Me in a choir

Suatu hari, lama setelah konser berlangsung, salah seorang pelatih sekaligus senior sekaligus teman nyanyi saya mengirimkan pesan ini ke grup whatsapp paduan suara kami (Paduan Suara Alumni Unpad):

Teman temin temun temon yang cantik jelita tampan rupawan,

Sabtu kemaren saya ketemuan dengan temen dan ibunya yang nonton konser kita di Jakarta tempo hari.

Cukup mengharukan ibunya berterimakasih berulang-ulang sama saya karena dia merasa sangat terhibur batinnya. Berat ya terhibur batin. Lantaran keluarga mereka belum lama baru kehilangan suami/ayah mereka jadi masih dalam suasana kesripahan. Nah saat nonton konser itu si ibu sangat gembira dan – walaupun mungkin cuma sejenak – bisa lupa sedihnya. Kata anaknya ibunya masih ngomongin tentang konser kita sampai beberapa hari setelahnya. (Kalo sampe sekarang masih sebetulnya aneh)

Kata anaknya pula, ibunya biasanya sangat picky soal tontonan pertunjukan, tapi konser Mana Suaramu Lagi dia luar biasa seneng. Favoritnya tentu saya (karena kenal 😜😜), kemudian lagu Romo Ono Maling, trio, sama “sing nganggo wig kuwi lho, mas”, sama “cah lanang sing nyanyi karo main piano, suarane apik”. Hehehehe…

Secara khusus ibu Hadiono berterimakasih sama kita. “Nek konser meneh tante arep nonton meneh lho, mas.” Gitu katanya…

Seneng ya menularkan kebahagiaan…

Saya kebetulan adalah penyanyi yang sukanya melihat ke seluruh penonton ketika bernyanyi. Memandang semuanya sembari mengeluarkan ekspresi yang senada dengan lagu, inginnya siy seperti sedang berbicara kepada penonton melalui bernyanyi dan menyampaikan jiwa lagu dgn sepenuh hati.

Nah, kebetulan saya juga sempat bertukar pandang dengan ibu yang diceritakan oleh teman saya. Senyum beliau merekah dengan sorot mata yang berkilauan. Tampak sekali bahwa beliau menikmati penampilan kami.

Sebenarnya, bagi saya, momen yang dialami ibu tersebut adalah salah satu prestasi tertinggi bagi saya sebagai penyanyi. Menghilangkan duka meski sesaat, memberi ruang bagi senyum untuk kembali merekah, dan membuat penonton menikmati suguhan kami adalah kesenangan yang luar biasa bagi saya ketika bernyanyi.

Berbicara tentang dunia tarik suara, sebenarnya diawali sejak kecil. Dulu, saya suka sekali bernyanyi mengikuti lagu yang diputar di radio. Bahkan, saya membuat kliping lirik lagu yang biasa saya nyanyikan, sepertinya lagu2 almh. Nike Ardilla turut saya nyanyikan.

Terceburnya saya di wadah paduan suara dimulai ketika saya kuliah. Setahun setelah menjadi mahasiswa baru, saya mendaftarkan diri untuk ikut paduan suara di kampus. Paduan Suara Mahasiswa Unpad. Tidak langsung menikmati dan tidak langsung berambisi untuk menjadi salah satu penyanyi di acara konser tahunan. Setelah 1 tahun bergabung, saya baru mulai daftar tes penyanyi konser, syukurlah lolos. Lalu, vakum setahun, ikut tes penyanyi konser lagi. Kesempatan untuk dilatih privat oleh pelatih utama pun terlewatkan karena waktu kami selalu bertabrakan.

Saya bukanlah penyanyi yang effortless ketika mencapai nada tinggi, pun bukan penyanyi yang pandai merangkai nada ketika dihadapkan pada partitur. Namun, cinta yang sebegitu dalamnya terhadap paduan suara dan kerinduan untuk bernyanyi bersama membuat saya selalu antusias untuk mengikuti konser atau acara nyanyi bersama paduan suara.

