hari yang sepi, terlepas dari segala urusan keduniawian, satu hari yang sepi ketika mengawali tahun yang baru. Nyepi.

Sekilas saya membaca tentang Hari Nyepi, awalnya karena ingin memberikan ucapan yang pas kepada teman yang menjalankan ibadah ini. Setelah membacanya, kok ya ternyata saya juga memiliki satu hari yang serupa dengan Nyepi.

Hari itu adalah hari yang menandai hari pertama saya menghirup udara secara mandiri, hari kelahiran saya. Beberapa tahun terakhir, saya memutuskan untuk mengambil cuti dan mematikan semua gawai, memutuskan hubungan dengan dunia maya dan komunikasi. Saya hanya dikelilingi oleh orang-orang terdekat saya, keluarga.

Pada hari Nyepi, umat Hindu melaksanakan “Catur Brata Penyepian” yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Saya ya tidak melakukan kesemua hal tersebut di hari nyepi (ultah) saya. Namun, saya juga tidak bepergian dan bekerja.

Tidak seperti Hari Nyepi bagi umat Hindu yang memiliki tujuan utama untuk memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuana Agung/macrocosmos (alam semesta), nyepi versi saya bertujuan untuk menikmati menjadi diri sendiri, mencapai kedamaian dengan diri sendiri, mendekatkan diri dengan Tuhan dan orang-orang yang dekat dengan saya secara nyata, dan menikmati hari ini. Semua tujuan lebih berfokus kepada saya sebagai manusia.

Bagi saya, hari menyepi di hari kelagiran memiliki makna dan manfaat yang sangat besar bagi diri sendiri. Satu hari yang terbebas dari hiruk pikuk sosial media yang sering kali tidak penting bagi hidup saya dan sering kali memicu emosi yang menguras energi yang lagi2 tdk penting bagi diri. Di hari nyepi saya, ada kedamaian dan kenyamanan tersendiri tatkala jauh dari keramaian yang tdk penting dan dekat dengan orang-orang yang berarti dalam hidup saya. Hari yang membebaskan.

Tentunya, Hari Nyepi bagi Umat Hindu memiliki arti yang lebih dalam dan berisi doa bagi semesta. Jauh lebih sakral dibanding hari nyepi saya.

Selamat menjalankan Catur Brata Penyepian, semoga Tuhan memberkati semesta di tahun yang baru dan semoga kedamaian senantiasa menyelimuti hari kita bersama.

Ps: Sebelum hari nyepi saya, tentu saja tidak ada pawai ogoh2 di hari sebelumnya. Sangat menarik sepertinya jika ada pawai ogoh2..

image

Grandma in my heart

4 Februari 2014

My beloved grandma passed away.

Oma selalu meminta saya membereskan tempat tidur segera setelah bangun tidur. Hal yang tidak pernah diminta oleh orangtua saya di rumah, tetapi sering saya lakukan. Beliau mengajarkan saya untuk hidup rapih dan bersih. Hal ini juga yang selalu saya lakukan, baik di rumah maupun ketika menginap.

Sebelum sarapan, oma selalu menyuruh saya untuk membersihkan rumah dan halaman depan, kemudian membantunya dengan melakukan hal-hal kecil. Setelah semua selesai, saya baru boleh sarapan. Beliau bilang “Dalam hidup, kita harus bekerja dulu sebelum bisa makan” dan memang begitulah realita hidup yang dijalani manusia ketika mencapai masa dewasa.

Meskipun dapat meminta bantuan orang lain untuk mengurus kartu identitas, oma tetap bersikeras agar saya mengurusnya sendiri. Mulai dari tingkat RT hingga akhirnya kartu identitas tersebut diberikan kepada saya. Beliau mengajarkan saya untuk hidup secara lurus, mengetahui jalur birokrasi, memperlihatkan berbagai karakter orang, dan menolak untuk memberikan “pelicin” guna meminimalisir korupsi.

Mie instan sebenarnya adalah makanan yang mudah dan murah untuk disantap. Namun, mie instan menjadi barang mahal bagi saya ketika tinggal bersama oma. Beliau mengajarkan saya untuk makan makanan yang sehat, sebisa mungkin mempersiapkan makanan sendiri dengan bahan-bahan yang sehat.

