Buerger’s disease

Tiba-tiba sore ini saya teringat dengan salah satu penyakit langka yang pernah saya tangani ketika dulu mengambil profesi ners, Buerger’s disease. Pasien yang saya beri asuhan ketika itu adalah seorang guru pendidikan jasmani yang tentu saja sangat memerlukan ektremitasnya untuk mengajar olahraga kepada muridnya. Di ujung jari kaki dan tangan beliau,  terlihat bagian yang menghitam.

image

Sumber foto: http://www.hopkinsvasculitis.org

Buerger’s disease adalah penyakit yang memengaruhi pembuluh darah di lengan dan tungkai. Pembuluh darah akan membengkak, mencegah mengalirnya darah, menyebabkan terbentuknya gumpalan darah. Kondisi tersebut dapat menimbulkan nyeri, kerusakan jaringan, dan bahkan gangren (kematian atau kerusakan jaringan tubuh).

Lalu,  apa saja gejalanya?
Tangan atau kaki akan tampak berwarna pucat, merah, atau kebiruan.
Tangan atau kaki teraba dingin.
Nyeri pada tangan dan kaki; dapat terasa nyeri hebat.
Nyeri yang intens akan terasa pada bagian yang mengalami penyakit.
Nyeri pada betis, tumit, dan kaki; sering kali berlokasi di lengkungan kaki.
Perubahan kulit, luka yang terasa nyeri, dan ulkus pada tangan atau kaki.

Apakah ada kaitan antara Buerger’s disease dengan merokok?
Ada. Ditemukan bahwa hampir semua penderita Buerger’s disease adalah perokok tembakau yang berusia antara 20-40 tahun. Tidak hanya dalam bentuk rokok, tetapi semua produk berbahan dasar tembakau. Orang yang merokok sebanyak 1,5 bungkus atau lebih per hari, cenderung akan mengalami penyakit ini.

Telah dinyatakan bahwa Buerger’s disease adalah reaksi otoimun (yaitu kondisi ketika sistem imun tubuh menyerang jaringan tubuh sendiri) yang dipicu oleh beberapa unsur tembakau.

Penderita penyakit ini paling sering dialami oleh keturunan dari Timur, Asia Tenggara, India, dan Timur Tengah, tetapi jarang dialami oleh keturunan Afrika-Amerika.

Pengobatannya?
Penyakit ini tidak ada obat atau terapi yg dapat menyembuhkannya. Satu-satunya cara untuk mencegah perburukannya adalah dengan berhenti merokok dan berhenti mengonsumsi produk yang berbahan dasar tembakau.

Obat-obatan biasanya tidak dapat mengatasi penyakit ini, paling hanya dapat meredakan gejala yang muncul. Tindakan yang terbaik yang dapat dilakukan adalah mengendalikan gejala.

Tindakan operasi mungkin dapat membantu mengembalikan aliran darah di beberapa area. Tangan dan kaki harus diamputasi jika terjadi infeksi atau perluasan jaringan mati.  

Serem ya?  Lalu, bagaimana cara mencegahnya?
Tentu saja dengan segera berhenti merokok dan tidak menggunakan produk berbahan dasar tembakau. Mudah kan?

Sumber tulisan:
http://www.cdc.gov/tobacco/campaign/tips/diseases/buergers-disease.html
http://www.hopkinsvasculitis.org/types-vasculitis/buergers-disease/

Sehat terus yaaa!!,
B

Posted from WordPress for Android

Advertisements

‘Have to’ versus ‘Want to’

‘Hi, are you Sara from SMA 35?’
‘Yes, rrr, sorry, and you?’
‘I’m Gretta, we were in the speech club when we were in high school’
‘Wait, Gretta? You’re much more thinner now.’
‘Well, a few things has changed now. Why don’t we have a cup of tea on that cafe? So we can talk more?’
‘I’m afraid I can’t, Gretta. Though I would love to. I have to work.’
‘Oh, what a pity. Here, my business card. Call me when you have time, okay?’
‘Yeah, I will.’