Cinta saya tumbuh secara perlahan dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Setelah cinta itu tumbuh, ia akan mengakar sangat dalam di diri saya. Begitulah proses saya ketika mencintai seseorang atau sesuatu.

Note: Saat ini sedang pdkt dgn yoga. Tidak terburu-buru memaksa diri agar jatuh cinta, saya hanya mendekati dan menikmatinya saat ini. Entah akankah ia mengakar nantinya.

Hari Nyepi dan hari nyepi saya

Satu hari yang sepi, terlepas dari segala urusan keduniawian, satu hari yang sepi ketika mengawali tahun yang baru. Nyepi.

Sekilas saya membaca tentang Hari Nyepi, awalnya karena ingin memberikan ucapan yang pas kepada teman yang menjalankan ibadah ini. Setelah membacanya, kok ya ternyata saya juga memiliki satu hari yang serupa dengan Nyepi.

Hari itu adalah hari yang menandai hari pertama saya menghirup udara secara mandiri, hari kelahiran saya. Beberapa tahun terakhir, saya memutuskan untuk mengambil cuti dan mematikan semua gawai, memutuskan hubungan dengan dunia maya dan komunikasi. Saya hanya dikelilingi oleh orang-orang terdekat saya, keluarga.

Pada hari Nyepi, umat Hindu melaksanakan “Catur Brata Penyepian” yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Saya ya tidak melakukan kesemua hal tersebut di hari nyepi (ultah) saya. Namun, saya juga tidak bepergian dan bekerja.

Tidak seperti Hari Nyepi bagi umat Hindu yang memiliki tujuan utama untuk memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia/microcosmos) dan Bhuana Agung/macrocosmos (alam semesta), nyepi versi saya bertujuan untuk menikmati menjadi diri sendiri, mencapai kedamaian dengan diri sendiri, mendekatkan diri dengan Tuhan dan orang-orang yang dekat dengan saya secara nyata, dan menikmati hari ini. Semua tujuan lebih berfokus kepada saya sebagai manusia.

Bagi saya, hari menyepi di hari kelagiran memiliki makna dan manfaat yang sangat besar bagi diri sendiri. Satu hari yang terbebas dari hiruk pikuk sosial media yang sering kali tidak penting bagi hidup saya dan sering kali memicu emosi yang menguras energi yang lagi2 tdk penting bagi diri. Di hari nyepi saya, ada kedamaian dan kenyamanan tersendiri tatkala jauh dari keramaian yang tdk penting dan dekat dengan orang-orang yang berarti dalam hidup saya. Hari yang membebaskan.

Tentunya, Hari Nyepi bagi Umat Hindu memiliki arti yang lebih dalam dan berisi doa bagi semesta. Jauh lebih sakral dibanding hari nyepi saya.

Selamat menjalankan Catur Brata Penyepian, semoga Tuhan memberkati semesta di tahun yang baru dan semoga kedamaian senantiasa menyelimuti hari kita bersama.

Ps: Sebelum hari nyepi saya, tentu saja tidak ada pawai ogoh2 di hari sebelumnya. Sangat menarik sepertinya jika ada pawai ogoh2..

image

Grandma in my heart

4 Februari 2014

My beloved grandma passed away.

Oma selalu meminta saya membereskan tempat tidur segera setelah bangun tidur. Hal yang tidak pernah diminta oleh orangtua saya di rumah, tetapi sering saya lakukan. Beliau mengajarkan saya untuk hidup rapih dan bersih. Hal ini juga yang selalu saya lakukan, baik di rumah maupun ketika menginap.

Sebelum sarapan, oma selalu menyuruh saya untuk membersihkan rumah dan halaman depan, kemudian membantunya dengan melakukan hal-hal kecil. Setelah semua selesai, saya baru boleh sarapan. Beliau bilang “Dalam hidup, kita harus bekerja dulu sebelum bisa makan” dan memang begitulah realita hidup yang dijalani manusia ketika mencapai masa dewasa.

