Racauan

Setelah cerita ke Mama tentang acara jalan-jalan kemarin ke Boscha dan beberapa tempat di Bandung, kok ya terpikir bahwa nanti jika saya memiliki pasangan, saya akan tetap ngetrip dengan pasangan saya.

Gak harus ke tempat yang jauh dan mahal, gak harus pake travel agent (karena bepergian sendiri secara terencana dan disesuaikan dengan keinginan akan lebih menyenangkan, yah, nyasar juga gapapa.. Nyasar itu menyenangkan buat saya), dan gak harus ke tempat yang belum pernah saya kunjungi.

Kenapa?  Karena dengan bepergian ke luar kota bersama, kami akan lebih memiliki waktu untuk lebih dekat dan mengenal. Dapat saling mengingatkan. Oh, dan tentu saja kebersamaan selama 24 jam akan lebih menyenangkan.

Di tengah kesibukan yang menggunung dan tatap muka yang hanya terjadi setelah pulang kerja, bepergian ke luar kota bersama pasangan akan menjadi momen yang sangat berarti.

Ehtapi, karena belum punya pasangan yaaaa ngetrip aja lah bersama teman hahahah.. Itu pun menyenangkan..

Siapa juga yang mau punya cincin yang longgar seperti saturnus..

B

Posted from WordPress for Android

Advertisements

Pillow talk

Ahh, masih mengantuk.. Kemarin, teman kantor saya resign, jadi malamnya kami makan malam bersama dan karaokean.

Baru saya sadari, karaokean itu adalah kegiatan yang membuat kita terlena sehingga tak terasa sudah empat jam kami bernyanyi. Tentu saja senja sudah beranjak dari tempatnya dan digantikan oleh malam. Ah, gawat, waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Rumah saya jauh, di Depok, sementara kami karaoke di Kelapa Gading. Lalu, teman saya yang resign itu menawarkan (sedikit memaksa sebenarnya) saya untuk menghabiskan malam bersamanya. Akhirnya saya setujui karena mata ini sudah tidak lagi sanggup untuk melihat jalan ke Depok.

Kebetulan teman saya yang resign itu membawa mobil. Bagus, jadi kami tidak perlu repot mencari angkutan umum dan saya bisa merebahkan kepala yang mulai terasa berat ini. Setengah jam kemudian kami sampai di rumahnya yang berlantai dua.

Sesampainya di rumah, kami langsung naik ke lantai dua, menuju kamarnya. Alangkah terkejutnya saya, karena area kamar mandi di rumahnya tidak memiliki pintu selayaknya kamar mandi di rumah lain. Area mandinya terdiri kubikel shower, kloset, dan wastafel kecil, sekali lagi, tidak ada pintu!  Area mandi tersebut bersatu dengan tempat rias dan sebuah kaca besar menempel di dinding seberang area mandi. Dan, area tersebut hanya disekat oleh sebuah pintu geser dengan kamar tidur. Oke, pintu gesernya tidak dikunci dan tidak bisa ditutup rapat. Saya terpikir untuk mandi setelah teman saya yang resign itu tidur. Ah, tapi, sekali lagi, mata saya sudah bertambah berat untuk bertahan membuka kelopaknya. Akhirnya saya mandi dengan perasaan was was. Jengah rasanya ketika ada orang mondar-mandir ketika saya melakukan rutinitas aktivitas di kamar mandi (ya, saya memiliki  urutan aktivitas yang saya harus lakukan tiap kali mandi). Ah, sudahlah, saya sudah terlalu lelah. Lucunya, terlintas juga pikiran, mungkin ruangan dengan tata letak seperti ini akan terasa menyenangkan jika dihuni oleh pasangan suami istri. Hahahah sudahlah. Cukup, saya harus mandi cepat-cepat agar teman saya yang resign itu tidak kembali berseliweran ketika saya sedang mandi.

Setelah mandi kilat, kami berbaring di kasur ukuran besar (king size). Saya membaca buku, teman saya yang resign menonton tv. Setelah itu dia meminta saya untuk menghubungkan telepon genggam saya dengan speakernya via Bluetooth. Saya memutar lagu-lagu band Korea, standing egg, yang bernuansa tenang. Lalu, dia mematikan lampu. Mulailah kami berbicara tentang banyak hal.