Sebisa mungkin, oma selalu memasak pada hari-hari istimewa. Oma mempersiapkan masakan kesukaan bagi mereka yang akan berkunjung atau berulang tahun atau merayakan hari besar. Ketika saya dapat membuat kue, oma akan dengan sangat senang menyuruh saya membuatkannya untuk orang-orang terdekat. Beliau mengajarkan saya untuk memberikan cinta dan kasih sayang yang tulus dan berproses. Dalam mempersiakan makanan, kita akan menjalani beragam proses yang membutuhkan perhatian dan konsentrasi yang utuh, tidak terbagi. Cara terbaik untuk menyampaikan bahwa kita benar-benar menyayangi orang terdekat adalah dengan memasakkan makanan untuk mereka, dengan sepenuh hati.

Oma selalu menerima orang yang berkunjung ke rumah dengan tangan terbuka dan keramahan, meski beberapa orang yang datang tidak memiliki niat yang baik. Oma selalu meminta saya untuk menghormati orang yang lebih tua, memberi panggilan yang tepat (om, mas, tante, dst). Beliau mengajarkan saya untuk menghormati tamu dan orang yang lebih tua, apa pun adanya mereka. Namun, bukan berarti kemudian saya mudah dijahati, banyak kata-kata baik yang dapat kita keluarkan untuk menangani hal jahat sekalipun.

Oma mengajarkan saya untuk menyelesaikan masalah saya, sebisa mungkin, sendiri. Mengajarkan saya untuk berpikir jauh tentang berbagai kemungkinan ketika dihadapkan dengan berbagai pilihan. Beliau membuat saya menjadi pribadi mandiri dan bertanggung jawab terhadap pilihan yang saya buat. Ketika menghadapi pilihan, saya diajarkan untuk berpikir jauh ke depan sehingga dapat mengetahui apa yang mungkin saya hadapi dan bersiap untuk menjalaninya.

Oma menjadi pembentuk kepribadian saya saat ini, sosok yang menyayangi saya dengan caranya sendiri. Beliau selalu senang melihat saya bernyanyi, satu ketika beliau menunggu say di satu saluran TV yang menayangkan saya ketika bernyanyi. Begitu senangnya dia, hingga senyumnya mengembang hingga saya tiba di rumah setelah acara tersebut selesai

Oma menjadi guru kehidupan yang selalu mengajarkan agar menjadi perempuan yang kuat dan tegar. Beliau menunjukkannya melalui kesehariannya, bukan hanya dengan menceramahi.

Saya akan selalu merindukannya.

Love you, always, oma.. 

image

Storytelling with Craig Jenkins

On my first day as a volunteer in a storytelling festival, I met this expressive, funny man named Craig Jenkins.

He starts the session with ‘Say aaaa…. Iiiii… Uuu.. Eee… Oooo… Hey..’ in a funny way. And then he begun to told us bout how to presenting a story with various moves and sounds.

Here’s what I’ve write, I possibly missed one or two things..

SOUNDS

You should make a difference for every characters in your story. So, the audiences can really absorp themselves into the story and rhey’ll remember the characters.

To keep focusing the audiences, ask them to copy the sounds of every characters everytime you mention it names , surprisingly. Give them this instructions ‘anytime you hear the character, you should say how they sounds like.’ So they can really focusing to the stories.

That technique is very useful to keep their focus and attention!!

If you loose their attention, repeat the words more often.

You can presenting each characters by their sounds (continously) or one at a time together.

Anitger way to keep the audiences attention is ask them (in a group) to create the sounds of each characters or the environment (ex. the sea, forest). To give them a chance to have their voice heard. Every sounds is right, there’s no wrong answers. It works well with children.

HAND

This technique will give benefits for the childrens who learns from a different ways, such as hearing, watching, moving their body, etc.

How to do it?

Encourage them to copy your gesture.

Encourage them to create their own gesture.

Takes the one that works well for you. When you do a storytelling, do it in a way its best for you. Whatever comforts you!Dance, sing, different language, comical, etc.

SMELL AND TASTE

Ask the audience to take a role in a scene. Showing how they feel about something (smelling, gesturing). Ask them to participate in a story.

Give them objects and ask them how they feel regarding the objects. Describe the objects and how it feels.  Let them do the act.

As the storyteller, you have to tell the children about every objects or role and makes them believe how it feels (taste, smell, etc.). Bring the characters or objects to live and makes everyone believe it.

The best way to learn is to experience it. So you could come up with a scene where you let the children to act in your show.

For the older children, dont expect much. Just a little sign that they paying attention to you, take the moment.