Meskipun dapat meminta bantuan orang lain untuk mengurus kartu identitas, oma tetap bersikeras agar saya mengurusnya sendiri. Mulai dari tingkat RT hingga akhirnya kartu identitas tersebut diberikan kepada saya. Beliau mengajarkan saya untuk hidup secara lurus, mengetahui jalur birokrasi, memperlihatkan berbagai karakter orang, dan menolak untuk memberikan “pelicin” guna meminimalisir korupsi.

Mie instan sebenarnya adalah makanan yang mudah dan murah untuk disantap. Namun, mie instan menjadi barang mahal bagi saya ketika tinggal bersama oma. Beliau mengajarkan saya untuk makan makanan yang sehat, sebisa mungkin mempersiapkan makanan sendiri dengan bahan-bahan yang sehat.

Sebisa mungkin, oma selalu memasak pada hari-hari istimewa. Oma mempersiapkan masakan kesukaan bagi mereka yang akan berkunjung atau berulang tahun atau merayakan hari besar. Ketika saya dapat membuat kue, oma akan dengan sangat senang menyuruh saya membuatkannya untuk orang-orang terdekat. Beliau mengajarkan saya untuk memberikan cinta dan kasih sayang yang tulus dan berproses. Dalam mempersiakan makanan, kita akan menjalani beragam proses yang membutuhkan perhatian dan konsentrasi yang utuh, tidak terbagi. Cara terbaik untuk menyampaikan bahwa kita benar-benar menyayangi orang terdekat adalah dengan memasakkan makanan untuk mereka, dengan sepenuh hati.

Oma selalu menerima orang yang berkunjung ke rumah dengan tangan terbuka dan keramahan, meski beberapa orang yang datang tidak memiliki niat yang baik. Oma selalu meminta saya untuk menghormati orang yang lebih tua, memberi panggilan yang tepat (om, mas, tante, dst). Beliau mengajarkan saya untuk menghormati tamu dan orang yang lebih tua, apa pun adanya mereka. Namun, bukan berarti kemudian saya mudah dijahati, banyak kata-kata baik yang dapat kita keluarkan untuk menangani hal jahat sekalipun.

Oma mengajarkan saya untuk menyelesaikan masalah saya, sebisa mungkin, sendiri. Mengajarkan saya untuk berpikir jauh tentang berbagai kemungkinan ketika dihadapkan dengan berbagai pilihan. Beliau membuat saya menjadi pribadi mandiri dan bertanggung jawab terhadap pilihan yang saya buat. Ketika menghadapi pilihan, saya diajarkan untuk berpikir jauh ke depan sehingga dapat mengetahui apa yang mungkin saya hadapi dan bersiap untuk menjalaninya.

Oma menjadi pembentuk kepribadian saya saat ini, sosok yang menyayangi saya dengan caranya sendiri. Beliau selalu senang melihat saya bernyanyi, satu ketika beliau menunggu say di satu saluran TV yang menayangkan saya ketika bernyanyi. Begitu senangnya dia, hingga senyumnya mengembang hingga saya tiba di rumah setelah acara tersebut selesai

Oma menjadi guru kehidupan yang selalu mengajarkan agar menjadi perempuan yang kuat dan tegar. Beliau menunjukkannya melalui kesehariannya, bukan hanya dengan menceramahi.

Saya akan selalu merindukannya.

Love you, always, oma.. 

image

Storytelling with Craig Jenkins

On my first day as a volunteer in a storytelling festival, I met this expressive, funny man named Craig Jenkins.

He starts the session with ‘Say aaaa…. Iiiii… Uuu.. Eee… Oooo… Hey..’ in a funny way. And then he begun to told us bout how to presenting a story with various moves and sounds.

Here’s what I’ve write, I possibly missed one or two things..

SOUNDS

You should make a difference for every characters in your story. So, the audiences can really absorp themselves into the story and rhey’ll remember the characters.