Dimulai dengan membicarakan kehidupan kantor. Kantor kami itu isinya adalah orang-orang sabar dan setia. Namun, saya tidak akan banyak berbicara tentang mereka dan kantor, argh. Kemudian beranjak membicarakan pasangan masing-masing (well, for me, mantan pasangan karena saat ini sudah beberapa lama saya kembali sendiri. Ah, ga juga siy, saya masih punya keluarga dan sahabat).

Teman saya yang resign (T) ini memiliki pasangan yang lebih muda, jauh di bawah usianya.
T: Gak terasa deh gw udah jalan sama dia selama tiga tahunan.
Me (M): wah, udah lama juga ya. Terus, gimana?  Mau jadi serius gt, maksudnya nikah?
T: Ah, kayaknya ga mungkin deh. Mamanya dia juga kayaknya ga setuju.
M: lah, terus gimana? 
T: Yaa, gak gimana2. Gw siy gapapa kalo dia nyari cewe lain toh kita ga mungkin nikah.
M: Yah, terus gimana kalo dia beneran pergi dan kalian putus?
T: Gapapa. Gw siy ya nerima dan biasa aja kalo dia pergi. Toh selama ini juga kita ketemu gak setiap hari, hanya sekali dalam seminggu. Dan gw baik-baik aja.
M: *menatap tak percaya.. Tapi, pasti gak akan baik-baik saja. Ketemu muka memang jarang, tapi kan kalian ngobrol tiap hari. Kalo tiba-tiba dia pergi, pasti ada rasa kehilangan juga kan. Ada satu tempat yang mendadak kosong. Gak mungkin gak merasa apa-apa.
T: mmm.. Iya siyh ya..  Kita tuh tiap hari pasti cerita sedang apa, lalu kalo gak bisa komunikasi pasti ngabarin kenapa ga bisa ngobrol.
M: Ya kaan.. 
T: Iya, abis dia tuh bisa membuat gw nyaman siy. Usia gw memang gak muda, tapi bukan berarti gw sudah sangat bijaksana sehingga gak pernah melakukan kesalahan. Nah, dia itu bisa membimbing dan ngasih tau kalo gw itu salah menggunakan cara yang bisa gw terima, ga bikin gw sakit hati atau kesal. Mmm, dia membuat gw nyaman.
M: Iya, gw juga gitu waktu sama yang lebih tua. Usia kita beda 18 tahun, hubungan jarak jauh banget, paling ketemu via Skype. Bukan karena tua kan orang bijaksana, nah dia cukup bijak dan bisa membuat gw nyaman juga. Kami sering berdiskusi tentang berbagai isu, ya isu internasional sampe agama karena agama kami berbeda. Yaa, gitu lah, kenyamanan dan sabar serta mampu berdiskusi dengan baik tanpa menyinggung perasaan orang lain. Gw banyak belajar dari dia.
T: Iya, gw juga ngerasa nyaman banget. Dan dia gak malu lho menggenggam tangan gw kalo kita lagi jalan bareng. Maksud gw, dia kan masih muda gitu ya, kok ya ga malu jalan sama gw yang sudah lebih tua gini.
M: Sepertinya dia juga merasa nyaman sama lo jadi susah untuk beranjak ke cewe lain.
T: iya mungkin. Gw sayang siy sama dia, tapi gw ngejalanin dulu aja lah. Gak tau juga ke depannya akan kaya apa.
M: Heu eumh, dijalani dan dinikmati saja yang saat ini diberikan Tuhan ke kita. Jarang juga ada orang yang bener-bener bisa membuat kita nyaman kan. Semoga kalian disatukan hingga akhir nanti. Tidur yuk
T: iya. Udah malem banget niy, besok kita kan kerja.

Malam itu pun diakhiri dengan kami yang melamunkan kisah masing-masing dan akhirnya menyerah pada keinginan tubuh untuk beristirahat.  Ah, cinta..

B

Posted from WordPress for Android