Poliginy in my eyes

Poligami? Polemik berkepanjangan yang senantiasa mewarnai lini masa di berbagai media sosial jika mulai dibahas kembali.

Let me start with a story of one of my friends. Saya mengenalnya (oke, inisialnya Z) sudah cukup lama dan memang mengetahui bahwa keluarganya menjalani poligami (poligini). Lahir dan besar di keluarga yang memiliki dua ibu dijalaninya dengan biasa saja (setidaknya begitu tampilan yang ia berikan pada saya).

Beberapa bulan lalu, saya mengunjungi kedua rumahnya untuk kali pertama. Kondisinya cukup berbeda, jika dilihat dari segi kerapihan dan kebersihan (saya tidak akan memberitahu which is which, let it be that way). Rumah kedua adalah rumah yang berisi ibu dan adik-adik kandungnya.

Ia bercerita, memang demikianlah keadaannya sejak dulu, ada perbedaan mencolok terkait kerapihan dan kebersihan. Yang menarik dari keluarga ini adalah setiap anak yang bersekolah tingkat SMP hingga SMA pasti akan tinggal di ibu yang kedua karena lokasi rumahnya yang berada di kota. Jadi, semuanya memang harus dapat berinteraksi dengan baik.

Tampaknya damai ya? Memang, karena semua memilih untuk berlaku seperti itu. Namun, dalamnya laut tidak ada yang mengetahui kecuali penghuni dasar laut, bukan?

Ketika saya menghabiskan malam dengan Z, saya merasa penasaran dengan kisahnya (terutama keluarganya). Apakah mereka terbebas dari pertengkaran dan rasa tidak nyaman? Jawabannya, sebagai seorang anak, adalah tentu saja tidak. Beberapa ketidaknyamanan di antara anak sering kali terjadi. Lalu, apa yang anak-anak ini lakukan? Menurut persepsi saya, setelah mendengar beberapa ceritanya, mereka cenderung menekannya sehingga “kedamaian” yang mereka pilih dapat tercipta. Bayangkan, berapa banyak masalah yang “ditekan” agar tidak muncul ke permukaan dan merusak kedamaian.

Pernah juga beberapa kali, orang yang bergelar “pemimpin agama” berusaha mendekati Z dan kemudian melamarnya. Apa yang aneh? Tidak ada, kecuali kenyataan bahwa mereka semua sudah beristri. Kaget? Saya yakin Anda tidak terlalu kaget membacanya karena sedari awal sudah saya paparkan tentang kehidupan keluarga Z. Mungkin para pria itu berpikir bahwa karena Z berada di dalam keluarga yang menjalani poligami maka dia sudah terbiasa dan dapat menerima poligami. Apakah lantas Z menerima atau bahkan mempertimbangkan khitbah tersebut? TIDAK. Dia menolaknya dengan sangat. Mengapa? Bukankah terlihat keluarganya baik-baik saja? Saya, lagi-lagi berasumsi bahwa sebenarnya kondisinya tidak senyaman dan sedamai itu.

Selama ini, yang menjadi perkara dalam pembahasan poligami hanya berkutan pada adilnya suami terhadap dua atau lebih istri. Kenyataannya? Akan ada lebih banyak yang terlibat. Apakah mereka terpikirkan tentang anak? Berapa anak yang akan hadir dalam keluarga yang berpoligami? Dapatkan bapak berbuat adil (bukan semata materi, tapi juga sisi psikologis [terpenuhinya peran bapak bagi setiap anak]) kepada semua? Apakah hal itu mudah dilakukan sehingga banyak pria yang memutuskan untuk berpoligami?

Hebat sekali yang sudah berpikir sepanjang itu dan memutuskan untuk tetap berpoligami. Adilnya sudah setara dengan Nabi. Semoga demikian adanya.

Wanita (An-Nisā’):3 – Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

Tentang Diri dan Tuhan

Tuhan memberi kita cobaan dalam bentuk yang berbeda. Beberapa hari lalu mendapatkan cerita dari seseorang tentang dua orang perempuan yang ia kenal dekat.

Sebut saja C dan D.

Kisah C dimulai dari proses taaruf yang membawanya ke sebuah pernikahan yang harmonis dan memiliki suami yang sabar, penyayang, dan ngemong. Keduanya bisa dibilang pasangan yang serasi dan bahagia. Namun, setelah melewati 6 tahun pernikahan, mereka tidak kunjung diberi momongan. Tidak ada pertengkaran yang terjadi dan suaminya tetap bersamanya serta selalu memberi penguatan positif. Mereka tetap bersama dan harmonis.

