My fear

Saya merasa takut pada diri saya sendiri

Pernah satu ketika
Di kala hari berganti senja
Ada kebaikan yang ingin dibuat nyata
Beberapa tanya telah lelah mendera

Lalu
Kembali saya berbalik pada diri

Saya memiliki kriteria sendiri tentang baik
Kriteria yang membuat saya harus mampu mengendalikan diri
Bagai mengekang diri pada tali yang tidak kasat mata

Kebaikan itu kemudian gagal dibuat nyata
Berbagai rasa berkecamuk di dada

Advertisements

The Scars

Hari ini adalah kali kedua saya melihat parut yang saya duga merupakan bekas luka sayatan dalam upaya mengakhiri hidup. Luka pertama terletak di pergelangan tangan, tepat di vena di bawah telapak tangan. Luka kedua terletak di leher, tepat di garis vena jugular.

Pada luka pertama, mata saya tak henti menatap luka dan mengamati si empunya luka. Menarik, karena saya melihat tanda-tanda kecemasan pada dirinya. Di awal perjumpaan, saya mengamati kuku-kuku jarinya yang terlihat sering digigiti atau dicungkili karena permukaan kukunya tidak rata, cenderung berantakan. Selain kuku, kulit di pinggir kuku juga tak luput dari sasaran, terlihat beberapa pinggirnya dipenuhi oleh kulit yang melenting ke atas, tanda seringnya dikelupas. Tidak berapa lama, perempuan itu mulai melakukan kebiasaannya, menggigiti kuku dan kulit sekitar kukunya. Dia tampak cemas dengan pandangan yang menerawang dan gerakan berulang yang menyakiti dirinya. Mungkin dia menemukan nyaman di sana. Saya sempat menangkap “rasa” yang berkecamuk di pikir perempuan itu. Cukup berat dan terasa menyesakkan rongga paru.

Luka kedua saya temukan pada seorang perempuan juga. Jaringan parut yang akhirnya menandai lehernya, tepat melintas vena jugular, membuat saya menduga dia pernah melakukan upaya bunuh diri. Namun, berbeda dengan yang pertama, saya justru tidak merasakan kuatnya dugaan tersebut. Entah mengapa, saya malah menduganya pernah mengalami tindak kriminal (entah dijambret kalungnya atau diancam menggunakan pisau) yang membuatnya memiliki jaringan parut tersebut.

Dan, lagi, pikiran saya menjurus pada “Mengapa luka tersebut saya lihat pada perempuan? Apa yang telah mereka lalui? Apakah sebegitu beratnya hidup yang mereka jalani?” Tergoda untuk menuliskan kisah mereka yang saya buat, tetapi tampaknya air mata saya akan mengalir deras di tengah proses penulisannya. Mungkin nanti.

Be strong, ladies. Don’t let anything defeats you.

With love,
B

A newly wed couple

Siang ini, well lebih tepatnya seharian ini, seorang teman membicarakan tentang keinginannya untuk memiliki anak. Fyi, dia menikah Desember lalu, jadi ya belum lama juga ya.

Dua senior-senior nikah di kantor mencekokinya dengan pelajaran berhubungan intim (disertai posisi-posisinya). Teman saya siy tidak secara gamblang memberi tahu tentang keinginannya untuk segera memiliki anak atau bertanya tentang teknik berhubungan intim, tetapi senior-senior nikah itu sudah kadung bercerita panjang lebar meski teman saya tidak ingin mendengarnya.

Namun, pada akhirnya, teman saya memang bertanya tentang teknik berhubungan intim ke teman kami yang lain. Lucunya, saya berada di antara mereka dan mereka merasa kasihan atau lucu atau merasa saya belum pantas untuk mendengarkan tentang hal tersebut. Padahal, sejak mereka belum menikah pun saya sudah dimintai konsultasi tentang hubungan intim. Ya, meski memang (seperti yang salah satu teman saya bilang) saya memang belum ahli dalam pengaplikasian topik tersebut. Ya, saya belum menikah dan memutuskan untuk tidak berhubungan intim sebelum menikah.

Saya hanya berkata kepada teman saya untuk rajin mengonsumsi asupan kaya vitamin B. Selain itu, saya menganjurkan pasangan ini untuk menjadi pasangan sehat. Menurut saya, jalan pagi di sebuah taman sambil berpegangan tangan, mengobrol, dan sesekali saling bertatapan dapat memberi banyak keuntungan. Mereka dapat menjadi sehat dan makin memahami satu sama lain. Selain itu, berjalan pagi bersama di taman dapat menjadi salah satu cara untuk memupuk dan mempertahankan keromantisan.

Berbicara tentang apa pun karena di hari kerja, waktu untuk bertemu dan berbincang lebih sedikit dibanding di akhir pekan. Menjadi sehat bersama adalah salah satu harapan saya jika saya memiliki pasangan, saling menjaga dan mengingatkan.

Pikiran yang tenang dan rileks akan membuat tubuh menjadi lebih sehat, bukan tidak mungkin bahwa cara ini dapat membuat mereka segera memiliki keturunan.

Saya jadi membayangkan savasana di taman yang dipenuhi oleh pepohonan. Tenang dan damai rasanya. Hmmm…

With love,
B