I’m not going to talk about the literal differences between the words ‘have to’ and ‘want to’, and, speaking the obvious, it is different. What I want to discuss is the feelings that you will have after saying each of those words.

The words ‘have to’ feels like an obligation to fulfilled the task. What I have in mind when I say ‘I have to’ is this cryptic, heavy weight on my shoulder. If I said ‘I have to’, it, somehow, means that I’m  ought to do it. When I said the word ‘work’, gosh, suddenly I feel so sleepy and tired.

While the words ‘want to’, which I love to use, is telling you that you have the choices to do or not to do the task. It have the feels of freedom and an eagerness to do the task. I tend to feel happy and the spirit is overflowing me, knowing that I have chooses to do tasks on my own will.

Now, can you feel the difference? You should try to use it and feels the difference from saying those two words. I found it interesting, how our feelings can change just by saying the right words. So, do be careful when you say a word.

Gotta go now! I WANT to work 😜

Ps: Thank you, D. For showing me the differences.

Hello sunshine,
B

Posted from WordPress for Android

Bandung-Jatinangor

Memiliki kampus yang terbagi menjadi dua area yang saling berjauhan dan beda kasta, tampaknya menjadi cerita tersendiri bagi kami penikmat Bandung dan Jatinangor.

Jelas, Bandung adalah kota yang memiliki beragam pilihan kesenangan dan keriuhan, sementara Jatinangor adalah suatu daerah yang masuk kawasan Sumedang yang masih terasa aura desanya. Bayangkan saja, tiap sore ada ibu-ibu yang berjualan ubi cilembu, kacang, dan jagung rebus yang semuanya adalah hasil panennya sendiri. Masih terlihat juga sawah dan kerbau, udara di pagi hari juga tidak kalah segar dan dingin dibanding Lembang. Itu, Jatinangor di tahun 2002.

Namun, bagi mahasiswa yang berkuliah di Jatinangor, akan sangat menguntungkan jika mereka mengikuti unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang aktivitasnya terpusat di Bandung, setidaknya masih bisa mengikuti keriuhan kota.

Fakultas saya ditempatkan di Jatinangor, jadi mari membahas tentang area kecil yang tiba-tiba menjadi ramai akibat banyaknya mahasiswa yang berdiam di sana guna mengisi otaknya dengan ilmu yang (semoga) bermanfaat itu.

Jatinangor banyak menyisakan kenangan bagi mahasiswa yang sengaja berjalan melewati bagian dalam fakultas lain agar dapat bertemu gebetan yang didapat ketika menjalani kuliah kerja nyata (KKN), mahasiswa yang sering berpapasan dengan mahasiswa lain yang menarik hati ketika keluar dari kosannya dan kemudian ternyata langkah mereka searah, mahasiswa yang sering nongkrong di gerbang kampus dan ternyata sering makan makanan yang sama dengan mahasiswa lain yang kebetulan berwajah geulis ato kasep, mahasiswa yang memendam cintanya terlalu lama dan berakhir di friend zone saja, serta mahasiswa yang dekat dengan junior atau seniornya dan kemudian berakhir di pelaminan atau kesendirian.

Jatinangor menjadi tempat bertemunya sekumpulan mahasiswa yang akhirnya hingga detik ini menetapkan diri sebagai sahabat. Jatinangor memiliki beragam varian jajanan yang tentunya harganya tidak sampai menghabiskan persediaan uang bulanan yang kadang dikirim terlambat oleh orang tua. Komik dan film dapat disewa guna menghilangkan kebosanan, lumayan lah.

Kami memiliki jembatan cincin dan tanjakan cinta (entah mengapa disematkan cinta di sana. Mungkin ada yang menemukan cintanya ketika berjuang mendaki tanjakan tersebut). Jembatan cicin pada siang hari tampak memiliki nilai sejarah tersendiri serta memunculkan rasa sejuk di hati, malamnya? banyak-banyak berdoa saja jika harus banget melewatinya.