To keep focusing the audiences, ask them to copy the sounds of every characters everytime you mention it names , surprisingly. Give them this instructions ‘anytime you hear the character, you should say how they sounds like.’ So they can really focusing to the stories.

That technique is very useful to keep their focus and attention!!

If you loose their attention, repeat the words more often.

You can presenting each characters by their sounds (continously) or one at a time together.

Anitger way to keep the audiences attention is ask them (in a group) to create the sounds of each characters or the environment (ex. the sea, forest). To give them a chance to have their voice heard. Every sounds is right, there’s no wrong answers. It works well with children.

HAND

This technique will give benefits for the childrens who learns from a different ways, such as hearing, watching, moving their body, etc.

How to do it?

Encourage them to copy your gesture.

Encourage them to create their own gesture.

Takes the one that works well for you. When you do a storytelling, do it in a way its best for you. Whatever comforts you!Dance, sing, different language, comical, etc.

SMELL AND TASTE

Ask the audience to take a role in a scene. Showing how they feel about something (smelling, gesturing). Ask them to participate in a story.

Give them objects and ask them how they feel regarding the objects. Describe the objects and how it feels.  Let them do the act.

As the storyteller, you have to tell the children about every objects or role and makes them believe how it feels (taste, smell, etc.). Bring the characters or objects to live and makes everyone believe it.

The best way to learn is to experience it. So you could come up with a scene where you let the children to act in your show.

For the older children, dont expect much. Just a little sign that they paying attention to you, take the moment.

Poliginy in my eyes

Poligami? Polemik berkepanjangan yang senantiasa mewarnai lini masa di berbagai media sosial jika mulai dibahas kembali.

Let me start with a story of one of my friends. Saya mengenalnya (oke, inisialnya Z) sudah cukup lama dan memang mengetahui bahwa keluarganya menjalani poligami (poligini). Lahir dan besar di keluarga yang memiliki dua ibu dijalaninya dengan biasa saja (setidaknya begitu tampilan yang ia berikan pada saya).

Beberapa bulan lalu, saya mengunjungi kedua rumahnya untuk kali pertama. Kondisinya cukup berbeda, jika dilihat dari segi kerapihan dan kebersihan (saya tidak akan memberitahu which is which, let it be that way). Rumah kedua adalah rumah yang berisi ibu dan adik-adik kandungnya.

Ia bercerita, memang demikianlah keadaannya sejak dulu, ada perbedaan mencolok terkait kerapihan dan kebersihan. Yang menarik dari keluarga ini adalah setiap anak yang bersekolah tingkat SMP hingga SMA pasti akan tinggal di ibu yang kedua karena lokasi rumahnya yang berada di kota. Jadi, semuanya memang harus dapat berinteraksi dengan baik.

Tampaknya damai ya? Memang, karena semua memilih untuk berlaku seperti itu. Namun, dalamnya laut tidak ada yang mengetahui kecuali penghuni dasar laut, bukan?

Ketika saya menghabiskan malam dengan Z, saya merasa penasaran dengan kisahnya (terutama keluarganya). Apakah mereka terbebas dari pertengkaran dan rasa tidak nyaman? Jawabannya, sebagai seorang anak, adalah tentu saja tidak. Beberapa ketidaknyamanan di antara anak sering kali terjadi. Lalu, apa yang anak-anak ini lakukan? Menurut persepsi saya, setelah mendengar beberapa ceritanya, mereka cenderung menekannya sehingga “kedamaian” yang mereka pilih dapat tercipta. Bayangkan, berapa banyak masalah yang “ditekan” agar tidak muncul ke permukaan dan merusak kedamaian.