Kisah D juga dimulai dengan proses taaruf yang membawanya ke sebuah pernikahan yang cukup jauh dari mimpinya. Ia menikah dengan seorang pria berstatus duda cerai dan berusia sekitar 16 tahun di atas usianya. Perbedaan usia yang cukup jauh membuat komunikasi dan hubungan keduanya sering kali mengalami masalah. Mereka sudah memiliki 1 anak. Fyi, D menikah dengan niat awal untuk terlepas dari keluarganya karena ada masalah yang tidak sanggup ia hadapi. Sering kali berniat untuk bercerai, tetapi D kasihan melihat anaknya jika tidak memiliki bapak.

Ketika mendengar kedua kisah tersebut, saya sempat bingung. Jika saya harus memilih untuk berada di posisi C atau D, yang mana yang sebaiknya saya pilih?

Pernikahan, meskipun masih belum terlalu memahami proses taaruf, saya tidak antipati terhadap proses ini. Mengapa? Karena memang acara “pacaran” yang sekarang menjadi lazim, dapat membawa pasangan menuju zina. Namun, proses taaruf yang tidak melibatkan pengenalan masing-masing calon pasangan, agak absurd bagi saya untuk meneruskan ke jenjang pernikahan.

Pernikahan, bagi saya, adalah satu proses yang dilalui untuk hidup bersama seseorang sepanjang hidup dan karenanya akan sangat penting untuk memiliki tujuan dan cara mencapai tujuan yang sama. Ketika sudah ada visi yang sama dan cara menujunya yang sejalan, barulah tantangan di depan dapat dihadapi dengan saling berpegangan tangan untuk saling menguatkan dan mengingatkan.

Keturunan adalah salah satu (bukan satu-satunya) tujuan dilakukannya pernikahan. Dalam hal ini, prioritasnya akan sangat beragam di antara semua pasangan. Jika terdapat kesepahaman dan pengertian, bukan mustahil untuk terus menjalani pernikahan tanpa keturunan (meski dalam prosesnya mungkin akan ada banyak air mata dan drama).

Tetap saya tidak dapat memilih. Saya hanya meyakini satu hal, yaitu Tuhan mencintai setiap makhluknya. Oleh sebab itu, Tuhan sering kali membuat hambanya menjadi kuat dengan memberikan berbagai cobaan. Bersyukurlah pada setiap hal yang kita miliki dan rasakan karena tidak setiap orang memiliki dan merasakannya.

Eid Mubarak!

Lebaran di rumah saya identik dengan nastar yang kami buat bersama-sama dan ketupat serta masakan yang dibuat oleh mama. Masakan yang selalu ada, selain nastar dan kacang bawang, adalah opor ayam, ketupat, semur daging, serta sambal kentang.

Lalu, ada juga kebiasaan mengantar makanan ke orang yang lebih tua dari orang tua kami, yaitu para paman dan bibi. Dahulu, makanan yang menjadi hantaran adalah masakan yang dibuat sendiri (ketupat dan teman-temannya) yang dimuat di dalam rantang. Di tengah jalan ketika akan mengantarkan makanan tersebut biasanya akan bertemu dengan para sepupu yang bertugas sama.

Namun, kini makanan hantaran sudah berubah menjadi biskuit dan minuman ringan atau sirup (minimal siy dua itu).

Terpikir oleh saya untuk kembali menghidupkan budaya makanan hantaran yang dibuat sendiri, karenanya tahun lalu saya membuat schotel dan cake pisang sebagai hantaran.

Rasa-rasanya ketika saya dan adik-adik sudah berkeluarga nanti, saya akan menghidupkan kembali budaya makanan hantaran buatan sendiri. Mengapa? Karena buat saya, makanan hasil olahan sendiri menjadi simbol rasa cinta dan kasih kepada saudara. Bayangkan saja, sebelum memasak saya pasti memikirkan makanan apa yang kira2 disukai oleh orang yang akan saya buatkan masakan. Setelah itu, mengingat kembali rasa apa yang mereka sukai. Sambil memasak, saya membayangkan mereka memakan masakan saya dan menyukainya.

Yak! Nanti saya maunya diantarkan makanan buatan sendiri yang diwadahi rantang saja lah!