Awal bulan adalah saatnya makan di A3, tempat makan yang hanya menjual soto ayam sebagai main course, dilengkapi dengan es mangga (gelas besar yang diisi potongan mangga kotak2, air gula, dan es yang entah mengapa selalu dirindu serta dinantikan kehadirannya). Ada juga ayam bakar Ciseke yang hanya menjual ayam bakar dan tempe serta tahu, tetapi selalu diserbu. Belum lagi jajanan yang selalu saya rindukan es bubur sumsum yang porsinya bisa buat makan siang tanpa main course dan lumpiah basah AA Puloh (siapa sebenarnya AA Puloh ini? Apakah masih AA2 atau sudah Om2 atau bahkan Aki2? Masih menjadi misteri tersendiri bagi saya).

Sambil membayangkan nongkrong di gerbang kampus, menikmati memori di kampus, dan ngacai membayangkan jajanan Jatinangor, saya sudahi dulu sampai di sini.

B

Posted from WordPress for Android

Another point of view

Heum, abis baca tulisan ini https://mynameispuu.wordpress.com/2015/09/26/kapan-nyusul/ tadi..  Gaya bahasanya lucu dan kental sekali menyuratkan kejombloan beserta segala kisah pilu nan menerbitkan sunggingan cengiran.

Menyoal tentang kejombloan, sepertinya masih musim untuk merasa galau saat ini. Apa sebab? Karena banyaknya undangan pernikahan yang diterima benerapa bulan belakangan. Apakah fenomena pernikahan ini berkaitan dengan akan datangnya musim hujan?  Ah, lupakan saja teori ngawur saya tersebut.

Penulis blog tersebut, yang adalah teman saya, mengungkapkan kenelangsaannya ketika mendapat berbagai pertanyaan terkait jodoh. Mungkin dia juga sudah terpikir untuk menjalin hubungan serius untuk kemudian menikah.

Saya juga masih single, but I’m not alone. Ada keluarga, sahabat, dan  beberapa teman yang dapat mengakomodir keinginan saya untuk bercerita dan menggila. Jadi, gini, most of them who called themselves as jomblo sering merasa sedih dan iri ketika melihat pasangan yang sedang jalan bareng, atau ketika temannya bercerita tentang apa saja terkait pasangannya. Dan saya bingung, kenapa mesti sedih atau iri melihat orang lain bahagia?

Selama ini saya selalu memiliki teman untuk sekadar nonton atau nongkrong, bahkan bercerita tentang apa pun yang melintas di kepala saya. Dan saya sangat bersyukur karena Tuhan memberi saya orang2 terdekat yang saya cintai, sahabat2 saya (adik saya juga adalah sahabat saya). Saya nyaman dengan keberadaan mereka.
Mengapa harus merasa sedih? Bukankah Tuhan yang Maha Baik telah menjanjikan kita akan mendapatkan pasangan yang sesuai dengan kebutuhan kita? Masa gak percaya Tuhan siy? Namun, memang kita juga mesti berupaya sembari menanti. Bergerak karena dengan diam tidak akan ada pergerakan.

A little romance won’t hurt, jadi jangan takut juga untuk memulai kisah baru karena masih trauma dengan pengalaman yang lalu. Kita gak akan pernah tau ke mana kita akan dibawa oleh takdir.

Bertemulah dengan orang2 baru, dengan tujuan menambah teman dan wawasan. Jangan terlalu terbebani dengan pikiran untuk segera mendapat pasangan.

Sementara itu, mari menikmati hidup dan kesendirian. Toh, sebenarnya kita tidak pernah benar2 sendirian, kecuali kalo kamu anak kos yang setiap malam yo mesti sendirian di kasur yang selalu setia menanti itu. Well, setidaknya ada kasur dan bantal yang menemani.

Sekian lintasan percakapan monolog di kepala saya. Semoga kereta ini segera sampai di tempat tujuan sehingga saya bisa segera bertemu denganmu, pecel. 

Posted from WordPress for Android