Pernah juga beberapa kali, orang yang bergelar “pemimpin agama” berusaha mendekati Z dan kemudian melamarnya. Apa yang aneh? Tidak ada, kecuali kenyataan bahwa mereka semua sudah beristri. Kaget? Saya yakin Anda tidak terlalu kaget membacanya karena sedari awal sudah saya paparkan tentang kehidupan keluarga Z. Mungkin para pria itu berpikir bahwa karena Z berada di dalam keluarga yang menjalani poligami maka dia sudah terbiasa dan dapat menerima poligami. Apakah lantas Z menerima atau bahkan mempertimbangkan khitbah tersebut? TIDAK. Dia menolaknya dengan sangat. Mengapa? Bukankah terlihat keluarganya baik-baik saja? Saya, lagi-lagi berasumsi bahwa sebenarnya kondisinya tidak senyaman dan sedamai itu.

Selama ini, yang menjadi perkara dalam pembahasan poligami hanya berkutan pada adilnya suami terhadap dua atau lebih istri. Kenyataannya? Akan ada lebih banyak yang terlibat. Apakah mereka terpikirkan tentang anak? Berapa anak yang akan hadir dalam keluarga yang berpoligami? Dapatkan bapak berbuat adil (bukan semata materi, tapi juga sisi psikologis [terpenuhinya peran bapak bagi setiap anak]) kepada semua? Apakah hal itu mudah dilakukan sehingga banyak pria yang memutuskan untuk berpoligami?

Hebat sekali yang sudah berpikir sepanjang itu dan memutuskan untuk tetap berpoligami. Adilnya sudah setara dengan Nabi. Semoga demikian adanya.

Wanita (An-Nisā’):3 – Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

Tentang Diri dan Tuhan

Tuhan memberi kita cobaan dalam bentuk yang berbeda. Beberapa hari lalu mendapatkan cerita dari seseorang tentang dua orang perempuan yang ia kenal dekat.

Sebut saja C dan D.

Kisah C dimulai dari proses taaruf yang membawanya ke sebuah pernikahan yang harmonis dan memiliki suami yang sabar, penyayang, dan ngemong. Keduanya bisa dibilang pasangan yang serasi dan bahagia. Namun, setelah melewati 6 tahun pernikahan, mereka tidak kunjung diberi momongan. Tidak ada pertengkaran yang terjadi dan suaminya tetap bersamanya serta selalu memberi penguatan positif. Mereka tetap bersama dan harmonis.

Kisah D juga dimulai dengan proses taaruf yang membawanya ke sebuah pernikahan yang cukup jauh dari mimpinya. Ia menikah dengan seorang pria berstatus duda cerai dan berusia sekitar 16 tahun di atas usianya. Perbedaan usia yang cukup jauh membuat komunikasi dan hubungan keduanya sering kali mengalami masalah. Mereka sudah memiliki 1 anak. Fyi, D menikah dengan niat awal untuk terlepas dari keluarganya karena ada masalah yang tidak sanggup ia hadapi. Sering kali berniat untuk bercerai, tetapi D kasihan melihat anaknya jika tidak memiliki bapak.

Ketika mendengar kedua kisah tersebut, saya sempat bingung. Jika saya harus memilih untuk berada di posisi C atau D, yang mana yang sebaiknya saya pilih?

Pernikahan, meskipun masih belum terlalu memahami proses taaruf, saya tidak antipati terhadap proses ini. Mengapa? Karena memang acara “pacaran” yang sekarang menjadi lazim, dapat membawa pasangan menuju zina. Namun, proses taaruf yang tidak melibatkan pengenalan masing-masing calon pasangan, agak absurd bagi saya untuk meneruskan ke jenjang pernikahan.

Pernikahan, bagi saya, adalah satu proses yang dilalui untuk hidup bersama seseorang sepanjang hidup dan karenanya akan sangat penting untuk memiliki tujuan dan cara mencapai tujuan yang sama. Ketika sudah ada visi yang sama dan cara menujunya yang sejalan, barulah tantangan di depan dapat dihadapi dengan saling berpegangan tangan untuk saling menguatkan dan mengingatkan.

Keturunan adalah salah satu (bukan satu-satunya) tujuan dilakukannya pernikahan. Dalam hal ini, prioritasnya akan sangat beragam di antara semua pasangan. Jika terdapat kesepahaman dan pengertian, bukan mustahil untuk terus menjalani pernikahan tanpa keturunan (meski dalam prosesnya mungkin akan ada banyak air mata dan drama).

Tetap saya tidak dapat memilih. Saya hanya meyakini satu hal, yaitu Tuhan mencintai setiap makhluknya. Oleh sebab itu, Tuhan sering kali membuat hambanya menjadi kuat dengan memberikan berbagai cobaan. Bersyukurlah pada setiap hal yang kita miliki dan rasakan karena tidak setiap orang memiliki dan merasakannya.

Eid Mubarak!

Lebaran di rumah saya identik dengan nastar yang kami buat bersama-sama dan ketupat serta masakan yang dibuat oleh mama. Masakan yang selalu ada, selain nastar dan kacang bawang, adalah opor ayam, ketupat, semur daging, serta sambal kentang.

Lalu, ada juga kebiasaan mengantar makanan ke orang yang lebih tua dari orang tua kami, yaitu para paman dan bibi. Dahulu, makanan yang menjadi hantaran adalah masakan yang dibuat sendiri (ketupat dan teman-temannya) yang dimuat di dalam rantang. Di tengah jalan ketika akan mengantarkan makanan tersebut biasanya akan bertemu dengan para sepupu yang bertugas sama.

Namun, kini makanan hantaran sudah berubah menjadi biskuit dan minuman ringan atau sirup (minimal siy dua itu).

Terpikir oleh saya untuk kembali menghidupkan budaya makanan hantaran yang dibuat sendiri, karenanya tahun lalu saya membuat schotel dan cake pisang sebagai hantaran.

Rasa-rasanya ketika saya dan adik-adik sudah berkeluarga nanti, saya akan menghidupkan kembali budaya makanan hantaran buatan sendiri. Mengapa? Karena buat saya, makanan hasil olahan sendiri menjadi simbol rasa cinta dan kasih kepada saudara. Bayangkan saja, sebelum memasak saya pasti memikirkan makanan apa yang kira2 disukai oleh orang yang akan saya buatkan masakan. Setelah itu, mengingat kembali rasa apa yang mereka sukai. Sambil memasak, saya membayangkan mereka memakan masakan saya dan menyukainya.

Yak! Nanti saya maunya diantarkan makanan buatan sendiri yang diwadahi rantang saja lah!

Lika-liku Gojek part 2

Malam kemarin, saya kembali ke Bandung dan mengejar waktu agar tiba di travel tepat waktu. Jadi, saya memutuskan untuk menggunakan jasa Gojek.

Pada artikel saya terdahulu yang membahas tentang Gojek, sempat ada cerita tentang betapa sulitnya driver Gojek untuk menyembunyikan identitasnya agar tidak “dikerjain” oleh driver ojek pangkalan dan kekhawatiran driver Gojek tentang keharusan untuk menggunakan atribut Gojeknya.

Kali ini, driver Gojek sudah memakai jaket dan memberikan helm Gojek. Penasaran, saya bertanya kepada bapak Gojek tentang keamanan mereka ketika menggunakan atribut Gojek dalam memberi pelayanan.

Mengejutkan! Pada awal penggunaan atribut Gojek, salah satu driver Gojek yang pada saat itu sedang membawa pelanggannya, diserang oleh driver ojek pangkalan di depan sebuah supermarket di tengah jalan besar. Ia dikeroyok dan dipukul menggunakan kayu, pelanggannya pun tak luput menjadi sasaran serangan itu. Driver Gojek tersebut akhirnya mengalami gegar otak dan pelanggannya juga mengalami luka-luka.

Setelah kejadian tersebut, sebagian besar driver Gojek melakukan konvoi melintasi jalan yang menjadi tempat kejadian perkara. Bukan, konvoi tersebut bukan bermaksud untuk melakukan serangan balasan. Hanya untuk menunjukkan solidaritas di antara driver Gojek.

Beberapa saat setelah konvoi tersebut, diadakanlah pertemuan antara kepolisian, pihak Gojek, dan para driver ojek jalanan. Singkat cerita, dicapailah kesepakatan untuk tetap bersatu dan tidak saling bermusuhan karena semuanya sama-sama orang Bandung, orang Sunda. Pelaku pengeroyokan pun dipenjarakan.

Kini, driver Gojek dapat melayani pelanggan tanpa rasa cemas dan takut. Perdamaian memang selalu indah dan memenangkan semua.

Sharing the same path

Salah satu dukungan yang dapat diperoleh dari kelompok swabantu (self-help) adalah edukasi. Edukasi terdiri dari informasi praktis, teknik koping yang berhasil, dan “pengetahuan berdasarkan pengalaman” yang dikumpulkan ketika anggota sedang berbagi pengalaman (O’Brien et al., 2008; Psychiatric mental health nursing: an introduction to theory and practice).

Saya menyunting buku tersebut dan memang menggemari ilmu keperawatan jiwa. Namun, memang benar salah satu quote yang pernah saya baca yang mengatakan bahwa seseorang harus mengalami suatu kondisi untuk dapat memperoleh pelajaran dari kondisi tersebut.

Sore tadi, saya sempat berbincang dengan salah seorang rekan kerja di kantor. Guess what? Dia punya pengalaman hidup yang sama dengan saya, ditinggalkan oleh pasangan untuk selamanya (yup.. Meninggal).

Kami akhirnya berbincang mulai dari awal perkenalan dengan pasangan hingga penyebab mereka meninggal. Mulai dari proses berduka hingga akhirnya dapat menerima. Mulai dari kehilangan diri sendiri hingga menemukannya kembali. Mulai dari koping hingga kisah saat ini.

Dia lebih cepat menerima dan mengikhlaskan kepergian pasangannya dibanding saya. Persamaan kami adalah kami dapat bangkit kembali karena Tuhan mempertemukan kami dengan seseorang yang dapat menyadarkan kami untuk tidak lagi meratapi kepergian pasangan.

Saya sibuk bercerita pada setiap sahabat yang saya temui setelah kepergian pasangan dan dia yang hanya berdiam diri dan mengendapkan pikiran dan perasaannya. Saya yang masih saja menganggap pasangan ada (bahkan “berbicara” dengan pasangan) ketika sidang skripsi dan dia yang juga kadang seakan sedang berbicara dengan pasangannya.

Kami mengalami hal yang sama, menghadapi kehilangan yang serupa. Meskipun begitu, saya tetap berpendapat bahwa luka yang sama tidak akan memberikan rasa sakit yang sama pada masing-masing individu. Jadi, tentu saja “rasa sakit” kami berbeda meski “lukanya” serupa.

Perbincangan saya sore tadi mengingatkan saya pada teori (di awal tulisan ini) di buku yang saya sunting. Saling berbagi pengalaman dengan seseorang yang memiliki pengalaman yang sama dengan kita dapat membantu meringankan dan mencari koping yang sesuai bagi diri.

Tanpa meniadakan atau tidak menghargai empati dari semua orang terdekat saya, saya bersyukur karena dapat berbagi dengan rekan kerja saya. Dia melalui tikungan hidup yang sama dengan saya sehingga rasanya dia sedikit banyak dapat mengerti apa yang saya alami.

Saat ini, kami sudah dapat melaluinya, tetapi cinta tersebut tetap ada di hati. Saat ini, kami sudah bertemu dengan orang lain yang dapat mengisi kembali hari-hari kami, teman berbagi, dan semoga menjadi mitra hidup kami (meski dalam kisah saya, kini orang itu tidak lagi bersama saya). Ya, saya bercerita tentang orang yang dapat memahami saya, kamu.

Percakapan dengan Kartini (1)

Dua sore lalu
Aku bertemu dengan dia yang harum namanya
Kartini
Begitu saja aku memanggilnya

Dia datang dengan senyum
Berkebaya lengkap dengan konde yang bersandar di batang lehernya
Jariknya tampak sederhana
Matanya masih sama
Jernih dan cerdas

Ni, begitu aku memanggilnya

Bagaimana kabarmu?
Tanyaku tanpa niat berbasa-basi
Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya
Bahkan, sebenarnya kami belum pernah bertemu

Baik
Ia tersenyum seraya menjawabku

B, bagaimana kehidupan perempuan Indonesia saat ini?
Ia bertanya tanpa pendahuluan lain

Ni, sekarang perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki
Mereka yang haus ilmu tidak lagi menahan dahaganya
Mereka pergi hingga ke mancanegara

Ni, semua orang memiliki hak yang sama utk memperoleh pendidikan
Tidak akan lagi kamu temukan anak yang dilarang bersekolah

(aku mengatur napas. Mulai mengingat kesedihan lain yg hadir di jaman ini)

B!
Saya bahagia mendengarnya
Tahukah kamu, pada jamanku dulu, perempuan diberi batasan
Pelayan atau rakyat pribumi biasa tidak berhak mengenyam pendidikan
Betapa susah saya mengumpulkan orang utk belajar

B,
Saya bersyukur akhirnya semua dapat mencicipi manis dan lezatnya ilmu
Saya bersyukur karena perempuan sudah tidak lagi dibatasi dalam memperoleh pendidikan
Jantung saya rasanya akan meledak karena terlalu bahagia!

(Saya memandang Kartini dengan tersenyum. Namun, akhir-akhir ini kemampuan saya utk berbohong menurun dgn sangat drastis. Saya menampakkan guratan kesedihan)

B,
Tapi mengapa mukamu menampakkan kesedihan?
Bukankah kamu sudah bebas dari belenggu?

Ni,
Saat ini bukan hanya perempuan yang memiliki keterbatasan
Bukan usia
Bukan jenis kelamin
Bukan pula strata sosial
Batas itu bernama kemiskinan dan kelaparan

Tahukah kau, Ni..
Berapa banyak anak yang tidak bersekolah
Bukan karena mereka perempuan
Bukan karena mereka pelayan
Bukan karena mereka tidak sepadan
Tapi karena mereka kelaparan

Kemiskinan telah membelenggu mereka
Bagi mereka, perut lebih utama
Tidak ada kata tidak ketika orangtua memaksa mereka bekerja
Sedari bayi, mereka sudah terbiasa dengan tebalnya asap dan debu, teriknya matahari, dan dinginnya ekspresi wajah

Ni,
Andai kau tahu
Betapa kemiskinan telah memupuskan cahaya asa
Betapa kemiskinan telah mengungkung mereka pada sedikitnya pilihan
Betapa kemiskinan telah menggerogoti kewarasan
Betapa kemiskinan melenyapkan mimpi mereka

Ni,
Dulu di jamanmu
Apakah kau temukan keluarga yang berada di satu tempat
Namun sebenarnya terpisah jauh?
Jaman sekarang, banyak yang begitu
Bapak, ibu, dan anak sudah berada di dunianya sendiri
Tidak ada lagi percakapan di meja makan

Ni,
Pernahkah kau alami,
Ketika kau merengek utk berpiknik dengan keluarga
Ketika tiba harinya, tak kau dapati siapa pun yg bernama keluarga?
Kamu hanya sendiri

Ni,
Saat ini anak-anak Indonesia menghadapi ujian yang nyata dlm hidup
Terabaikan dan dipaksa mandiri
Atau
Dikasihi dan dipaksa mencari nasi

B
Saya tidak mengerti dengan semua ini
Bagaimana bisa keluarga yang berada di rumah yg sama, tetapi saling berjauhan?
Bukankah tanah kita ini subur, mengapa anak2 itu dipaksa mencari makan sendiri?
Bagaimana bisa keluarga tidak lagi saling berbicara?

Ni,
Semuanya nyata terjadi
Saat ini

(kami menangis dalam diam. Sibuk dengan pikiran sendiri)